Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD243. Pesan dalam selimut


__ADS_3

Nalendra, bang Daeng, manggenya Ceysa.


"Hei... Ngapain kau?!" Ghava yang dikenal sebagai tukang pukul, langsung bergegas menghampiri bang Daeng.


Aku bisa melihat papah Adi, bang Dendi dan Ghavi yang berlarian.


"Papah, aku takut Ceysa dibawa." ujarku setelah papah Adi berada di dekatku.


Beliau merangkulku, "Ayo ke sana." kami melangkah terburu-buru.


"Tenang, Brother. Aku cuma lagi nengok anak aku aja."


Jasmine memeluk manggenya semampunya.


Putri mengatakan, bahwa Lendra kembali pergi. Nyatanya, ia masih berkeliaran di sekitar sini.


"Mangge, takut." rengek Jasmine dengan masih memeluk manggenya.


"Yuk sama Mangge. Biar ammak jemput nanti." bang Daeng menggendong Ceysa dengan satu tangan.


Sedangkan, tangannya yang lain menggandeng Jasmine.


Ia berjalan, menghampiri ibu.


"Ini, Bu. Cucunya. Maaf, udah bikin panik. Saya pamit dulu, anak Saya ketakutan."


Setelah mengatakan itu, ia langsung menggendong Jasmine. Kemudian melangkah cepat ke arah mobil merah itu.


Tak lama, mobil itu langsung berlalu pergi dengan Jasmine di dalamnya.


"Kok begitu nengok anaknya sih, Bu? Ibu juga diem aja. Ada Saya, ada Dinda, kenapa tak dipersilahkan ke rumah Saya aja?" ujar papah Adi, dengan membawaku untuk dekat dengan ibu.


"Saya juga ada hak untuk itu, Papah Adi. Toh, Lendra cuma mau liat anaknya aja. Dia izin baik-baik sama Saya, dia pengen gendong anaknya sebentar." ujar ibu, saat aku sudah duduk di sampingnya.


Aku mengambil alih Ceysa. Wangi manggenya, sampai tertinggal di kain yang menghangatkan tubuhnya.

__ADS_1


"Masalahnya, kalau Lendra bawa kabur Ceysa gimana? Kita juga yang panik."


Setelah mengatakan itu, semua orang bubar barisan. Papah Adi langsung berjalan cepat, kembali ke rumah. Ghava, Ghavi dan juga bang Dendi yang masih menggendong Chandra pun kembali ke Riyana Studio.


"Ibu, jangan lagi-lagi kek gitu. Aku takut." aku terisak-isak, membayangkan hal yang buruk terjadi.


"Entah kenapa, Ibu ngerasa yakin sama Lendra. Ibu ngerasa Lendra benar, cuma caranya salah." ungkapnya dengan merangkul pundakku.


"Lendra memang bilang apa?" aku bangun, karena Ceysa mulai merengek.


"Ngobrol di atas aja, Bu. Ceysa minta ASI keknya." aku melangkah mendahului.


Tak lama kemudian, ibu muncul dengan memapah Chandra. Jika sudah pulas, Chandra sulit sekali dibangunkan. Orang di sekitar begitu berisik pun, ia tetap terlelap. Ya mungkin, Chandra sepertiku dalam hal tidur.


"Intinya Lendra bilang, nanti dia bakal jemput kita. Tapi nanti, kelak kalau dia udah punya semuanya. Dia minta maaf juga, dia takut ditinggalkan, kalau dia jujur tentang anaknya dengan Putri. Yang jelas, dia gak pernah khianati kamu atau bagi tubuhnya dengan perempuan di luar sana. Cuma kamu cintanya, Canda. Cuma kamu, yang Lendra usahakan. Dia juga bilang, alasannya dia gak bisa langsung nikahin Putri itu, karena dia udah cinta sama kamu. Dia mau jujur tentang Jasmine, dia pun sempet berpikir Jasmine yang dibawa ke keluarga kalian. Tapi Lendra mikir, pasti itu berat buat kamu. Lendra tau, tentang Key yang anaknya mantan pacar Givan, tapi di dokumen ikut kamu. Lendra pikir, itu udah cukup berat buat kamu. Dia gak mungkin bawa Jasmine, untuk masuk ke dokumen dengan kamu jadi ibunya." ungkap ibu begitu gamblang.


