
...Crazy Up...
...Semoga senantiasa masih menunggu-nunggu cerita ini....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ghifar memandang mamah Dinda penuh harap. Ia sampai masuk ke dalam kamar ini, dengan membawa segudang bujukan.
"Biar Mamah tetap di sini." keputusan mamah Dinda tidak bisa diganggu.
Ghifar menghela nafasnya, "Ya udah, Mah. Nomornya diaktifkan, biar aku bisa hubungi Mamah."
"Nanti aja, Mamah masih pengen tanpa HP." mamah Dinda memilih untuk duduk di tepian ranjang sepertiku, setelah ia membukakan pintu untuk Ghifar tadi.
"Sih Mamah bisa kabar-kabaran sama laki-laki tadi?" aku menyerobot pertanyaan, saat Ghifar sudah membuka mulutnya.
"Kan bisa pakai email. Pakai laptop Mamah tadi."
Ah, benar juga.
"Ya udah, Mah. Kami rombongan pamit, tapi kami pasti datang lagi buat jemput Mamah." Ghifar memeluk mamah Dinda.
Mamah Dinda mengusap punggung lebar Ghifar, "Iya. Langsung pulang aja, yang lain tak usah pamit. Mamah tak mau keluar dari kamar."
Apa mamah muak dengan papah Adi?
Benar-benar kami keluar dari rumah ini, tanpa diantar oleh mamah Dinda. Aku bisa melihatnya, mamah Dinda melihat kami semua pergi dari jendela kamar.
Aku yakin, hati dan perasaannya tidak baik-baik saja.
Hingga kejadian yang tidak terduga. Kondisi papah Adi benar-benar drop, setelah mengunjungi mamah saat itu. Kini, ia sudah satu bulan lamanya di rumah sakit.
Berat badannya hilang, hingga tulang pipinya begitu menonjol. Ia hanya bisa terbaring, dengan memperhatikan jendela ruangannya yang menggunakan stiker buram.
__ADS_1
Ditambah lagi, suamiku tidak kunjung pulang. Mas Givan mengirimkan uang rutin setiap tiga hari sekali lewat Ghifar. Bermaksud, agar aku tidak usah pergi terlalu jauh dari rumah.
Ia masih mengemban tanggung jawab yang besar, untuk membereskan semua masalah yang datang sejak Putri menghubungi mas Givan saat itu. Ya, saat aku yang menerima panggilan teleponnya.
Aku ingin tidak berprasangka jelek padanya. Namun, nyatanya bencana kebakaran itu datang. Setelah sehari Putri menghubungi nomor mas Givan kembali.
"Nih, makanan. Orang hamil tuh, jangan stay di rumah sakit aja. Takut kena sawan bayinya, Kakak Ipar." ujar Ghava, setelah ia datang dengan menyerahkan beberapa kantong plastik padaku.
"Memang kau ada waktu buat jaga papah? Kalau kau mampu jaga, aku tak melulu ada di rumah sakit. Nyatanya, anak-anaknya pada sibuk sendiri." aku berbicara pelan, dengan menatap kesal pada Ghava.
Aku heran di sini. Kenapa anak-anaknya tidak ada yang mau bergilir untuk menjaga ayahnya sendiri? Apa sekarang, mereka semua berpihak pada mamah Dinda?
Jika memang papah Adi bersalah. Harusnya mereka sebagai anak, tidak ikut menghakimi kesalahan papah Adi.
Jika tidak dengan anaknya, papah Adi akan dengan siapa?
Istrinya?
Istrinya jelas-jelas lebih memilih hidup sendiri.
Aku hanya bisa diam, saat mengetahui kondisi sebenarnya.
"Debit dan tabungan atas nama papah itu, diblokir sepihak sama yang punya kuasa. Kalau aku tak kerja, Ghavi tak kerja, kita bakal terlalu merepotkan bang Ghifar. Zuhdi tak mungkin kita tarik, untuk biaya patungan ini. Tanggung jawab Zuhdi, cukup ke Giska. Giska kecukupan dan bahagia aja itu udah penuh tanggung jawab Zuhdi. Suami kau apalagi. Dia bahkan langsung matikan telepon dari kita, kalau udah nyebut papah. Jangankan diminta untuk patungan biaya, untuk basa-basi nanya kabar pun, suami kau enggan betul cakap-cakap sama kami." Ghava berbicara dalam nada pelan, mungkin agar papah Adi tidak mendengar.
