
...Crazy Up buat hari ini, udah diambil pas Daeng wafat itu ya kak. Nanti crazy up rutin di Senin depan....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa, Sayang???" aku sedikit berseru menyahutinya.
Alis Chandra langsung dicopy paste oleh mas Givan. Kami berdua langsung menjadi perhatian dan bahan tertawaan orang-orang.
"Pengen dibuat kejang rupanya." mas Givan menggerutu.
Aku tertawa geli, lalu menariknya ke luar masjid untuk menanyakan tujuannya memanggilku.
"Gimana, Mas?" kami sudah berada di teras masjid.
"Aku malam ini tak pulang ya? Ini udah setengah sembilan, aku standby di jalan depan, nunggu mobil sampai. Nanti aku arahin ke gudang rumah Ghifar, yang di dalam ladang itu. Terus mau istirahat sembari nunggu bongkar. Selesai bongkar kayu dini hari, aku kasih uang upah mereka, terus mau langsung ke Pintu Rame Gayo buat nyiapin beberapa hal. Biar nyampe sana bisa istirahat dulu, paginya biar aku agak fresh gitu."
Jadi mas Givan tengah membuat laporan lebih awal.
"Berapa hari di Pintu Rame? Ada kendala kah di sana?"
Aku tidak mau kecolongan lagi seperti dulu. Apa lagi, kecolongan barang yang sama.
"Entah, belum tau sih berapa harinya." mas Givan menyugar dan merapihkan rambutnya, "Pesan benih sawit papah tuh, pagi tadi akad baru sampai. Tapi kita akad, jadi repot aku tak bisa ke sana." ia memandangku kembali.
"Mau ikut kah?" lanjutnya kemudian.
Aku langsung menolak dengan gelengan kepala, "Aku mau tidur guling-guling di kasur luas, mumpung Mas tak pulang."
Aku hanya berniat bercanda saja.
Ia tertawa samar, "Enak betul. Aku kerja, pusing bagi waktu. Yang di rumah malah lelap." mas Givan seolah membatin.
Aku membubuhi tawa wajar, "Rumah mamah, ruko, rumah mangge masih berantakan. Aku tak enak hati, mau bantu-bantu semampu aku. Lagi pun..." aku menoleh ke area dalam masjid, "Keluarga bang Lendra besok pamit, aku harus antar dan basa-basi sama mereka." aku berbicara lirih.
Mas Givan manggut-manggut, "Nanti Chandra minta Ghifar atau yang lain anter, terus jemput Chandra jam sepuluh. Jangan ditemani, biar dia disekolahnya sama guru aja. Aku udah titipin dia ke guru-guru di sekolahnya."
"Ya, Mas." aku sudah hafal aturannya yang satu ini.
"Jadi betul tak ikut nih?"
Aku mengangguk untuk menjawab.
"Barangkali mau ikut, biar tau rasanya kerja. Biar percaya suaminya di luar itu kerja, bukan keluyuran tak jelas." sepertinya mas Givan menginginkan aku ikut dengannya.
Bolehkah aku curiga, bahwa ia menginginkan kami singgah di suatu tempat? Staycation, istilah jaman sekarangnya.
"Ngajakin anu aja, banyak modus betul." aku menyindirnya.
Mas Givan malah tertawa lepas. Kemudian, tanpa canggung ia mendaratkan kecupan manis di pipiku.
Aku langsung memegangi bekasnya, lalu aku celingukan ke kiri-kanan. Was-was, aku khawatir ada yang melihat.
__ADS_1
"Waktunya belum tepat, lagi stress sama kerjaan. Takut nanti cepat keluar, kan tak enak." ujarnya dengan turun dari teras masjid, lalu memakai sendalnya.
"Berangkat sekarang ya?" ia mendongak menatapku yang masih berdiri di teras.
Aku menunda untuk menyahutinya. Aku memilih untuk turun lebih dulu, kemudian memakai sandalku.
"Narik uang belum? Minta dulu buat pegangan."
Mas Givan malah mengerutkan keningnya, lalu mentertawakanku.
Bibirnya naik lima senti, ekspresinya sedang mencoba meniru seseorang. Pasti ia akan mengejekku.
"Aku punya banyak amplop dari undangan." ia melirikku
Sudah kuduga, mas Givan mengejekku dan tertawa lepas kembali.
"Duduk dulu, tunggu di sini. Mau minta uang dulu sama Ghavi atau siapa, nanti aku transfer ke rekening mereka. Belum sempat narik uang dari tadi soalnya." ujarnya dengan berbalik badan dan berlalu pergi.
Aku memilih menurutinya saja. Aku duduk di teras masjid, dengan kaki menyentuh tanah.
Hingga beberapa saat kemudian, tubuh tinggi tegap mas Givan sudah berjalan ke arahku kembali.
"Nih, lima ratus. Pegang dulu, nanti gampang kabarin aja." ujarnya dengan memberikan uang yang sudah ia lipat.
Aku langsung menerima, lalu mendongak menatapnya.
