Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD227. Permintaan untuk pergi


__ADS_3

Ada hal, yang membuat Gibran selalu takut pada bang Daeng. Yaitu, tatonya. Ia selalu mengklaim, bahwa bang Daeng adalah penjahat.


"Bisa private gak ini, Pah?" ujar bang Daeng yang bisa aku tangkap.


"Nanti. Abis pada makan." mas Givan yang menjawab itu.


"Iiiii ee Bang nyek." Chandra muncul dari arah belakang, tanpa menggunakan celana.


Otomatis, pusaka turunan dari mas Givan itu terekspos jelas.


"Waduh, waduh! Bujang Ane." mas Givan merentangkan tangannya, Chandra langsung berlari ke arahnya lalu memeluk ayahnya dengan tawa lepas.


Tumben apa Chandra begitu lengket pada ayahnya.


"Warisan keliatan ini, Boy. Mari kita sembunyikan dulu. Kita karungin pusaka dari Yayah." ia bangkit, kemudian membawa Chandra ke lantai atas.


"Ayah... Ikut." si ikal paling besar langsung mengekori ayahnya.


"Ayo." mas Givan berbalik untuk menggandeng tangan anak pertamanya.


Papah Adi sudah mencuci tangan di wadah, "Ayo, kita ke depan aja."


"Gak perlu, Pak. Biar Saya yang mundur. Udah jelas kok, aku udah tau segalanya sekarang. Tadi aku cuma mastiin aja, benar gak Lendra pulangnya ke sini. Ternyata benar, kabar-kabar yang aku dapat pun benar adanya." Putri terbata-bata saat mengatakannya.


Putri lalu bangkit, ia berjalan ke arah ruang tamu.


Namun, yang membuatku tak percaya. Suamiku malah ikut paniknya saja.


Ia bangun, "Put... Dengerin dulu. Putri..." ia mengikuti Putri, tangannya hendak mencandak tangan Putri.


Sungguh, aku tidak percaya melihat reaksinya.


Aku, mamah Dinda dan papah Adi lang bergegas ke ruang tamu. Aku bisa melihat dengan jelas, bang Daeng yang mencekal tangan Putri.


"Lendra, kamu jahat!" isakan Putri terdengar kembali.


Ia membuang pandangannya. Sepertinya, ia amat kesal dengan bang Daeng.


"Maafin aku, Put."


Aku melotot tak percaya, bang Daeng malah memeluk Putri begitu erat.


Aku mendapat rangkulan. Cepat-cepat aku mendongak, terlihat wajah tegas papah Adi tengah memandangku.


"Tenang." papah Adi berkata sembari menepuk-nepuk pundakku yang dirangkulnya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, kemudian memilih untuk menikmati perlindungan ini. Aku yakin papah Adi pun tak mungkin bersyahwat, mamah Dinda pun tak mungkin cemburu.


"Put.... Kau tau kondisi aku. Aku akan tepati janji, masanya Canda siap melahirkan nanti."


Ya Allah, inikah kebenarannya?


"Gak. Aku gak sudi nerima kamu, Lendra!" Putri melepaskan pelukan suamiku.


"Buka mata kamu!!! Meski kelak kita menikah untuk cerai, dengan imbalan yang akan kamu dapatkan dan dengan dokumen yang aku terima. Tapi gak pantas, kamu sakiti banyak pihak begini." Putri menunjuk-nunjuk wajah bang Daeng.


"Nyatanya dengan itu aku stabil dan dokumen yang kau mau aman." sahutan bang Daeng begitu lantang.


"Ohh, jadi dengan sarang walet yang pindah ke tangan kamu kelak. Kamu pikir, ekonomi kamu akan stabil?"


Putri mendengus kasar, "Tidak semudah itu, Lendra. Saat usaha di tangan keluarga aku stabil, belum tentu terjadi hal yang sama di tangan kamu."


"Daerah apa alamat rumahnya ayahnya Lendra, Canda?" mamah Dinda mengutak-atik ponselnya.


"Banda Aceh, jalan Ulama Besar, nomor dua ratus tiga puluh empat." jawabku bergetar.


"Ya, Bang. Alamatnya jalan Ulama Besar nomor dua ratus tiga puluh empat." mamah Dinda berbicara dengan ponselnya.


Aku tidak percaya ini.


"Mohammad Yusuf." jawabku dengan menegakkan punggungku.


"Mohammad Yusuf, Bang. Asli Makassar dia."


"Hmm... Ya, Bang. Mertuanya Canda. Ya, tolong mintakan KTP Canda sama Lendra. Minta kartu keluarga, sama buku nikah. Bilang, untuk keperluan cerai."


"Mah... Aku gak mau cerai." bang Daeng buru-buru menimbrungi percakapan mamah Dinda.


Mamah Dinda memberi telunjuknya untuk bang Daeng, ia menggerak-gerakkan telunjuknya ke arah pintu.


"Ya, Bang." mamah Dinda menyelesaikan panggilan teleponnya.


Lalu ia baru fokus pada bang Daeng. Tatapan begitu nyalang. Aku akui, mereka terlalu ikut campur. Tapi aku sadar, aku tak akan berdaya menghadapi kenyataan ini.


Aku menutup mataku, memeluk dan meminta perlindungan raja di rumah ini. Bagaimana keutuhan rumah tanggaku setelah ini?


Aku ingin bahagia.


Aku ingin memiliki keluarga yang utuh.