Tapi benarkah mamah Dinda memblokir sepihak semua keuangan papah Adi? Apa beliau tidak tahu, bahwa suaminya di sini sekarat? Aku tidak percaya, mamah Dinda setega itu. Secara tidak langsung, mamah Dinda membunuh papah Adi dengan perlahan.
"Kita harus ke Lhokseumawe lagi." aku ingin membujuk mamah Dinda sekali lagi.
"Coba kau scroll-scroll sosial media ibu mertua kau. Ada di mana dia? Lagi ngapain dia? Percuma kita datang ke Lhokseumawe juga, orangnya lagi liburan." Ghava menghempaskan alas duduknya di sampingku.
Aku tidak menjawab ucapan Ghava. Aku langsung mengetikkan nama Adinda pada salah satu sosial mediaku yang berlogo lensa kamera.
Ketemu.
__ADS_1
Sayangnya, kenyataan ini membuatku kecewa.
Mamah Dinda tengah berpose dengan senyum bahagianya, dengan dua laki-laki dan empat perempuan. Dress indahnya tertiup angin dari depan, saat ia berpose di foto tersebut.
Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20553. Lokasi yang berada di bawah nama akun mamah Dinda.
Kampung Ladang Outbound, menjadi keseruan mamah Dinda dengan teman barunya. Ya mungkin, mereka teman barunya. Aku hanya menebak saja.
Foto yang diunggah beberapa jam sebelum foto mamah Dinda yang memakai dress tersebut, menjadi bukti keseruannya di sana. Celana stretch hitam, kaos hitam panjang dan kerudung hitam yang basah, menyatu dengan pelampung yang berwarna merah itu.
Aku tidak mengerti kenapa beliau asik berlibur, dengan keadaan suaminya yang terus melamun sepanjang hari ini. Aku merasa kecewa secara tidak langsung, melihat keadaan mamah Dinda yang berbanding terbalik.
Ghava bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah ayahnya dengan membawa kripik tempe dalam kemasan modern.
"Main-main sama suhu, Pah. Tak mati disantet, kita mati perlahan Pah. Makan yang banyak, hap-hap, biar lekas sembuh, terus tarik betinanya pulang. Perempuan-perempuan badung kek gitu, mesti aja diseret." Ghava duduk di kursi di depan brankar papah Adi.
"Mamah masih haknya Papah loh. Begini terus Papahnya, gimana caranya biar mamah bisa pulang? Cuma Papah yang bisa bawa mamah pulang. Bujuk rayu kita, udah tak mempan. Jangan sampai surat cerai diantarkan lebih dulu, sebelum Papah jemput mamah." Ghava lancar berbicara, degan mengemil kripiknya.
"Misal Papah dibuat jadi dudanya mamah. Asli, yakin seratus persen. Tak ada yang mau sama Papah nanti. Apalagi si Bilqis kemarin itu."
Aku melihat bola mata papah Adi bergulir ke arah anaknya. Beliau sepertinya ingin menjawab ucapan anaknya itu.
"Kenapa?"
Apa? Papah malah bertanya kenapa? Apa beliau benar-benar sudah berpikir untuk menjadi duda?
"Papah tak punya apa-apa. Mungkin pulang dari sini, Papah bakal tinggal sama aku."
Aku sudah tiga hari tak pulang menjaga papah. Apa selama tiga hari itu, banyak yang terjadi di rumah megah?
"Mamah tak mungkin sekejam itu." suara tegasnya begitu lemah.
"Nyatanya begitu, Pah. Token rumah Papah habis, aku sampai tak bisa isikan." jawab Ghava, dengan menepuk pinggirannya brankar itu.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tak mampu belikan kah? Atau ada.....
...****************...