
"Mah, jangan terlalu baik. Nanti aku ngelunjak."
Mamah Dinda terkekeh geli, lalu memukul lenganku pelan.
"Aku punya modal sendiri, Mah. Beberapa bulan lagi juga, aku bisa cairin deposit. Ya mungkin, pas bulan puasa. Seratus juta, buat modal buka usaha gas elpiji, pengisian galon, stok Aqua galon dan Lemineral galon itu. Sama beli freezer eskrim, jualan eskrim gitu." ungkapku jujur.
"Sejujurnya, Mamah curiga sama deposit kau. Tapi ya udahlah, dari awal kau udah niatnya bohongin Mamah. Tak sampai semua dari gaji kau, sama uang yang kau bilang itu. Apa lagi, ini." mamah Dinda menyentuh perhiasan di jariku.
"Mamah beli dengan model yang sama, cincinnya aja tuh harganya delapan puluh jutaan." mamah Dinda menunjukkan jemarinya sendiri.
"Ini mahal, karena matanya berlian."
Cincin yang sama, hanya berbeda bentuk cincinnya saja. Milik mamah Dinda lebih kecil, sedangkan aku lebih besar. Aku mengamati selera perhiasan mamah sejak dulu, ia selalu suka dengan perhiasan yang berukuran kecil. Tapi jangan disangka, harga di balik barang kecil itu.
"Keknya ini bukan berlian, Mah." aku tidak mengerti perihal perhiasan.
"Berlian." mamah Dinda menunjuk mata cincinku.
Aku menepuk jidatku. Aku malah teringat emas batangan yang masih berada di tumpukan baju dalam koper. Harus aku simpan di mana emas batangan itu? Rumah ini tidak aman, karena adanya Nadya.
"Nanti mamah tambahkan modalnya juga. Ambil beras dari usahanya Ghavi. Ghavi dari kuliah, suka betul suplai beras ke pesantren tiap hari, makanya stok gabahnya banyak dia."
Aku merasa, hanya mas Givan yang terlihat tidak berhasil di sini.
"Kenapa sih Ghavi tak beli sawah sendiri?" ini yang menjadi pertanyaanku sejak dulu.
"Karena petani dan supplier itu lebih kaya suppliernya. Di mana pun tempatnya, itu adalah kerja nyata. Makanya Mamah suplai keluar negeri sendiri. Karena mamah ngerasa supplier biji kopi sekarang udah tak amanah lagi. Masa hampir satu tahun, harga biji kopi dunia katanya stuck di tempat. Pas ditelurusi, nyata kan, ternyata biji kopi itu merambat naik. Memang banyak supplier tak amanah sekarang."
Salah satunya Daengku.
"Ghavi lebih suka ngumpulin gabah, terus giling dan jual sendiri. Karena harga gabah sama harga beras itu, lebih murah harga gabah. Gabah perkwintal cuma lima ratus ribu kurang, ya memang hasil berasnya tak dapat satu kwintal juga, tapi itu lebih murah kemana-mana, ketimbang Ghavi langsung beli beras, terus jual lagi beras itu." tambah mamah Dinda.
__ADS_1
"Ya, Mah. Keknya sambil usaha beras gitu. Tapi kenapa sih aku harus di sini? Aku males liat mas Givan. Biarpun udah biasa aja juga, tapi sakitnya masih ingat aja." akuku jujur.
"Sakit akan tetap diingat, Canda. Mamah pengen kau dekat sama Mamah, karena sepaham Mamah, kau ini bodoh. Ibu kau pun sama."
Sabar, Canda. Harus mengerti, bahwa memang mamah Dinda bermulut tajam.
"Gara-gara cinta aja, ibu kau nikah siri. Bikin Ria tak punya dokumen, mana kaburan TKW, hidup dibikin nambah sulit aja. Nyata kan, Ria tak bisa sekolah di sana. Udah gitu, sekarang kaunya. Tau Ghifar ada istri, mau aja dikekepin."
Aku hanya diam menunduk. Aku malu, aku merasa dan aku miris pada diriku sendiri.
"Udah sama Mamah aja, dibuatin di bekas warung nasi itu ya? Jangan pergi-pergi lagi. Kalau memang udah pengen nikah lagi, Mamah carikan laki-lakinya. Tolong, jangan ladenin Ghifar lagi. Mau bagaimanapun cerita kau sama Ghifar, nyatanya kedudukan kau nanti tetap salah. Mamah begini, karena kasian sama kau, kasian sama keluarga kau. Tak pengen nasib kau, kehidupan kau lebih buruk dari kemarin. Udah cukup disulitkannya, udah cukup sengsaranya. Terus nanti, stok elpiji pink sama biru. Mamah tak pakai elpiji hijau, malu sama pak RT."
Aku terkekeh dengan memeluk lengan beliau. Ia bisa saja mencairkan suasana hatiku, yang campur aduk seperti ini.
"Kenapa Mamah mau beli motor baru? Mio GT sama Scoopy mau dikemanakan?" dua motor itu adalah motor yang digunakan untuk pergi mengantar jemput Gibran sekolah, juga kendaraan untuk pergi ke pasar bersamaku dulu.
