Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD266. Gagal joging


__ADS_3

Raka bertandang kembali ke tempatku. Ia duduk di tempat yang Ardi duduki semalam. Wajahnya begitu lesu, ia seperti kurang tidur.


"Raka... Kau carilah perempuan lain aja. Mungkin itu jalan keluar satu-satunya."


Ia memandangku lurus, "Kau tak ada rasa kah sama aku? Apa kau juga keberatan dengan permintaan sepuluh keturunan itu? Aku kira, kau pengen juga punya keluarga besar."


Aku meliriknya sekilas. Aku tidak tega melihatnya, tapi bagaimana lagi?


"Ya, aku keberatan."


"Oh gitu? Jadi ini keputusan kau?" suaranya tidak bersahabat.


Aku bisa melihat jakunnya naik turun. Sorot kecewanya begitu kentara sekali.


"Ini di luar pemikiran hidup aku, Raka. Kalau memang kau ingin nambahin jumlah keturunan aku, janganlah nuntut sampai harus sepuluh. Aku keberatan, aku hamil itu payah, aku hamil bakal tidur melulu. Nanti anak-anak aku siapa yang urus? Terus... Apa kau bakal talak aku? Kalau aku tak mampu kasih sepuluh keturunan buat kau." aku berkata serius padanya.


"Jaman sekarang ada bayi tabung, Canda. Tak ada yang tak mungkin."


Aku paham atas ucapannya. Ia menuntut harus aku berikan sepuluh keturunan tersebut.


Aku menangkupkan kedua tanganku di depan dada, "Aku minta maaf, aku tak bisa ngasih banyak keturunan buat kau."


Dengusan nafas begitu kasar, "Baik, Canda. Aku paham. Permisi!"


Langkah kaki langsung terdengar menjauh.


Aku membuang nafasku, menyandarkan punggungku pada sofa. Aku menatap langit-langit ruangan ini, aku membayangkan bagaimana sulitnya bersantai ketika seluruh anak-anakku yang berjumlah sepuluh tengah menangis secara bersamaan.


Sepuluh adalah jumlah minimal. Bisa bertambah, jika aku masih dalam usia produktif.


~


Dua hari kemudian, mamah Dinda tengah berkunjung ke kamarku. Entah angin apa, yang membawanya sampai naik ke lantai tiga ini.


"Tetangga pada ngomong, ada Nmax merah parkir di pintu belakang pas malam minggu. Siapa itu? Ghifar kah?" ia tengah melihat-lihat isi kamarku.


Tetangga, adalah CCTV.


"Ghifar Nmax hitam, Mah." aku bangkit dari tempat tidur.


Aku memberikan Chandra ponselku. Sedangkan Ceysa, tengah dibawa jalan-jalan oleh Winda dan Ghava.


"Jadi siapa dia?"


Mamah Dinda menoleh padaku, yang duduk di sofa kamar.


"Ardi, adiknya Zuhdi."


Baru juga aku memikirkan untuk menyampaikan hal ini. Ehh, beliau sudah mendatangiku saja.


Mamah Dinda melangkah ke arahku. Lalu ia duduk di sampingku.


"Serius?" alisnya naik sebelah.


"Ya, Mah. Dia minta serius."


Mamah Dinda terkekeh, lalu ia menepuk bahuku.


"Maksud Mamah, kau ngomong serius kah? Bukan dia minta serius atau tak."


Aku tertawa samar, "Iya, Mah. Aku ngomong serius. Ardi minta dikenalin ke teungku haji, sama ke ibu. Dia juga minta, minggu depan aku dibawa ke sana. Kalau anak-anak mau, sekalian bawa anak-anak katanya."


"Ceritanya gimana, bisa kau kenal sama dia?" mamah Dinda menepuk punggung tanganku.


Aku menarik nafasku. Aku mulai menceritakannya dari awal, masa aku dikenalkan dengan Ardi. Aku menceritakan semuanya, hingga kejadian malam minggu Ardi berkunjung juga.

__ADS_1


Mamah Dinda manggut-manggut, "Coba aja besok ajak dia ke rumah Mamah. Mamah samar juga sama adiknya Zuhdi yang laki-laki ini, lama sih tak pernah kumpul keluarga."


"Jam berapa, Mah?"


"Sore aja, abis ashar." mamah Dinda bangkit, "Mamah mau main ke Giska. Bosen di rumah." ia berjalan menghampiri Chandra.


"Bang... Ikut Nenek yuk? Temenin main ke Hadi." mamah Dinda membujuk cucu mahalnya.


"Mau apa?" Chandra hanya melirik neneknya, lalu ia fokus kembali pada ponselnya.


"Mau main, jajan."


"Mau..." Chandra langsung meninggalkan ponselku.


Ia bergegas menghampiri neneknya.


"Ayo." mamah Dinda langsung menggandeng tangan Chandra.


"Bawa dulu, Dek. Oh, iya. Besok yang jagain toko, udah bisa kerja. Tekanin lagi Rianya, kau bilang ini buat pengalaman hidupnya. Papah untuk daftar, pendidikan kursus cuma enam bulan aja kok." mamah Dinda berlalu pergi.


Ria akan mengikuti kursus menjahit selama enam bulan. Tadinya, aku menyanggupi menjaga toko. Namun, ternyata aku bukanlah manusia super. Aku kesusahan untuk menyusun gas-gas yang besar, apa lagi yang baru datang.


