
Sekarang kami tengah saling memeluk di bawah selimut. Hujan turun begitu derasnya, saat kamu baru saja menyelesaikan permainan kami.
"Belum pakai baju, belum cuci lagi." bang Daeng mengusap-usap lenganku yang berada di atas dadanya.
"Aku dulu pas mau hamil, selesai berhubungan naikin kaki ke tembok selama setengah jam. Kalau tak, ganjal pinggang pakai bantal sampai setengah jam. Kadang, bertahan di posisi miring kek gini sampai setengah jam. Terus aku baru cuci, kalau gak ketiduran." di akhir cerita yang tidak ditanya ini, aku tertawa sumbang.
"Adek gak perlu gitu-gitu. Bukannya Abang gak pengen Adek hamil, bukan Abang gak mengusahakan. Tapi Abang paham, lutut Adek sekarang pun lagi lemas. Lebih baik kita langsung cuci, terus tidur." lengan yang menjadi bantalku ini, jemarinya tengah mengusap rambutku.
"Kok Abang tau?" sebenarnya bukan hanya lutut saja yang lemas, tapi betis pun serasa tak mampu menopang berat tubuhku. Jika baru selesai, lalu aku langsung berdiri. Aku merasa begitu gemetar di bagian kakiku.
"Banyak yang bilang." aku paham, ia tidak ingin membuat moodku kacau. Aku tahu, ia mengetahui sendiri dari pengakuan para wanitanya.
"Pasti sekarang air Abang berceceran." aku merasa lava hangat mengalir keluar dari intiku.
__ADS_1
"Biar aja! Lap aja sprainya pakai tisu basah. Cuci sprai kalau udah seminggu tuh, kalau capek ya laundry aja. Sekalian selimut tebal ini nih." bang Daeng menarik selimut yang tengah kami gunakan ini.
Aku dulu mencuci sprai setiap kali berhubungan. Belum lagi aku menyucikannya terlebih dahulu, sebelum aku menggilingnya di mesin cuci. Aku diminta mas Givan, untuk mengucek airnya yang berceceran di sprai kami di kamar mandi pribadi kami.
Entah mas Givan yang kelewat bersih, atau bang Daeng yang memang jorok.
"Bang... Aku dulu biasa nyuci pakai mesin cuci punya mertua." aku belum merasakan mengantuk, meski hujan tengah deras.
"Kita beli pun, mau ditaruh di mana? Kalau Abang dapat rejeki nanti, Adek mau beli apa? Rumah kah? Mobil sendiri kah? Atau buka toko? Raya udah ngabarin tadi pas Abang main HP. Katanya, dia gak jadi resign. Biar Koto yang nanti dibawanya masuk ke PT. Abang juga bilang, Adek juga gak lama lagi resign. Bukan karena Adek hamil, atau Abang pengen kita berjauhan. Tapi, Abang pengen ngerasain punya istri tempat Abang pulang. Pulang kerja, Abang pulang ke Adek. Nanti Abang pun, bakal minta Sari cari trayek yang gak keluar pulau. Jadi Abang gak akan lama ninggalin Adek sendirian di rumah." ungkapnya panjang lebar.
"Aku pengen punya rumah, di kompleks perumahan gitu. Kanan kiri tetangga semua, jalan depan rumah muat masuk mobil. Terus, aku mau punya B*io yang terparkir di depan rumah kita juga." aku mengungkapkan, apa yang menjadi impianku sejak dulu.
"Aku terserah Abang aja udah. Tapi Abang janji harus setia." aku mendongak, lalu mencolek hidungnya.
__ADS_1
Senyum kami begitu lebar, "Lagian mau selingkuh sama siapa? Koto?" tawanya begitu renyah.
"Yang gantiin Adek nanti si Koto. Bagian uang tinggal keknya lebih sedikit, karena pasti dipakai buat nambah kamar. Karena Koto sama Raya, gak mungkin mau satu kamar sama Abang." ia kembali tertawa.
Aku paham, aku paham.
Kak Raya dan bang Koto adalah suami istri. Mereka pasti membutuhkan privasi, seperti kita sekarang.
"Terus... Impian Adek apa? Pengen punya usaha apa gitu? Atau pengen liburan ke mana gitu?" ia mencium sekilas pucuk kepalaku.
...****************...
Nyaman banget sekarang jadi Canda.. Abis dipakai, ditanya pengen apa. Coba aku, rumah megah, mobil mewah, modal usaha, pasti aku sebutin serinci mungkin 🤣
__ADS_1