
Helmnya ia taruh di atas meja, "Abang sampai sengaja tak bawa motor." lanjutnya kemudian.
"Ada apa?" aku merasa heran.
"Adek ada apa? Segala ngadu ke teungku haji. Ma sama abu kan, minta Adek sama ibu ke rumah. Kenapa, sampai detik ini tak ada datangnya? Lebih urus ayahnya Ceysa, ketimbang masanya abu bertamu. Kalau memang respon Abang tak baik, yang Adek datanglah ke sana. Luruskan, sekalian ngomong apa kek apa sama abu. Giska yang anaknya orang terpandang aja, dia sering bolak-balik ke rumah ma cuma untuk marahin bang Adi karena tak balas chatnya. Adek segitu mahalnya, bikin sakit ulu hati aja." ia menunjuk dada bagian bawahnya.
Ia membuang pandangannya, ia lebih memilih memperhatikan Ceysa yang tengah bermain masak-masakan itu.
"Aku tak paham, karena Abang tak ada bilang. Abang bilang lah di chat kita, suruh aku ke sana gitu sama ibu. Bukannya diem, tak respon aku, seolah aku salah. Aku bingung, Bang." aku mengerucutkan bibirku.
Ia menatapku lesu, "Datang ke rumah ma, bisa tak? Datangin Abang, biar Abang ngerasa bahwa Abang ini penting buat Adek. Lebih bahagia bang Adi keknya, dapat manusia kek Giska juga. Giska begitu sayangnya ke bang Adi sejak dulu. Jangankan tak direspon, chat tak dibalas, kuota habis, itu kepala bang Adi digetok. Dimarahinya, aku kangen, aku pengen diladenin, aku kesel, atau apa kek. Nampak depan mata Abang, depan mata orang, kalau cewek kek gitu itu, itu cinta ke kita." ia mengusap wajahnya, "Adek gimana coba? Lepas ayahnya Ceysa datang, kek pasrah aja sama hubungan kita. Abang yakin tuh, pasti ayahnya Ceysa ngajak rujuk." telunjuknya terulur padaku, "Itu baru ayahnya Ceysa, gimana kalau bang Givan dengan segala yang dia punya sekarang. Keknya, sama Abang pura-pura tak kenal." telunjuknya terulur, ia mendengus kasar dengan membuang pandangannya kembali.
__ADS_1
"Abang harus ingat, ada Chandra di antara aku dan mas Givan. Ada Ceysa, di antara aku dengan ayahnya Ceysa itu. Aku tau diri kok, aku sama dua laki-laki itu udah selesai. Kalau memang Abang cemburu, harusnya Abang bersikap posesif sama aku, masanya ada salah satu di antara mereka. Bukannya, malah kek orang pura-pura tak kenal." aku mengungkapkan kekakuan hatiku.
"Ohh..." ia seperti tidak percaya dengan tanggapanku.
"Peka juga ternyata?" ia seperti menahan amarahnya.
Ia mengusap wajahnya kasar, "Abang panas di sini, Dek." ia menunjuk dadanya sendiri.
"Ditambah lagi, kau tak paham." ia menunjuk wajahku.
"Itu cara Abang, lampiaskan rasa kesal Abang sama Adek. Tapi nyatanya, memang Adek tak ngerasa kehilangan Abang kan? Adek tak ada perjuangannya, buat bikin Abang ngerti. Bahkan, datangin Abang ke rumah ma aja. Adek tak berani. Itu tandanya, Adek ngerasa diri Adek sendiri yang lebih penting, ketimbang diri laki-laki yang sayang sama Adek."
__ADS_1
Rasanya, aku ingin mencekik lehernya saja.
"Aku nunggu Abang respon aku, aku nunggu Abang perintahkan aku datang sama ibu ke sana."
Dikiranya apa? Tak ada angin dan hujan, tiba-tiba aku berkunjung bersama ibu untuk membicarakan hubungan yang menggantung itu. Aku merasa, harga diri aku begitu terinjak-injak. Aku merasa, aku seolah diminta untuk terlihat mengemis cintanya.
"Ya Allah, Canda." ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Ini kah sifat kau? Apa-apa, harus nunggu perintah aja. Hei, Dek.... Ada masanya kita harus punya inisiatif. Kau tau Abang marah, kau tak punya inisiatif buat bujuk laki-laki kau. Kalau Abang mati, haruskah Abang kasih perintah dulu buat Adek melayat? Untuk liat Abang yang terakhir kalinya?" ia menatapku, dengan mata yang amat merah.
...****************...
__ADS_1
Ini kau yang buat suami aku doyan ngambek 😭
🤦♀️ harus nunggu perintah aja 😑 mah, mandi. mah, sholat. mah, makan. mah, bikin kopi 😌 apa ada yang sama juga 🤭