
"Aku lagi sama Enis di kamar Enis. Pas hari itu Enis lagi sakit. Dia demam, soalnya pulang kerja kehujanan. Nah, ke-gap kita sama pihak polresta itu. Seolah kami buat kesalahan, padahal aku cuma nemenin Enis di kamar. Dibawanya kami ke kantor, orang tua ditelepon. Kau paham lah kalau udah orang tua, mereka ini berpikir bahwa anaknya macam-macam. Padahal, semacam pun aku tak ada buat. Langsung dijemput, bawa balik ke Aceh. Orang tuanya Enis pun ikut ke Aceh, buat ngomongi permasalahan kita ini. Sampai radang tenggorokan aku cerita beribu kali ke mereka, tak ada mereka pahamnya. Terus jadilah kek gini. Aku minta maafnya aja ya, Bang? Udah ngelangkahin kau nikah."
Bang Lendra tertawa lepas, "Ngeledek kau? Ngelangkahin segala bahasa kau pakai!" sahut bang Lendra kemudian.
"Ya lah, dua puluh tujuh tahun aku lepas lajang. Kau sekarang berapa coba, Bang?" bang Dendi tengah mengolok-olok bang Lendra sekarang. Mencoba menyinggung masalah usia.
"Kita hitung jumlah anak kita kelak, jangan tengok siapa yang nikah duluan." sahut bang Lendra begitu menantang.
Terdengar tawa samar dari bang Dendi.
Aku ragu jika memang mereka saling mencinta. Mungkin memang seperti itu, karena bang Dendi cukup perhatian pada kak Anisa.
"Ya udah, semoga lancar ya acaranya. Aku usahain nanti datang ke acara kau di Aceh." ujar bang Lendra kemudian.
"Ya, Bang. Tanggal dua belas bulan ini." bang Dendi terlihat tengah mempersiapkan sekelilingnya.
"Ya, Den."
Kemudian bang Lendra mematikan sambungan teleponnya dan mengembalikan ponselku.
"Jadi ini yang Enis bilang lagi ada masalah intern itu, Dek? Heran gitu, biasanya spam chat tiap hari. Tapi tiba-tiba kek ngilang gitu. Khawatir dia udah almarhum, belum sempat minta maaf."
Kami tertawa bersama, mendengar ocehan bang Lendra ini.
"Abang mau ngomong dulu sama Raya. Jagain dulu Chandranya." bang Lendra berjalan menuju ke ruang kamar.
"Khe....." Chandra langsung menangis melihat bang Lendra meninggalkannya.
"Ehh... Nangis." bang Lendra berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Chandra.
"Mangge di sini ya? Chandra jalan ke sini. Mangge gak jauh." lanjut bang Lendra dengan tersenyum menenangkan.
Chandra berhenti menangis, ia mengangguk-anggukan kepalanya dengan rambatan pada sofa kembali. Chandra seperti boneka karakter yang mengangguk-angguk, yang diletakkan di dashboard mobil.
Aku membantu Chandra melangkah, kala dirinya sudah tidak mendapat benda untuk dipegang lagi. Nyalinya ciut sepertiku, Chandra tidak berani melangkah tanpa memiliki pegangan.
"Khe..." Chandra terlihat begitu bahagia dan ceria.
Ia tengah mempercepat langkahnya, untuk bisa sampai pada bang Lendra.
"Sini." bang Lendra melambaikan tangannya pada Chandra.
__ADS_1
Tentu hal itu membuat Chandra begitu semangat melangkah. Ia sampai berjingkrakan, kala dirinya bisa menggapai tubuh bang Lendra.
"Geser-geser aja, Ya. Izin lah aku sama Canda." bang Lendra begitu serius mengobrol dengan kak Raya.
Kak Raya memangku laptopnya. Ia sepertinya tengah mengusahakan, agar kami bisa mengambil cuti beberapa hari.
"Khe, jajajaj." Chandra mendongak menatap wajah bang Lendra.
Ia tengah berdiri di depan bang Lendra, dengan memeluk lutut bang Lendra. Sedangkan bang Lendra, ia duduk di tepian tempat tidur dengan kaki yang menyentuh lantai.
"Jajaj? Jajaj apa?" bang Lendra mengangkat tubuh Chandra.
Apa jajaj itu jajan?
Sejak kapan Chandra bisa meminta jajan?
"Jajaj!" Chandra berteriak di depan wajah bang Lendra.
"Iya, bentar ya?"
Namun, Chandra malah menangis dengan begitu pilunya.
"Yuk jajaj yuk? Mau beli apa sih?" bang Lendra langsung mengangkat tubuh Chandra.
"Coba usahakan, Ya. Aku mau ke luar dulu." bang Lendra bergegas pergi, karena Chandra masih merengek tidak jelas.
