Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD217. Keputusan untuk Daeng


__ADS_3

Bang Daeng tersenyum simpul, dengan geleng-geleng kepala.


"Masalah sama kau ini, dia kurang komunikasi. Bukan karena dia licik sama kau." terang papah Adi.


"Tau nih, suami sendiri dibilang licik." ujar bang Daeng dengan terkekeh.


Aku meliriknya malas, kemudian aku memandangnya ke arah lain.


"Terus masalah Putri, Mamah minta kau terbuka. Kau jujur, kau pun harus transparan." mamah Dinda mengembalikan topik pembicaraan kami.


"Aku udah jujur, Mah. Aku usahain terbuka, untuk masalah Putri." bang Daeng mengunci pandangan setiap orang di sini.


Tapi sepertinya tidak mempan untuk mamah Dinda, "Minta data kau, biar orang Mamah yang urus resign kau. Kau Mamah paksa tinggal di sini, karena Mamah masih belum percaya sama kau. Wajib terhubung WiFi rumah, terus jangan ganggu orang-orang yang tinggal di sini. Silahkan tempati ruko yang mamah kasih nanti, dengan ladang kau nanti yang ada di daerah ini."


"Biar tau akses HP aku ya, Mah? Aku wajib WiFi kek gitu."


Hah? Benarkah WiFi bisa seperti itu?


"Kau tau?" mamah Dinda seperti terheran-heran.


"Aku paham. Tapi tak apa, aku bakal lakuin, kalau memang Mamah tak percaya." ujar bang Daeng.


Kepintaran mamah Dinda terbaca oleh bang Daeng. Aku nanti akan memberitahu pada mamah Dinda, ia harus berhati-hati dengan bang Daeng.


"Kau cukup ambil posisi perencana, di usaha Ghavi. Nanti untuk pekerjaan kau, itu urusan Papah. Kau bakal diajarin, untuk penempatan kerja kau. Mamah yakin, kau bisa ngasih makan anak istri kau, meski dari gaji yang Papah beri. Minta surat-surat tentang apartemen itu, biar orang Mamah yang urus penjualannya. Untuk ladang kau nanti, silahkan mau pilih jahe merah kah, kopi kah, atau porang. Nanti di arahkan sama Papah, dengan syarat kau tak boleh bawa Canda pergi. Kalau misal tak betah di ruko tiga tingkat itu, silahkan buat rumah mewah di lapangan depan. Itu tanah milik Mamah, bisa untuk bangun sepuluh rumah mewah. Mohon ijin juga, anggap Ibu dan adik Canda seperti keluarga sendiri. Biarkan mereka nemenin Canda di rumah kalian."


Bang Daeng menghela nafasnya, "Oke, Mah. Aku setuju. Asal jangan diminta cerai." bang Daeng terlihat begitu pasrah.


"Biar Mamah tau juga, kek mana Putri itu nanti. Kalau kau tiba-tiba hilang tanpa jejak. Kau salah langkah, misal kau milih kabur dari Putri dengan pekerjaan yang masih di situ-situ aja." mamah Dinda lebih unggul kecerdasannya ketimbang bang Daeng.


Bang Daeng mengangguk kembali, "Jadi aku harus bagaimana setelah ini?" tanya bang Daeng kemudian.

__ADS_1


"Mandi, makan, terus ngobrol sama Ghavi, sama Papah, sama orang Papah. Kau tempati kamar tamu, masalah tidur bareng Canda, itu urusan pribadi kalian. Tapi sepaham Mamah, pernikahan kalian masih sah." ujar mamah Dinda.


Aku jadi malu, mendengar ucapan mamah Dinda.


"Ya lah, masih sah. Aku kasih kiriman rutin tiap bulan kok, meski gak ada kabar juga. Sebelum pulang pun, aku sering nitip pesan ke Canda pakai nomor asisten aku. Tapi kata dia tak pernah aktif nomornya." tukas bang Daeng begitu kekeh.


"Ya udah, itu urusan kau. Kamar mandi dekat dapur, dekat pintu belakang. Kamar tamu yang kau tempati, tak ada kamar mandinya." mamah Dinda sudah bangkit, diikuti papah Adi.


"Aku ikut ke kamarnya Canda aja." ujar bang Daeng membuatku kaku.


"Canda tidur sama adik dan ibunya." tutur papah Adi kemudian.


