Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD354. Obrolan kosong 3


__ADS_3

Kerabat jauh mulai berdatangan, meski belum hari H. Tak terkecuali dengan bibi Hana, ia mulai memarahiku dari A sampai Z.


Mas Givan pun ada di sebelahku, mendengar semua ocehan bibi Hana.


"Yaaa... Udah tak jodoh lagi memang, Bi. Aku juga udah nikah lagi, tapi sekarang udah duda lagi juga. Mungkin, aku sama Canda udah tak bisa sama-sama lagi." mas Givan masih berusaha menjelaskan pada bibi Hana.


"Mana sih calon kamu? Bener ini rujuk? Berarti waktu kamu nikahan sama dia ini, kamu gak ngundang Bibi?!" suaranya masih seperti kereta api yang melaju cepat.


"Betul, Bi. Bentar, aku panggilkan dulu." aku meninggalkan ruang tamu minimalis milikku yang berada di sebelah dapur ini.


Saat aku hendak pergi, aku melirik mas Givan yang malah bersandar pada sofa dengan memainkan ponselnya. Akhir-akhir ini, ia bolak-balik ke Pintu Rame Gayo, untuk mengurus ladang Ceysa. Karena, bang Daeng masih belum mampu menghandle sendiri.


"Bang Lendra mana, Ma?" tanyaku pada ibu sambung bang Daeng, yang mengambil alih untuk mengurus Jasmine dari bang Daeng.


"Di ruang tamu, masuk aja." jawabnya, dengan menyuapi Ceysa dan Jasmine makan.


Aku mengangguk, kemudian segera memasuki rumah beliau. Ini pun rumah atas nama Ceysa. Tapi kelak Ceysa besar nanti, ia akan menepati rumahnya sendiri yang berada di belakang rumah Chandra. Rumah ini, sengaja untuk ditinggali mangge Yusuf dan istrinya.


Terlihat, bang Daeng tengah terlelap dengan posisi duduk.


Aku duduk pelan di sampingnya, lalu menyentuh lengannya.


Panas.


Kulitnya saat berkontak dengan telapak tanganku.


"Sakit kah, Bang?" aku mengusap keringat di wajahnya.


Matanya terbuka perlahan, "Nyeri perut, Dek." jawabnya begitu lemah.


Aduh, bagaimana ini?


"Cek di rumah sakit sini aja, Bang. Biar di hari H nanti, Abang udah sehat." aku bersandar pelan di lengannya.


Namun, ia melingkarkan tangannya ke tengkukku. Membuatku malah bermanja di dadanya.


"Doain yang terbaik buat kita ya? Kalau memang Abang gak mampu, semoga acaranya gak berbarengan."


Aku mendongak menatapnya, "Ngomong apa sih, Bang?" aku menepuk pahanya pelan.


Ia terkekeh kecil, "Dokumen udah aman ya, Dek. Udah Abang bagi-bagi atas nama anak-anak, tapi atas kuasa Adek. Kalau mereka jual usaha Abang nanti, gak bakal bisa karena harus ada tanda tangan dari Adek." ia mengusap-usap bagian belakang kepalaku.


"Udahlah, Bang. Jangan ngomongin ini itu aja." aku mengusap-usap dadanya.


Terasa nyaman jika bersandar seperti ini.

__ADS_1


Coba mas Givan. Satu dua detik, ia memang bertahan. Namun, jika sudah lewat dari lima detik. Ia pasti sudah ribut sesak, sempit, begah, gerah.


Aku jadi menahan tawa, jika teringat ayahnya Chandra yang unik itu.


"Oh iya, Bang. Ada bibi aku dari Jawa, dia datang sama suaminya. Nama suaminya om Carman, nama bibi aku, bibi Hana. Dia mau ketemu sama Abang." aku memainkan bulu dagunya yang cukup lebat itu.


"Abang pengen kek gini dulu, bentar aja." ia memberiku kecupan kecil di pucuk kepalaku.


Aku menghirup wanginya, bau khas yang selalu aku rindukan.


"Abang baru mampu bangun masjid satu. Nanti pesanin ke Givan, Dek. Kalau ke Pintu Rame Gayo, tolong suruh orang buatkan masjid buat para pekerja yang sholat. Biar mereka gak harus pulang dulu, atau nyari masjid di tengah kampung gitu. Karena di area ladang juga, udah ada masjid."


Memang tujuannya baik. Tapi aku merasa, bang Daeng banyak mengaco.


Cup....


Aku mencium rahangnya.


