
"Kalau memang Canda udah janda. Mau dia balik sama Saya, mau dia ngejanda selamanya, itu udah jadi urusan Canda pribadi. Bukannya kau, yang bikin rumah tangga kau runyam begini? Nikahin, hamilin, tinggalin, datang lagi, bikin masalah lagi, ninggalin lagi. Terlalu lama kau bikin panjang cerita ini. Aku paham, ada jenis manusia kek kau ini. Memang ada, yang mengulur-ulur dan merunyamkan rumah tangganya sendiri. Cuma, udah ajalah. Toh, Canda ngejanda juga pasti dia bisa cari makan sendiri. Keluarga Saya juga tak mungkin tinggal diam, Saya juga tak mungkin diam aja liat anak Saya kelaparan." mas Givan yang alot mulutnya, ikut bersuara.
Bang Daeng maju, urat-urat lehernya begitu menonjol. Pasti giginya bergemeletukan di dalam mulutnya.
"Dari awal masuk ke rumah ini, aku gak pernah tenang. Ditambah lagi ada kau di sini. Maksud kau apa juga? Seolah geser posisi aku buat Chandra? Dari cerita Canda, kau ini dulu gak kek gini ke anak kau, tapi sekarang kau kek gini. Kau kentara kali, kalau memang ngajak aku bersaing." suara bang Daeng begitu datar, tetapi mengerikan.
"Aku ayahnya Chandra, aku ayah biologisnya. Kalau memang penilaian Canda tentang aku ke Chandra itu jelek, mungkin dia memang belum kenal bagaimana sifat aku. Aku tak pernah geser posisi kau. Bahkan, bukan cuma kau yang dianggap orang tua buat Chandra. Di sini banyak orang tuanya, aku pun tak merasa tersaingi. Aku sekarang dekat dengan Chandra, karena lama aku tak ketemu dia, nanti pun aku bakal ninggalin dia lagi dalam waktu lama. Kau tak tau, gimana aku dekap dia, aku ciumi dia masa dia datang dijemput Ghifar. Karena cara aku memang begitu, aku orang yang kek gitu. Bukan maksud hati, rebut posisi kau." mas Givan menunjuk dada bang Daeng, "Kalau masalah kau tak tenang. Itu karena kau banyak bohong. Kau takut kebohongan kau terbongkar. Maksud kau apa ngomong kek gitu? Kau pikir, rumah ini penuh penjahat? Yang ada, adik bungsu aku selalu ketakutan, tiap liat pria bertato ini." mas Givan menunjuk-nunjuk wajah bang Daeng.
Aku baru tahu hari ini, ternyata mas Givan adalah orang yang seperti itu. Ia tak pernah menunjukkan kasih sayangnya, karena ia adalah jenis manusia yang seperti itu. Namun, kasih sayangnya akan terlihat untuk bisa dikenang. Karena ia akan lama jauh dari anaknya.
"Jangan tarik masalah lain, untuk lupain tentang masalah kau ini. Cepat pergi lah kau, Lendra! Kau ini udah diusir!" aku yang berada di pelukan papah Adi, tentu bisa mendengar dengan jelas pengusiran yang papah Adi berikan.
"Okeh! Keluarga sombong! Liat aja nanti! Aku akan bawa balik anak istri aku. Sekalipun surat cerai udah sah, sekalipun aku udah jadi dudanya Canda, dia tetap pasangan hidup aku. Aku akan datang, buat bawa keluarga kecil aku. Ingat itu!!!" bang Daeng menatap kami satu persatu.
Aku semakin bringsut, kala tangannya terulur dan akan menyentuh kepalaku. Namun, papah Adi langsung menepis tangan bang Daeng.
"Okeh." bang Daeng membalikkan tubuhnya, lalu keluar dari rumah ini begitu saja.
"Kau pulanglah juga, Put! Jangan terlalu lama bertamu." mas Givan yang memberi perintah itu.
"Ya, maaf. Udah ngacauin keadaan di sini. Saya permisi."
Aku kini beralih ke pelukan mamah Dinda. Aku bisa melihat Putri yang masuk ke kamar tamu, lalu keluar dengan membawa tas jinjingnya.
"Yuk tidur. Mamah temani, tidur di kamar Mamah." aku dibawa masuk ke kamar utama di sini.
Di dalam kamar, aku sudah menutupi wajahku dengan bantal guling. Air mata ini tak kunjung berhenti.
Ternyata orang yang meratukan diriku, begitu tega menyakitiku. Memilih untuk menikah dengannya, bukanlah hal yang melengkapi kebahagiaanku.
