Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD21. Kebuasan bang Lendra


__ADS_3

"Kau tak tau ceritanya, Bang." bukannya aku membela diri, dari tindakanku memilih meninggalkan suamiku.


"Memang. Tapi....."


"Tuh, Chandra. Bikin panik aja, ngilang gimana sih?" ucapan bang Lendra terputus, karena kehadiran kak Anisa secara tiba-tiba.


"Udah ketemu, Kak. Dibawa Bang Lendra tadi, tapi dia tak bilang-bilang." terangku padanya.


"Dih... Gimana coba kamu ini, Bang!" kak Anisa masuk melewatiku, yang masih duduk tepat di pintu kamar.


"Ambilkan itu kuncinya di yang punya kos! Udah pengen dari tadi, malah ditinggal nyanyi." bang Lendra melirik kak Anisa yang masuk ke kamar mandi.


Pengen apa memangnya?


Kak Anisa pun tak menyahutinya.


Kak Anisa sudah kembali dari kamar mandi, tetapi bang Lendra yang malah pergi ke luar.


Hmm, membingungkan mereka ini.


"Rese gak bang Lendra sama kamu?"


Aku menggeleng cepat, karena dari tadi pun kami hanya mengobrol.


Lalu kak Anisa berjalan ke luar, dengan aku yang membilas wadah bekas makan Chandra. Sedangkan Chandra, aku biarkan dia bermain-main di atas tempat tidur.


"Abang besok pergi lagi, Nis. Malam prepare, istirahat full, jadi cepatlah. Nanti lagi jauh, malah bilang kangen."


Pasti bang Lendra mengira kek Anisa berada di dalam sini.


"Dek... Anisa...."


Kami berpapasan, saat aku akan ke luar dari dapur. Sedangkan dirinya akan masuk ke area dapur kecil ini.


Banyak plastik yang ia bawa.


"Obat Chandra di deket kasur tuh! Nih, makanan buat kau. Baru sarapan aja kan tadi? Sekarang udah jam empat sore, kau harus makan lagi."


Sarapan pun jam setengah dua belas, wajar aku masih kenyang sekarang.


"Mana Enis?" tanyanya lagi, sebelum aku berlalu pergi.


"Tak tau, Bang. Tadi ke luar."


Ia hanya mengangguk, sembari mengeluarkan isi plastik tersebut.


"Dek... Dipanggil bang Dendi tuh." kak Anisa menegurku, saat aku hampir merebahkan tubuhku di tempat tidur.


Aku mengangguk, lalu bangkit dan hendak berjalan ke luar kos ini.


"Ehh." kak Anisa menahan bahuku.


"Diajak aja Chandranya. Aku soalnya mau mandi."


Aku mengangguk kembali, berbalik untuk menggendong Chandra.


"Gak usah mandi. Abang udah nunggu dari tadi." bang Lendra menimbulkan kecurigaan untukku.


Aku bergegas menuju ke kos bang Dendi, meskipun aku malu dengan kejadian tadi.


"Kenapa, Bang?" aku langsung mengeluarkan suaraku, karena pintu kos bang Dendi terbuka lebar.


"Di sini aja dulu." ia menepuk tempat tidurnya.


Di depan rak TV, ada seorang wanita yang tadi. Ia tengah mencharge baterai ponselnya, dengan memainkan ponselnya.


Terdengar pintu kamar kak Anisa dikunci. Jelas terdengar, karena memiliki gantungan kerincing yang menimbulkan suara.

__ADS_1


Aku menurunkan Chandra, membiarkannya merangkak menghampiri bang Dendi.


"Nikah enak, Dek. Bisa punya anak nanti kita." ucap bang Dendi, sembari mencolek pinggang wanita yang memunggunginya tersebut.


Chandra tengah sampai di hadapan bang Dendi. Ia menepuk-nepuk kaki bang Dendi, lalu pahanya terangkat. Ia mencoba bangun dari posisinya.


"Belum nikah aja, aku yang ngasih makan kamu Bang. Gimana nanti nikah?"


Aku beradu pandang dengan wanita tersebut, lalu kami terkekeh kecil.


"Ya namanya juga lagi belum ketemu rezekinya ya, Dek Canda?"


Aku mengangguk, kala bang Dendi mengatakan hal itu.


"Tapi, Dek. Yang penting tuh niat. Abang belum mapan, tapi niat serius ada. Coba kau di posisi Enis. Bang Lendra mapan, tapi tak niat. Tuh, begitu kan jadinya!" ungkap bang Dendi, mencoba menarik lengan wanitanya. Ia sepertinya tidak suka dipunggungi wanita tersebut.


Wanita tersebut ternyata peka, ia merubah posisi duduknya.


"Jangan ngomongin orang, kalau kita sendiri juga sama."


Sepertinya mereka ini sepasang kekasih.


Terdengar suara seperti tepuk tangan. Suara kulit yang basah, tengah beradu.


Aku familiar dengan suara ini.


"Tuh, sebentar aja udah masuk." bang Dendi tertawa seorang diri.


Mungkin ia mentertawakan suara tersebut.


"Pacaran kah, bang Lendra sama kak Anisa ini?" tanyaku kemudian.


"Bukan. Pacar bang Lendra, ada di kampungnya." ujar wanita yang belum aku kenal tersebut.


"Kok Kakak tau?" karena aku di sini tidak tahu apa-apa.