Aku ingin mendapat kasih sayang yang sempurna.

__ADS_1


"Pergilah kau, Lendra! Penuhi tujuan kau hidup. Percuma kau hidup bareng Canda, bareng anaknya, tapi kau punya pikiran buat ninggalin mereka untuk impian kau. Meski dia tak berjodoh sama anak Saya, tak berjodoh sama kau, dia tetap anak Saya, tetap menantu Saya, tetap keluarga Saya. Tak usah kau pikirkan, masalah dokumen kau. Bulan depan, mungkin surat duda udah sampai di rumah ayah kau. Bukan asal daerah yang Saya salahkan, bukan didikan dan nama baik keluarga yang Saya salahkan. Tapi kesalahan ini, ada di kita yang terlalu lama pergi. Kalau dari awal kita tak pernah pergi, tidak mungkin ada cerita Canda pisah sama sulung kita, tidak ada ceritanya dia pergi dari rumah terus ketemu kau."


Mamah Dinda menangkupkan kedua tangannya di depan dada, "Terima kasih, sudah sudi menjaga Chandra dan Canda selama ini. Terima kasih, sudah menjaga dan menampung mereka di luar sana. Semoga kebaikan kau, akan berbalik ke diri kau sendiri. Terima kasih untuk segala-galanya. Silahkan keluar dari rumah ini. Selamat jalan, hati-hati."


Aku menggigit bibir bawahku sendiri. Aku tak ingin menangis. Aku tak ingin menangisinya. Aku tak ingin menangisi keputusan ini.


Aku harus mengerti, ini yang terbaik untukku.


"Mah..." suara bang Daeng masih aku dengar.


"Saya bukan kerabat, ataupun keluarga kau lagi. Pergilah semau kau, kau bebas sekarang." suara mamah Dinda begitu tegas.


Aku tersedu-sedu, nafasku sudah tak beraturan. Aku semakin erat memeluk raja di rumah ini.


"Dek Canda...." aku tersakiti mendengar panggilan itu.


Papah Adi membenahi tempatku bersandar. Kini, aku memeluknya begitu erat. Aku bisa menyembunyikan wajah burukku di dadanya.


"Dek... Abang begini untuk masa depan kita, masa depan anak kita. Maaf, kalau cara Abang salah. Maaf, selalu nyakitin Adek."


"Udah, Lendra! Kata-kata kau cuma bikin tambah sakit. Pergilah tanpa pamit. Pergilah tanpa penjelasan apapun." suara tegas mamah Dinda terdengar lagi.


"Mah... Biar aku ngomong sama Canda dulu." suara itu begitu memohon.


"BUAT APA???!!!" bentakan itu cukup membuat janinku kaget.


"Papah antar ke kamar. Anak kau bisa pindah ke p*n*a* nantinya, kalau terus dengerin Mamah kau murka." ucap papah Adi lirih.


Sepertinya, beliau pun merasakan gerakan di perutku.


"SAYA BERIKAN TEMPAT BERTEDUH. SAYA ARAHKAN USAHA KAU. SAYA BERI KAU UPAH TIAP BULANNYA. SAYA TAK KEBERATAN NAMPUNG KAU. SAYA BERESKAN NAMA KAU. TAPI, NAMPAKNYA ITU TAK CUKUP UNTUK KAU. SANA, PERGI!!! CARI KECUKUPAN HIDUP KAU SENDIRI! HASIL PENJUALAN APARTEMEN KAU, NANTI SAYA KIRIM KE AYAH KAU. SAYA, TAK MAU TAU-TAU LAGI TENTANG KAU! TAK PERLU PUKIRKAN ANAK! TAK PERLU PUKIRKAN KEBUTUHAN ANAK KAU! DATANGLAH, MASANYA ANAK KAU MINTA DIKAWINKAN. PERCUMA, HARAPIN KAU BERUBAH. ORANG LICIK, YANG SELALU PENUH RENCANA DAN IMPIAN, TAK LAYAK UNTUK JADI PASANGAN HIDUP ANAK DAN KERABAT SAYA. MANUSIA YANG TAK PERNAH MAU BELAJAR! MANUSIA YANG PERNAH MAU PAHAMI ORANG DI SEKITAR. MEMANG TAK PANTAS, TINGGAL DI RUMAH INI. PERGILAH, KEJAR KEINGINAN KAU! PERCUMA PELIHARA KUCING LIAR KEK KAU!!! BUKANNYA JADI JINAK DAN BERMANFAAT, TAPI MALAH BIKIN MELARAT! SERAKAH! TAMAK!" mamah Dinda berteriak dengan suara yang tidak stabil.


Aku mengintip ke samping kiriku, untuk melihat wajah beliau.


Batinku teriris. Mamah Dinda memaki ayahnya janinku dengan mata yang basah. Bibirnya bergetar, dengan punggung tangan yang sesekali mengusap air matanya.


"Udahlah, Mah." ayahnya Chandra datang, ia langsung memeluk ibunya. Ia adalah manusia, yang paling menyayangi ibunya.


"Anda berbicara seperti ini. Banyak yang Anda katakan. Intinya saja, memang meminta Saya pergi, agar Canda bisa kembali ke anak Anda."


Perdebatan ini begitu sengit. Bang Daeng berani meninggikan suaranya pada mamah Dinda.


...****************...


Seru nih 🙄 tapi perjanjian crazy up hari senin 😌

__ADS_1


__ADS_2