
"Abang gak paham, bahwa itu adalah proses berkembang biak. Pernah kan Abang bilang? Bahwa Abang pun gak paham, kalau air Abang itu bisa bikin hamil. Pas pertama kali Abang lakuin, Abang panik tuh, karena Dikta berdarah. Terus, Abang pun ngerasa sakit pas kencing. Belum pandai Abang cari informasi, tanya ke orang pun gak berani. Nah, dari novel mamah Dinda lagi Abang tau kalau lepas perjaka itu memang sakit pas kencing setelahnya. Karena batang Abang kan dijepit tuh, otomatis kulit batang tertarik ke belakang. Lubang kencing pun ikut melebar, karena tarikan itu."
Oh, aku baru tahu kalau laki-laki pun kesakitan saat lepas perjakanya.
Aku manggut-manggut mengerti, "Terus Dikta langsung hamil?" tanyaku kemudian.
"Gak." bang Daeng menggeleng cepat, "Barulah beberapa bulan setelahnya, Dikta bilang sakit kalau mainan kek gini tuh. Udah gak enak lagi, udah gak geli lagi. Abang juga gak paham, bahwa di dalam rahimnya udah ada anak Abang. Makanya Dikta ngerasa sakit, karena mulut rahimnya ditabrak terus, sedangkan ada janin di dalamnya." terangnya kemudian.
Ia menghirup udara lebih banyak, "Terus datanglah itu orang tuanya, minta tanggung jawab, nyerahin Dikta juga." bang Daeng langsung memangkas ceritanya.
"Terus, kok bisa Dikta dapat Ferdi?" ini yang belum terkuak.
"Ferdi itu punya trauma juga. Kisah cintanya ditinggal pasangan terus. Entah sih pacarnya meninggal, terhalang restu, terhalang keyakinan, terhalang benua, yang terakhir tunangannya hamil bukan sama dia. Tunangannya mundur, dia ngaku kalau dia hamil sama laki-laki lain. Down di situ, drop, masuk rumah sakit. Gak makan sampai lemes betul badannya, sampai dia gak doyan nasi. Seorang dokter ahli kejiwaan, dia gak bisa menanggulangi sendiri tentang kejiwaannya. Dia itu kalau liat nasi, kek liat setan. Padahal disakiti perempuan, tapi traumanya ke nasi. Rutin kah ke psikiater, terus udah doyan nasi lagi, dia langsung nikah sama Dikta."
__ADS_1
Aku baru tahu, bahwa seorang dokter kejiwaan pernah mengalami trauma juga. Kok bisa hal itu terjadi?
"Iya, kenapa bisa sama Dikta? Apa cuma pelarian aja kah? tanyaku kemudian.
"Dia dari awal jadi dokter, sampai sekarang sama Dikta terus. Secara gak sadar, dia ngerasa kehilangan waktu Dikta jauh. Kek Abang sama Adek tempo hari, waktu Adek tukar tugas itu." di akhir kalimatnya, ia langsung merangkulku.
"Main yuk? Adek di atas." senyumnya begitu merekah.
"Gak mau aku, Bang." aku langsung menolaknya.
"Kenapa? D*ggy waktu itu gak mau, sendok gak mau, masa muter-muternya misio*aris aja?" aku langsung menunduk, mendengar komplain bang Daeng.
Kami baru satu bulan menikah, tapi bang Daeng sudah mengatakan keberatannya. Aku harus bagaimana? Aku bukan orang yang suka mencoba hal-hal baru.
__ADS_1
"Abang bosan ya sama aku?" aku merasa memang bang Daeng sudah seperti ini.
"Ngomongnya bosan-bosan terus. Coba deh, pahami dari sudut pandang lain. Udahlah, gak jadi ngajakinnya." ia turun dari tempat tidur.
Ia berjalan ke ruangan lain.
Aku sudah coba memaklumi dan tahu diri. Aku pun sudah bertekad untuk mau mencoba hal baru. Namun, semakin hari sepertinya bang Daeng semakin menuntut.
Sebenarnya, di sini siapa yang salah?
...****************...
Canda susah diajarinya. Tapi sebenarnya, maunya Daeng Lendra ini apa?
__ADS_1