"Ya udah, ati-ati. Nanti telpon aku ya?"
Mas Givan mengangguk, lalu mengulurkan tangan kanannya. Aku segera meraih, lalu mencium punggung tangannya.
"Ya, Mas." aku masih memperhatikan kegiatannya.
"Ya udah, pergi dulu ya? Assalamualaikum." mas Givan berkontak pandang denganku.
"Wa'alaikum salam." sahutku berbarengan dengan langkah kakinya yang menjauh.
Ya Allah, semoga mas Givan diberi keselamatan dan keamanan dalam segala kegiatannya. Semoga ia selalu Kau dilindungi di manapun suamiku berada.
Esok harinya, aku dibangunkan dengan getaran ponsel yang terus berulang.
Mas Givan.
Nama yang tertera di layar ponselku. Tujuh panggilan tak terjawab, saat getaran tersebut berhenti sebelum aku menerimanya.
Mati aku. Sang penguasa rumah tangga bisa-bisa mengamuk.
Drtttt.....
Aku segera menerimanya, ketika panggilan darinya masuk kembali.
"Ya, Mas." aku langsung duduk dan bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Cendolllll! Kau jangan buat aku kaku hati ya?! Anak kau sekolah, Bodoh! Jam berapa ini?!"
Aku sudah biasa mendengar ucapan frontal darinya.
"Iya, Mas. Maaf ya, Mas? Aku kurang tidur kemarin, jadi ngantuk kali." aku tersenyum geli saat menjawab pertanyaannya.
"Bisa alesan ya kau sekarang?! Dulu kau cuma bisa minta maaf aja, terus diem di pojokan." nada suaranya masih cenderung tinggi.
Aku cuma terkekeh kecil.
"Udah setengah delapan ini, Chandra jam delapan udah masuk jam kelasnya. Kau bangunlah! Anak kau kelaparan, dia harus sarapan sebelum berangkat sekolah."
"Iya, Mas. Iya, nih aku bangun." aku melirik Ceysa yang masih mendengkur halus seperti mendiang ayahnya.
Mulutnya pun sedikit terbuka, dengan biji mata yang terlihat menonjol di kelopak matanya.
"Ya, cepet! Jangan diulangi lagi kek gininya. Bangun on time, inget punya anak sekolah. Entah Key sih, ada yang urus. Nah, si Chandra ini. Darah daging kau, anak kau sendiri. Apa tak malu terus-terusan mamah yang urus? Aku tak mau ya, Canda. Kita udah terlalu banyak dzolim ke orang tua, khususnya mamah karena ngasuh anak kita. Masalah Zio juga harus kita pikirkan, aku tak mau Zio diurus neneknya juga. Dzolimnya dobel, aku juga yang dosa. Kau sih enak, tak nanggung dosa."
"Iya, Mas. Besok aku coba bangun pagi."
Mas Givan benar, aku tidak boleh terus seperti ini.
"Aku ke Singapore ya? Sekarang udah di bandara sama keluarga Lendra. Ladang di Pintu Rame nanti dihandle papah, aku udah siapin yang papah perluin nanti. Katanya sih, papah lagi ke Pintu Rame. Terus alesan kau semalam, pagi nanti mau urus keluarga Lendra pamitan ini itu. Ngomong aja kau, dasar memang pengen tidur nyenyak."
Aku malah terbahak-bahak di sini.
"Aku tak tau, Mas. Tak ada yang bangunkan juga soalnya."
"Ya udah, atur ajalah. Sakit tenggorokan aku marah-marah sama kau terus, tapi tetap diulangi." ujar mas Givan seperti menggerutu.
"Mas berapa lama di Singapore?" tanyaku lembut.
Agar ia teralihkan, dari amarahnya tentang kesalahanku pagi ini.
"Kenapa memang? Udah pengen ketemu kah sama kepala besar?" suaranya begitu rendah. Sepertinya, agar tidak terdengar orang sekelilingnya.
"Aku dikasih jatah lima ratus ribu ini, buat berapa hari gitu." aku menjelaskan maksudku.
Nafasnya terdengar begitu jelas, "Udahlah! Males aku sama kau."
Tut....
Aku malah tertawa lepas. Mas Givan membuat pagiku penuh tawa puas.
"Icik, Iyung!" Ceysa menggeliat dia atas tempat tidur ayah sambungnya ini.
Aku mengusap-usap punggungnya, agar ia terlelap kembali. Setelah itu, aku memutuskan untuk cuci muka dan menyikat gigiku. Kemudian aku segera keluar dari kamar, berniat mengurus Chandra lebih dulu.
Anak ganteng itu sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Ia tengah disuapi oleh mamah Dinda, sembari menonton kartun pagi.
"Tidur lagi aja, Dek." mamah Dinda berbicara tanpa menoleh padaku.
__ADS_1
...****************...
Bantu sundul novel Ghifar dong kak 🤗 yang belum tap ❤️ favorit, tolong partisipasinya ya kak 😅 mohon sudi mendukungku 😘