"Biar Ibu sama Ria yang pindah di kamar tamu. Kamu di kamar ini aja sama Canda. Biar nanti pakaian Ibu sama Ria, dipindahkan ke bawah." ibu baru buka suara.


Ibu sepertiku, tidak pandai berbicara. Apa lagi memecahkan masalah.


"Ya udah, kita tinggal dulu. Nanti panggil Papah aja, kalau kau udah siap." papah Adi berlalu dengan merangkul istrinya.


"Udah lelap nih, direbahkan di mana?" tubuh Chandra digendong oleh bang Daeng.


"Di kasur aja, Nak. Terus kamu mandi lah, Ibu siapin makanan buat kamu." ibu berjalan ke arah ranjang.


"Canda aja, Bu. Jangan Ibu." bang Daeng pun membawa Chandra ke ranjang.


Chandra dikipas-kipas oleh bang Daeng, ia menganggumi wajah Chandra dengan tersenyum simpul. Ia terlihat seperti rindu dengan Chandra. Tapi benarkah seperti itu?


"Ibu..." bang Daeng langsung mendongak untuk melihat ibu.


Tiba-tiba ia langsung mencium tangan ibu, posisi punggungnya pun begitu cekung.


"Maafin aku, Bu. Belum bisa bikin Canda seneng. Sebelumnya, aku minta restu Bu. Tolong doain aku jadi suami yang baik, jadi ayah yang pantas." ucapnya dengan masih mencium tangan ibu.

__ADS_1


Ibu mengusap kepala bang Daeng, "Ibu pasti doain, Nak. Jangan bikin Ibu kecewa, kasian Canda pernah gagal rumah tangga. Jadilah bapak sambung yang sayang ke Chandra. Didik dia baik-baik, didik Chandra dengan kelembutan, cukup didikan ayahnya yang terlalu tegas, tapi kamu jangan terlalu manjain Chandra juga." ungkap ibu.


Bang Daeng melepaskan tangan ibu, ia mengangguk cepat.


"Insya Allah, Bu. Tegur aku, kalau aku salah langkah." ucap bang Daeng kemudian.


"Gih, makan dulu! Apa mau bersih-bersih dulu?" ibu berjalan ke arah lemari.


"Aku mandi aja dulu, Bu. Biar aku ambil ransel aku dulu di mobil." bang Daeng berjalan menuju pintu.


"Mumpung Chandra tidur, Ndhuk. Bantuin Ibu beresin pakaian Ibu sama Ria. Biar kamu di sini sama suami kamu." ibu sudah mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari.


Aku mendekati beliau, "Ibu di sini aja lah, aku takut. Aku tak mau tidur sama bang Daeng, Bu. Pasti dia bekas main gituan sama Putri." aku sudah manyun, kala mengingat hal itu.


Ibu menoleh ke arahku dengan tatapan marah, "Jangan lupa, kamu pun pernah berc*mbu sama Ghifar. Nak Kin sama Ghifar gak harmonis sampai sekarang, itu gara-gara kamu."


Hah?


"Kok Ibu ngomong gitu?" aku duduk di sofa panjang, dengan bersedekap tangan.


Itu tidak benar sama sekali. Aku suka melihat adegan dewasa, antara Ghifar dan Kin. Mereka sering terlihat mesra, di dapur ataupun di ruangan lain. Kin sering tiba-tiba mencium Ghifar, meski di ruangan tengah banyak orang.


"Iya, mereka sering berantem. Dengan nyebut-nyebut nama kamu. Kamu kalau di bawah, gak naik-naik ke lantai atas. Kamu kalau di atas, kadang gak turun-turun. Jadi kamu gak mungkin tau, masanya mereka berantem." ibu sepertinya berada di pihak Kinasya.


"Nah, nanti pun kamu lebih baik cerita masalah malam kelam kamu sama Ghifar. Kalau kamu nuduh suami kamu macam-macam, atau mikir dia berhubungan sama yang lain. Lebih baik juga, kamu ceritakan masalah kamu itu. Kamu nuntut kejujuran, kamu pun wajib jujur."


"Memang Adek bagaimana?"


Aku dan ibu menoleh secara bersamaan, pada laki-laki yang baru masuk dengan menggendong ransel hitam.


...****************...

__ADS_1


Kalian di pihak mana? 🤔


__ADS_2