Bayi empat belas bulan itu sudah banyak tingkah. Bayi yang dinanti selama tiga tahun pernikahan, kini berada di luar rumah megah itu.
Miris.
Ya memang seperti itu ternyata nasibku dan anakku.
~
Aku mulai ahli dalam bidang sekertaris ini. Sayangnya, posisiku akan ditukar sementara dengan Sari. Tapi itu nanti, saat surat cerai sudah sampai dan aku diwajibkan untuk menjalani masa iddah.
"Bang kenapa selama masa iddah, tugas aku ditukar sama Sari?"
Siapa sangka, kini kami berada di dalam pesawat yang akan mengantar kami ke provinsi Aceh.
Hari ini adalah hari tueng dara baro kak Anisa. Persis seperti ngunduh mantu, jika dalam adat Jawa.
__ADS_1
"Abang laki-laki." aku bisa melihat urat tegang dari wajah bang Lendra.
Aku teringat akan ceritanya yang merasa tidak enak badan, saat melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat. Apa ini akan terulang lagi padanya?
"Memang kenapa kalau Abang laki-laki. Di kantor pun, pasti banyak laki-laki juga." ucapku kemudian.
Chandra....
Ia tengah anteng menyusu padaku. Chandra terlihat tidak nyaman saat take off tadi, bahkan ia sempat menangis kejar.
"Kita dekat dan itu gak boleh. Kau kerja di kantor nanti pun, harus pandai memposisikan diri. Jangan sampai dekat dengan laki-laki juga."
Masa iddah itu sebetulnya apa sih?
Aku hanya diam, memikirkan hal yang tidak aku pahami ini. Masa iddah itu datang sejak kapan? Bukannya sejak saat aku pergi dari rumah itu ya? Kenapa sekarang aku mendapat masa iddah lagi?
"Bang, aku tak paham." ujarku dengan melirik untuk melihat wajah tegangnya.
"Intinya, perempuan gak boleh nikah lagi atau dekat dengan laki-laki manapun selama tiga kali haid. Sebetulnya terserah kau, mau anggap iddah kau mulai dan selesai dari kapan. Tapi, biar jelasnya ikut dokumen aja. Karena dalam dokumen itu dijelaskan tanggal selesainya juga. Nah, setelah tanggal itu terlewat. Mau boleh ngajuin dokumen pernikahan kau di KUA. Yang artinya, kau udah boleh dekat atau menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Bisa diartikan juga, bahwa sekarang status kau masih istri orang. Kek gitu lah pemahaman sederhananya."
Tubuh bang Lendra sepertinya benar-benar tidak bisa diajak untuk penerbangan. Ia terlihat berkeringat parah, dengan sesekali meludah pada kantong yang telah disediakan.
"Udah ngobrolnya nanti aja, Abang udah amsyong betul." ia menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
Padahal ia laki-laki, terlihat kuat dan berbadan kokoh. Tapi siapa sangka, ia begitu tidak baik-baik saja dalam penerbangan. Meski menurutku, perjalanan udara kali ini mulus dengan cuaca cerah. Karena aku pernah merasakan polisi tidur dalam penerbangan, saat aku hendak diboyong ke rumah mamah Dinda. Itu sangat tidak nyaman, berbeda dengan kali ini.
Aku tidak tahu kapan dokumen pengurusan surat cerai ini akan sampai di tangan mas Givan. Setelah ini pun, aku masih lanjut bekerja dengan bang Lendra.
Bang Lendra menebak, sepertinya saat kami sudah berada di Samarinda baru surat itu sampai ke tangan ayahnya Chandra. Lalu sesuai rencana bang Lendra, aku akan mengikuti operasi itu. Setelah pulih, aku akan terbang ke Padang. Dengan Chandra yang bersama bang Lendra.
Ya begitulah, bang Lendra memaksa agar Chandra ikut dengannya. Kadang aku berpikir, bang Lendra ini siapa sih? Sampai-sampai ia mengambil alih Chandra, saat aku bekerja di kantor kelak.
Ucapannya yang mengatakan, bahwa aku tak terarah. Membuatku sadar diri, bahwa tanpanya aku memang tak terarahkan. Ia seperti seorang kakak yang baik untukku. Ia seperti paman terbaik untuk Chandra. Meski begitu, menurutku paman terbaik untuk Chandra hanyalah Ghifar.
Ghifar tak pernah membedakan antara Chandra dan Kalista. Ia penyayang anak kecil, ia pun sosok pengertian yang sempurna.
...****************...
Perjalanan ke Aceh ya? Ke tempat Dendi itu ya?
Kok aku merasa... Merasa.... Merasa.....
__ADS_1