
Aku begitu gugup.
Setelah bersabar dan mengikuti arahan bang Lendra, kini aku tengah diajak berdialog oleh pihak HRD.
"Masih keluarga sama Nalendra?" ia mengunci pandangan mataku.
Aku masih teringat, akan bang Lendra yang pernah mengatakan bahwa aku harus mengaku. Bahwa aku adalah family dari bang Lendra.
"Ya, Pak." aku tersenyum ramah.
"Harusnya sih training dulu. Tapi.... Ya sudahlah. Siap-siap, ikut Nalendra ke Jambi." ia langsung membereskan dokumen dengan data diri milikku.
Wawancara apa ini?
Aku sudah gugup sekali. Tapi aku hanya ditanya nama, usia dan pernyataan bahwa aku keluarga dari bang Lendra.
Aku berjabat tangan dengan bapak paruh baya tersebut. Ia terlihat ramah, tidak seperti saat menyambutku tadi.
"Selamat. Betah-betah ya?" ucapnya kemudian.
__ADS_1
Aku mengangguk, "Baik, Pak." sahutku wajar.
Aku bergegas ke luar dari ruangan ini, saat tangan bapak tersebut seperti mempersilahkan aku untuk pergi.
"Mari, Pak." aku menyunggingkan senyum kembali padanya.
"Ya, iya." ia mengangguk beberapa kali.
Ini adalah tanggal tiga puluh. Di mana kejadian ini terjadi, saat empat hari lalu kami membicarakannya.
Acara jalan-jalan untukku dan Chandra tak terwujud, lantaran bang Lendra memilih untuk pergi dengan kak Anisa saja. Mungkin mereka ingin menghabiskan waktu bersama, sebelum bang Lendra melakukan perjalanan jauh kembali.
Baju kerjaku, adalah pilihan dari kak Anisa. Mereka kembali, dengan beberapa barang untukku dan Chandra.
"Jemput Chandra dulu. Kau udah prepare kan?" ucapnya kembali, saat kami tengah melangkah menuju parkiran kantor.
"Ya, Bang. Udah." aku menuruti saja perintahnya, saat bang Lendra memintaku untuk mempersiapkan barang-barangku untuk pergi ke Jambi selama dua minggu
Chandra aku titipkan pada kak Anisa. Setelah ini pun, aku akan pamit pada kak Anisa. Karena aku tak pulang ke kosnya selama beberapa saat.
__ADS_1
"Baju kau tak nyaman kah?" tanya bang Lendra, ketika mobil mulai berjalan meninggalkan kawasan kantor.
Aku mengecek keadaan pakaianku, lalu aku menoleh ke arahnya.
"Bukan tak nyaman, cuma ini terlalu pas di badan. Aku malu sebenarnya, kek kurang percaya diri." jujurku kemudian.
"Tapi memang pantasnya begitu, Dek. Kalau tak nyaman, nanti kita cari lain." aku hanya mengangguk.
Rok span berwarna hitam, dengan belahan sebatas betis di bagian belakang ini cukup mencetak lekuk pinggangku sampai ke kaki. Belum lagi, kemeja putih ini sedikit sesak di bagian dada. Aku tengah menyusui, otomatis pabrik ASIku terlihat mangkal. Meski masih diselamatkan dengan jas berwarna kuning muda sepanjang pa*gkal paha, tetap saja tidak menutup lekuk tubuhku dengan sempurna. Jas ini lebih terlihat hanya untuk bergaya saja, bukan untuk fungsi semestinya.
"Kau dimodali pakaian kek gitu aja cantik, Dek. Bisa-bisanya suami kau gak jemput-jemput."
Aku menoleh cepat, wajah datarnya tak menggambarkan pujian yang berarti. Aku paham, ia hanya mengeluarkan pendapatnya saja.
"Memang tak apa kalau bawa Chandra, Bang? Kalau ketahuan pihak kantor kek mana?" aku mengalihkan pembicaraan ini.
"Abang pernah bawa perempuan pas kerja, cek ke Bali kalau gak salah. Ketahuan sama pihak kantor, Abang jujur mau sekalian liburan. Gak ngaruh buktinya, Dek. Abang masih kerja di sini sampai sekarang. Mungkin mereka cuma mau kerjaan beres aja." ia fokus pada jalanan saja.
...****************...
__ADS_1
Hanya bisa segini... bener-bener lagi sibuk sama real life 😢 doain semoga author sehat selalu, banyak rezekinya, mampu buat beli kuota. Doain ya, Kak 😟
Jam tiga, up lagi kok.. Aku usahain.