"Udahlah, Bu. Jangan Lendra-Lendra aja. ASI aku belum banyak, aku tak boleh terlalu stress." aku tengah menyusui bayi mungil ini.


Ibu membuang nafasnya, "Kamu tuh terlalu nyaman diurus mamah Dinda. Sampai-sampai untuk urusan hati kamu sendiri, kamu rela ikhlas."


Aku menoleh cepat pada ibu, aku menggenggam jemari beliau.


"Mas Givan ngusahain uang buat makan aku. Bang Daeng ngusahain kebutuhan hidup aku. Katakanlah, itu adalah hal yang sama. Di luar dari itu, mereka melakukan kesalahan, lalu berlindung di balik kata khilaf. Bang Daeng jelas bohong, tapi dia beralasan takut aku tak nerima keadaannya. Jadi... Fungsi laki-laki ini cuma hamili aku, terus berusaha ngasih makan aku aja? Selebihnya, ia hidup semaunya. Bang Daeng sesuka hatinya datang dan pergi. Mas Givan sesuka hatinya ngatur ini dan itu. Kalau memang cuma menuhin masalah perut, keknya dari tenaga kita sendiri juga, kita bakal mampu Bu." sebenarnya aku sakit hati sendiri, mengatakan hal ini. Terbukti dari air mataku, yang tidak bisa ditolerir sama sekali.


Ibu memelukku, ia mengusap-usap punggungku.


"Ibu gak bisa ngomong apa-apa lagi."


"Aku trauma sama laki-laki, Bu." aku tergugu dalam pelukan beliau.


"Jangan bilang gitu, Nak." ibu menepuk-nepuk punggungku.


"IBUUU..... KEMBALIAN...." suara bringas itu, begitu lepas.


Ibu melepaskan pelukannya, "Ibu ke Ria dulu."

__ADS_1


Aku mengangguk, memperhatikan beliau yang keluar dari kamarku ini. Kemudian aku membenahi posisi Ceysa. Ia masih kuat menyusu, dengan tangan kecilnya yang menarik-narik rambutnya.


Jika di Jawa, disebutnya didis. Seperti mencari kutu, di helaian rambut kita sendiri.


Ceysa sudah mulai lelap, ia bermandikan keringat. Namun, mulut kecilnya masih aktif menikmati asupannya.


Aku melepaskan selimut berbulu lembut, berwarna marun ini. Hingga, aku baru menyadari ternyata ada sesuatu yang jatuh dari selimut itu.


Lembaran uang berwarna merah, dengan sehelai struk berlogo salah satu bank yang dicetak lewat mesin ATM.


Aku mengambil uang yang jatuh di lantai dan tempat tidur. Aku pun memungut kertas tersebut.


Tulisan pena, yang mengalihkan perhatianku kali ini. Di belakang struk tersebut, ternyata ada yang menuliskan sesuatu.


Uang Abang sisa dua juta. Satu setengah juta, buat bayar les Jasmine. Lima ratus, buat beli diapersnya anak kita. Maaf, belum bisa ngasih lebih. Abang belum dapat kerjaan yang nyaman.


Manggenya anakku?


Aku menilik lagi struk ATM ini. Terlihat jelas, penarikan uang senilai dua juta. Sedangkan sisa saldo, terdapat tiga puluh ribu rupiah.


Aku yakin, bang Daeng tidak sedang berbohong.


Mengenai kertas yang ia pakai ini. Sepertinya, ia tidak memiliki kertas lain di dalam mobilnya.


Aku langsung menghitung jumlah uangnya.


Benar saja, genap lima ratus ribu.


Alhamdulillah.


Hanya itu yang aku ucapkan dalam hati. Setidaknya, ia ingat bahwa ia memiliki secuil sejarah untuk aku ceritakan ke Ceysa kelak besar.


Mangge kau selipkan uang lima ratus ribu di selimut kau.


Kelak, itu akan menjadi cerita yang menyentuh untuk Ceysa. Ia akan berpikir, manggenya tidak benar-benar lupa akan dirinya.

__ADS_1


...****************...


Episode kemarin menukik, sekarang menurun 😌 gimana lah ini 🤔


__ADS_2