"Terus kak Anisa?" aku bergulir memandang bang Dendi, yang tengah bergurau dengan Chandra.


"Enis yang naksir."


Ohh, aku mengerti sekarang.


Pantas saja semalam, kak Anisa begitu tertarik membahas tentang bang Lendra.


Aku baru paham. Ternyata fungsi k*ndom rasa durian, yang sempat dikatakan oleh bang Lendra. Rupanya untuk kegiatannya dengan kak Anisa.


Aku merasa, mereka memang saling menyukai.


Karena bang Lendra pun membahas, tentang kak Anisa yang menjadi FWB dari beberapa teman prianya. Bang Lendra terlihat sangat tidak suka, saat ia melontarkan pernyataan itu.


Suara erangan berat laki-laki, terdengar sampai di tempat ini. Suara kak Anisa merintih pun, sampai menembus telingaku.


Duh, aku jadi meremang.


"Nangis Enis." celetuk bang Dendi, dengan merebahkan tubuhnya bersama Chandra.


Jam tidur Chandra acak-acakan, karena semalam ia tertidur pukul dua belas lebih.


Memang suara kak Anisa, seperti tengah menahan tangis.


Apa cara bermain bang Lendra itu kasar?


Belum juga habis spekulasi tentang pemikiranku sendiri.


Suara kulit yang ditampar keras, membuat kami bertiga saling memandang.


"Ughhhh... Abang..." suara kak Anisa begitu lepas, mungkin dirinya yang ditampar tadi.

__ADS_1


Duh, aku jadi memikirkan yang bukan-bukan. Aku malah teringat kejadian pemer*osaanku dulu. Itu saja, membuatku trauma sampai sekarang. Untungnya, bang Givan menyadari itu. Ia tidak pernah bermain kasar, apa lagi sampai menampar-nampar kulitku, ketika sedang berhubungan. Meski memang, terkadang kurang pemanasan.


Kebutuhan biologis yang mengerikan menurutku ini. Karena suara kulit yang ditampar kuat, menembus ke telingaku beberapa kali. Belum lagi, kak Anisa yang selalu merintih menyebut nama bang Lendra.


Apa laki-laki itu begitu buas?


"Gak mentok, gak d*sah." ujar wanita yang tengah bermain ponsel di hadapanku ini.


"Kalau main di kamarnya sendiri pun, sampai terdengar ke sini. Enisnya lagi, ketagihan betul keknya sama barangnya bang Lendra. Tau dirinya kewalahan sama na*sunya bang Lendra juga, tapi ngeladenin terus."


Bang Dendi memutar MP3 dalam ponselnya, mungkin ia terganggu dengan suara itu. Atau mungkin, agar Chandra tak mendengar suara tidak sopan itu.


"Mungkin skillnya bang Lendra yang bikin nagih." tambah wanita tersebut.


"He'em, Kak. Skill itu menunjang betul, meski ukurannya kurang cocok."


Mereka berdua malah tertawa, saat aku melontarkan kalimat itu.


"Pengalaman rupanya kau." cetus bang Dendi dengan menunjukku, sembari tertawa puas.


"Bukannya kek gitu, Bang. Panjang, tapi skill kurang jago. Ya percuma juga, cuma dapat sakit aja."


Karena aku merasakan sendiri.


Bukannya mas Givan kurang jago, aku yakin pengalamannya begitu luas. Hanya saja, mas Givan sering bermain langsung. Itu jelas membuatku kesakitan dan kewalahan.


"Den... Belikan Fuladic cream. Sama aku pinjam baju ya? Bos nelpon, ada rapat dadakan."


Kami tertegun hebat, saat melihat orang yang tengah kami bicarakan tiba-tiba berada di sini.


Memangnya sudah selesai?


Aku malah memikirkan kegiatan mereka, yang baru saja dimulai itu.


"Lecet?" satu pertanyaan ke luar dari mulut bang Dendi.


"He'em." bang Lendra sibuk mengobrak-abrik lemari bang Dendi.


"Gagah doang, tapi cuma tahan dua menit." ledek wanita, yang aku kira adalah kekasih bang Dendi tadi.


Bang Lendra melirik wanita itu, "Belum keluar, keburu bos nelpon."


Pantas saja wajahnya terlihat tegang dan menahan sesuatu. Ia belum merasakan tuntas rupanya.


"Aku bawa celana panjang hitam, sama kemeja hijau tua ini." bang Lendra menunjukkan pakaian yang berada di tangannya.


"Nih uangnya, buat beli salepnya Enis." ia mengeluarkan selembar uang dari sakunya.


Wanita itu menerima uang tersebut, karena bang Chandra tengah duduk di atas perut bang Dendi.


"Jangan kasar coba! Sampai lecet gitu, tampar-tampar segala." ujar wanita itu para bang Lendra.


"Gemes kalau liat p*n*at montok."


Bang Lendra menoleh padaku, kemudian mengedipkan sebelah matanya genit.


Apa maksudnya?


Kenapa ia melontarkan padaku.


...****************...


Masih ingat bentuk badan kakak ipar yang dipanggil duck sama Gibran 😆


Jangan salah kira dulu ya, Kak. Ada sangkut pautnya mereka ini untuk Canda nanti.


Berikan dukungan terbaik kalian ya 😉 biar author semangat terus lanjutin cerita ini 🤗

__ADS_1


Tap ❤️ kak 😅 biar dapat notifikasi, jika novel ini udah up.


__ADS_2