Jika menyusun gas yang baru datang dari truk, aku menyuruh kuli angkut barang yang dibayar empat puluh ribu. Itu adalah upah pasaran, kulinya pun meminta dibayar empat puluh ribu saja.


Untuk menjaga toko ini. Mamah Dinda menyuruh cek Iyak, adiknya Ituk. Usianya mungkin sekitar tiga puluh lima. Ituk adalah orang yang bekerja untuk menjaga toko material milik mas Givan.


"Ya, Mah." aku memilih untuk berbenah kamar dulu.


Mainan Chandra dan juga Ceysa berceceran di sini.


Setelah kamar rapih, aku memilih untuk berbenah di ruangan lain. Aku pun membersihkan dapur.


Sudah beres semua.


Aku kembali ke kamar, untuk beristirahat sejenak. Mumpung ini adalah hari kebebasanku. Bebas untuk beberapa jam saja.


Aku melirik ke nakas, untuk melihat jam. Pukul setengah dua belas siang, ia sudah beristirahat dari pekerjaannya.


Ada undangan dari kawan. Minggu depan nanti, temani aku kondangan ya?


Ia menyertakan foto undangan pernikahan temannya tersebut.


Ardi Fadhlan, di tempat.


Oh, jadi nama panjang Ardi adalah Ardi Fadhlan?


Insya Allah. Nanti sore disuruh ke rumah papah Adi, lepas ashar aja.


Aku langsung memberitahunya.


Bawa apa ya enaknya? Aduh, aku deg-degan.


Zuhdi pernah mengatakan, mungkin aku bukan wanita pertama untuk Ardi. Tapi kenapa ia bisa deg-degan?


Fokus kerja aja dulu. Bawa apa-apanya, tanya bang Adi aja Bang.


Balasku kemudian.


Okeh, Dek. Isoma dulu.


Aku hanya membaca, tak berniat membalasnya.


Jika memang benar Ardi orangnya. Semoga kegagalan tidak menyelimuti hubungan kami lagi. Sudah cukup dua kali kegagalan dalam hidupku, semoga tidak ada lagi kegagalan yang sama.


~

__ADS_1


Hari-hari begitu terasa cepat. Tidak terasa, ini sudah tiga bulan saja aku menekuni pendekatan dengan Ardi.


Sudah dikenalkan dengan papah Adi dan mamah Dinda.


Sudah dikenalkan pada ibu dan Ria.


Aku pun sudah dibawa berkenalan dengan orang tuanya, yang sebelumnya sudah aku kenal.


Anak-anak pun sudah kenal dekat dengannya.


Orang tuanya bisa menerima cucu yang sudah berwujud tersebut.


Chandra dan Ceysa sudah diajarkan memanggil abu.


Sekarang, tinggal mempertanyakan kesungguhan hatiku dan hatinya.


Itulah rumitnya menyatukan dua hati dan dua keluarga.


"Sebetulnya mau ke mana?" aku kedatangan Ardi di minggu pagi ini.


"Tak tau." urat wajahnya terlihat lelah.


"Jalan kaki kah?" aku tidak melihat motornya terparkir.


"Rencananya sih ngajakin joging ini tuh. Tengok lah penampilan Abang."


Aku memandangnya dari atas sampai bawah. Ia memakai setelan yang pantas dan pas, ditambah sepatu olahraga yang terlihat bukan barang murah. Ya menurutku, itu kisaran ratusan ribu. Soalnya ada juga sepatu olahraga asal, yang kisaran puluhan ribu saja.


"Tapi baru ingat ada anak. Nanti kesannya kek lari dikejar angsa. Kita duluan di depan, dua anak ngintilin di belakang."


Aku cekikikan, mendengar ucapannya itu.


"Ya udahlah, ikut sarapan aja di rumah. Aku sendirian, sama anak-anak." aku membuka tralis pintu ini lebih lebar.


"Ke mana ibu sama Ria?" ia masuk, lalu melepas sepatunya.


"Nemenin Ria ujian di kota sebelah." aku mengunci tralis dan pintu kayu kembali.


"Kok ditutup?"


"Di lantai dua aja. Anak-anak lagi pada mainan sambil liat TV. Aku harus matengin sarapan dulu, terus baru ke atas. Abang coba temani mereka dulu." aku berjalan ke arah dapur kembali.


"Memang tak buka toko?" ia malah mengikutiku ke dapur.


"Toko buka jam delapan lah. Ini masih setengah enam." aku fokus pada komporku kembali.


"Ria ujian apa sih?"


Aku menoleh ke arahnya. Ia tengah bersandar pada kusen penghubung, dengan memperhatikan aktivitasku.


"Jahit lah. Kek ujian tengah semester gitu, nanti pas enam bulan diuji lagi. Baru berangkat mereka jam lima lebih lima belas pagi tadi, di anter papah Adi."


"Ya udah, Abang ke atas dulu ya?"


"Okeh." aku meliriknya sekilas.


Ia berlalu pergi menuju tangga.


Syukurlah, ia tidak memperhatikan aktivitasku lagi. Jika diperhatikan terus seperti tadi kan, jantungku yang tak aman.


Beberapa saat kemudian, aku membawa hasil masakanku ke lantai dua.


Aku akan makan bersama Ardi, yang minta dipanggil bang Ardi. Dengan Chandra, Ceysa dan juga Zio.


...****************...

__ADS_1


Cuma sarapan ya?


Bilang Ardi, cuma sarapan ya gitu 😌 jangan makan yang lain.


__ADS_2