Ia melirikku sekilas, garis bibirnya tertarik cukup lebar. Sepertinya, ia merasa malu-malu kucing.


"Jangan harap kita tembus malam pertama setelah akad." ujarannya membuatku tertawa lepas.


Aku menegakkan punggungku, lalu menghadap padanya dengan masih tertawa bersama.


Aku hanya menggurauinya saja.


Ia menarik tangan kiriku, lalu mencium punggung tanganku sekilas. Bulu kumis dan dagunya begitu terasa.


Mata yang selalu mengunci ketika menatap itu, terlihat layu dan berbinar. Tatapannya sulit diartikan.


"Ada cerita apa, Dek?" ia membelai pelipisku.


"Ria galau. Dia sadar, bahwa dia anak hasil pernikahan siri. Dia gak punya akte kelahiran. Otomatis, nanti dia menikah pun siri lagi. Karena tak bisa melengkapi dokumen untuk di KUA. Nanti katanya siklusnya begitu terus sampai Ria jadi nenek buyut. Aku udah ngobrolin ke ibu. Cuma, apa coba kata ibu?" aku seperti tengah berghibah.


"Apa memang?" tanyanya yang ternyata menyimak ceritaku.


"Ibu bilang, ya udah siri juga tak apa, yang penting halal."


Bang Daeng geleng-geleng kepala, "Mamah Dinda ya kek mamah Dinda. Ibu ya kek ibu."


Ya, aku pun tak percaya dengan jawaban ibu. Seolah begitu ringan, tanpa memikirkan resiko yang Ria tanggung nanti.


"Coba Abang telpon temen Abang dulu." ia meraih ponselnya, yang dulu aku gunakan.


Ponsel itu tergeletak di sebelah kirinya. Sedangkan aku, berada di sisi bagian kanannya.

__ADS_1


"Hallo, Ri. Gini loh......" bang Daeng mulai menjelaskan dengan gamblang mengenai permasalahan Ria.


"Belum dua puluh tahun anaknya. Gimana nanti kalau ikut KK aku dan aku sebagai orang tuanya. Akte kelahirannya juga gitu, bisa gak?"


Bang Daeng terdiam, ia sepertinya tengah menyimak penjelasan temannya di seberang telepon tersebut. Daengku terlihat serius.


"Ada sih, bapak aku. Tapi, beliau baru menikah bulan kemarin. Atas dasar saran dari kau, mengenai Jasmine juga."


Aku hendak berdiri, karena mendengar sambutan keluarga lagi. Pasti, ada family jauh yang baru datang lagi.


Namun, bang Daeng malah menahan pergelangan tanganku.


Indra pengelihatan kami bertabrakan. Bang Daeng mengedipkan matanya rapat, lalu mengangguk kepalanya.


Mungkin, ia ingin aku tetap tinggal di sini.


"Ada keknya, tapi ibu aku udah almarhum. Udah lama sih, pas aku masih kecil." ujarnya kemudian.


Ia masih berbicara dengan temannya.


"Kau bisa memang? Kalau bisa, aku transfer uang dan dokumennya ya? Kek biasa, aku tau jadi tanpa sidang."


Aku duduk kembali di sebelah bang Daeng. Bang Daeng pun, masih menggenggam pergelangan tanganku cukup erat.


"Ok, ok. Siap, Ri."


Akhirnya, bang Daeng menyelesaikan panggilan teleponnya.


"Gimana katanya, Bang?" tanyaku cepat.


"Bisa, ikut KK mangge. Dengan nama orang tua, mangge dan ammak Abang. Biar nanti Ari yang atur, kita tau beres."


Aku mengangguk mengerti. Sungguh, aku tidak tenang menghilang dari keramaian ini.


"Bang... Ayo ke depan, ramai orang loh. Ayo kenalan sama semuanya." aku mencoba mengajaknya kembali.


"Padahal, masih pengen mojok di sini." bang Daeng malah manyun.


"Ayolah, Bang. Aku tak enak sama mas Givan. Dia sibuk sama kerjaannya, tapi malah nyambut tamu terus. Apa lagi bibi Hana ini, dia sampai marahin mas Givan." aku menerangkan singkat kejadian di rukoku.


"Ayo, ayo. Kita temui bibi Hana dulu."


...****************...


Jeng........ Gimana tanggapan bibi Hana, melihat calon suami Canda yang jauh dari kesan tampan. Tapi percayalah, bang Daeng begitu menarik, apa lagi matanya. 🤩

__ADS_1


__ADS_2