"Malam tadi Mamah buka garasi, mau ke pasar malam duaan sama papah. Ehh, cuma ada mobil aja lima. Ghavi, Ghifar sama Givan kan pergi bawa motor masing-masing. Tanya kan Mamah ke Nadya, ke mana motor dua itu. Dia jawab pelan, udah tak ada. Kata Mamah, tak ada tuh kemana. Nadya kek pura-pura tak dengar. Langsung papah telpon Givan, ngamuk-ngamuk lagi papah pas tau motor juga dijualin. Barang-barang punya orang tua tuh betulnya dijaga, entah bagus atau sih jeleknya. Bukan dijual tanpa izin, uangnya buat makan sendiri. Mending juga terus terang, tak ada makan Mah. Dari pada tak punya adab gitu. Ini Mamah sama papah masih hidup, kek mana kalau udah pada tak ada di dunia."
Ya ampun, seberani itu menantu baru?
"Udah bilang ke Winda. Givan sama papah kandungnya, mau dituntut saham. Tapi Mamah udah bilang ke papah juga, jangan sampai penjarakan anak. Jadi kek buat gertakan aja, biar Givan ada pikirannya. Orang tua tuh pengen anak maju, sok bilang butuh modal apa. Tapi ya dijaga, kek Ghava gitu. Bukan disia-siakan, ditinggal, dilepas gitu aja setelah bangkrut. Itu uang bikin tambang, sampai triliunan. Saham papah sama almarhum opah Dodi tuh besar di sana, bagian Givan itu besar, tapi tak mau Givan perjuangkan."
Aku paham, pasti mamah dan papah begitu geram pada mas Givan.
"Mahhh, aku belum mandi. Tapi udah diusap air dadanya." Giska muncul dengan terburu-buru.
"Eh, Kak Canda. Eh, Canda." ia langsung menyambutku dengan hangat. Luka bekas perawatan laser terlihat begitu jelas, luka itu akan menghilang dalam waktu kurang lebih sepuluh hari.
"Main-main ke rumah baru aku ya. Bantuin lipet baju, sama Mamah juga." lanjutnya yang mendapat cubitan dari ibunya.
Ia terkekeh geli, "Nda ngantuk, Nak. Maaf ya?" ia menciumi pipi anaknya yang tertidur pulas.
__ADS_1
"E, e, e, e, e..."
Aku sampai celingukan mencari sumber suara itu.
Mamah Dinda menepukku, ia tertawa geli.
"Itu suara Hadi. Memang anaknya suka begitu." terangnya yang membuatku ikut tertawa.
"Sawan apa ya, Mah?" terlihat Giska memperhatikan wajah anaknya yang merah kehitaman karena menggeliat.
"Bayi kan nangis owa-owa ya, Mah?" tambahku dengan memperhatikan mamah Dinda.
"Kek kecilnya Gibran begini. Papah pas belum ngeh, nyangkanya bunyi anak kambing. Eh, tak taunya anak bungsunya. Kek ngeden gitu sambil regangin otot. Nanti kalau udah empat puluh hari coba dipijat. Barangkali dia capek. Bayi itu lebih banyak capeknya, apa lagi kalau udah banyak nangis." jelas mamah Dinda.
Iya memang, Hadi seperti tengah meregangkan ototnya dengan mengejan. Ada saja bayi-bayi zaman sekarang, unik dan menarik untuk diperhatikan.
Aku jadi ingin mengurus bayi lagi. Aku kurang puas mengurus Chandra. Apa lagi sekarang, Chandra lebih suka dibiarkan dan diperhatikan dari jauh. Jika tengah main, lalu aku mencampurinya. Ia langsung berteriak dan berlari. Ia tidak suka diganggu, jika ia tengah bermain dengan dunianya.
Saat aku keluar setelah sholat subuh pun. Chandra sudah mandi dan tengah mengemil biskuit. Aku diserobot, untuk bisa memandikan Chandra. Padahal, aku sudah berpesan pada Ria dan ibu. Agar aku saja yang memandikan dan mengurus Chandra.
Ibu mengatakan, bahwa ia tak keberatan untuk mengurus cucunya sendiri. Lagi pun, ia suka dengan pekerjaannya yang hanya mengawasi anak-anak bermain.
Ibu dan Ria berbagi tugas setiap hari. Jika ke kamar mandi, anak-anak selalu dengan Ria. Kecuali membantu memandikan Kaf dan Zio. Ibu akan turun tangan, karena mereka masih begitu kecil. Ibu masih belum percaya, jaika Ria bisa melakukannya.
Zio adalah anak mas Givan dan Nadya, yang lahir beberapa hari yang lalu. Kalau tidak salah, namanya Zio Pasha Putra. Nadya masih lemas, karena luka bekas operasinya. Sedangkan Zio, ia lebih cenderung digeletakan saja bersama ibunya. Bukannya mamah Dinda membedakan, hanya saja normalnya anak bayi, Zio lebih banyak tertidur di siang hari.
Jika malam, entahlah. Mungkin Nadya mengurusnya sendiri. Karena Ziyan bersama anak-anak yang lain di lantai atas.
Di kamar bekas Ghava dan Winda, dijadikan sebagai tempat tidur anak-anak. Seluruh ruangan itu diisi dengan kasur busa yang begitu luas. Pintunya pun menggunakan pintu geser, pintu kamar mandi kamar itu pun menggunakan fungsi geser. Benar-benar nyaman, anak-anak pun tak akan jatuh dari kasur. Karena, kasur di kamar mereka yang begitu luas itu tidak ada tepiannya.
Sedangkan mas Givan. Denger pernah dengar, katanya ia jarang pulang. Ia selalu tidur di toko. Ia pulang, untuk mandi saja.
__ADS_1
...****************...
Givan 😣