__ADS_1
Senyum teduhnya, sorot matanya, sikapnya, begitu kentara sekali bahwa ia mencintaiku. Namun, di balik itu semua. Terdapat kelicikan yang begitu merusak kebahagiaanku.
Ia mencintaiku, tetapi ia tidak menyayangiku.
Ia menginginkan hidup denganku, karena cintanya. Tetapi ia ingin juga hidup dengan perempuan lain, karena hartanya.
"Ndhuk.... Jangan ngebatin aja. Tidur. Istirahat. Besok kamu akan ngerasain suasana hati yang lebih baik." aku tidak tahu kapan ibu masuk.
"He'em. Tak usah terlalu dipikirkan. Sakit lambung nanti." tambah mamah Dinda.
"Kok malah sakit lambung?" suara ibu seperti terheran-heran.
Aku segera mengusap air mataku. Lalu memilih duduk, dengan memeluk bantal guling ini.
Ibu duduk di tepian tempat tidur, dengan mamah Dinda yang duduk di tengah-tengah tempat tidur.
"Ya, abis kena lambungnya terus tinggal darahnya rendah. Terus heboh satu rumah. Pas dijenguk, diamuknya. Terus yang sakit mau pipis, tapi sampai dicekal-cekal kakinya, karena Sayahhhh terpeleset lalu terguling. Kemudian... Terjadilah kejadian malu sendiri."
Apa papah Adi menceritakan kisahnya sendiri?
Mamah Dinda tertawa lepas, "Itu Ente!" seru mamah Dinda dengan melemparkan bantal ke arah suaminya.
"Yang sakitnya Ente!" tambah papah Adi dengan begitu puasnya.
Ibu terkekeh geli, "Saya pun pernah begitu. Saya lagi ngidam Ria, dari kamar tuh lari ke kamar mandi karena mau muntah. Si bapaknya Ria kan orangnya takut banget sama setan. Dia ikut larinya aja, malah ngeduluan masuk ke kamar mandi. Pas sampai di kamar mandi, aku tanya ada apa. Si bapaknya Ria jawab, gak tau ada apa, ikut lari aja. Di situ aku malah gak jadi muntah, karena malah ngakak aja."
Aku pun ikut tegelitik, ada-ada saja cerita ibu ini.
Mamah Dinda dan papah Adi terpingkal-pingkal, sampai papah Adi berjongkok di lantai karena ia berdiri di dekat ranjang.
__ADS_1
"Pasti orangnya lucu ya, Bu?" tanya mamah Dinda kemudian.
Ibu menoleh ke arah mamah Dinda, "Iya, orangnya parnoan. Kalau ada suara grasak-grusuk, entah binatang apa gitu, dia udah ketar-ketir aja. Udah panik, udah berlindung duluan. Kalau pulang abis jalan-jalan malam, masuk ke rumah kan lampu belum pada nyala. Dia minta Saya masuk duluan, buat nyalain lampu dulu. HP jaman sekarang kan, ada senternya gitu. Nah, udah disenterin pun dia tetap gak berani masuk duluan."
"Padahal laki-laki ya?" tambah papah Adi.
Ibu menoleh ke arah papah Adi, yang tengah duduk di sofa kamar.
"Iya, padahal laki-laki. Sampai ke Ria kan kek gitu, Ria segala-gala takut."
"Kek Abang. Waktu kena santet. Givan yang liat bola apinya, aku mau kabur, malah Abang yang siap-siap ambil kantong infusnya." mamah Dinda tergelak seorang diri.
"Adek bilangnya, awas bang aku mau kabur aja. Masa orang lagi sakit mau ditinggal. Ya ikut kabur ya?" cara bicara papah Adi mengundang tawa.
Alhamdulillah.
Aku bersyukur, karena masih memiliki mereka. Keluargaku ini, adalah obat pelipur laraku.
Tidak semua orang, bisa mendapatkan mantan mertua yang seperti mamah Dinda dan papah Adi ini. Aku harus bisa menyusukuri segala hal yang Yang Kuasa berikan untuk kebahagiaanku.
Tidak dengan suami. Namun, keluarga yang seperti ini pun lebih dari apapun.
Bersyukurlah kalian, dengan luka yang kalian dapat. Karena, pasti akan diganti dengan manusia-manusia yang akan membuat hidup kalian lebih berarti.
...****************...
Siapa yang masih ingat cerita papah Adi itu? ðŸ¤
Kejadiannya di kamarnya mamah Dinda. Tapi di rumah orang tuanya. Kamar yang ada air terjunnya. 😅
__ADS_1