Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD122. Lower


__ADS_3

Senyumku tertarik dari Sabang sampai Merauke. Aku ke luar dari store perhiasan ini, dengan memeluk kotak beludru sebesar buku tulis dalam paper bag berlogo toko mas ini.


"Kampungan deh." bang Daeng mencubit pipiku.


Aku memeluk lengannya begitu erat, biar sajalah, kami adalah pasangan halal.


"Aku seneng kali, seumur-umur aku baru dibelikan emas lagi selain mahar. Mahar pun dijual buat beli motor dia." curcolku kembali keluar dari mulutku.


Ia tak menyahutiku, entah ke mana arah pandangannya. Aku pun begitu merasa plong, beban hidupku seakan terhempas semua.


Bughhhh....


Tangis anak kecil langsung menggema, ia terduduk di lantai setelah menabrak kaki suamiku.


"Hai, Nak." pelukan tanganku pada lengannya seketika terlepas. Bang Daeng langsung menunduk, kemudian membantu anak ini untuk bangun.


Ini adalah di depan zona bermain anak-anak. Namun, di mana orang tua yang mengawasi anak ini?


Anak itu sudah berada di dekapan bang Daeng. Ia mencoba menenangkan anak itu, dengan membawanya masuk ke zona bermain anak-anak.


"Bang... Mana orang tuanya?" aku mengikuti langkah kakinya, yang menggendong anak laki-laki tersebut.


"Hai, Ziyan. Aduh, kau dari mana?" aku melotot sempurna, melihat Nadya berjalan ke arah bang Daeng.


Jadi, anak laki-laki ini adalah anak Nadya?

__ADS_1


"Anak kau ada di luar zona. Jagalah dia baik-baik, bahaya kalau di sampai mainan di eskalator." bang Daeng memarahi Nadya.


"Aku lagi tukar koin, tapi dia udah lari aja." nada suara Nadya kurang bersahabat.


Hai, hai, hai.


Lagu-lagunya jadi menantu baru mamah Dinda.


Aku yang pendiam dan penurut pun, pernah beberapa kali mendapat amarahnya. Apa lagi, modelan sepertinya?


Belum saja ia merasakan, rasanya dimarahin mertua yang dikenal bermulut tajam itu.


Bukannya aku tengah menjelekkan mamah Dinda. Hanya saja, aku tengah membayangkan Nadya dibentak dan disuruh dengan nada tinggi oleh mamah Dinda.


Mamah Dinda mertua yang baik, kalau moodnya sedang bagus. Namun, jika ia tengah berdebat dengan suaminya. Pasti saja aku yang penurut ini mendapat imbasnya juga. Meski hanya bentak-bentak tipis.


Ehh, ngomong-ngomong. Ke mana ayahnya Chandra pergi?


"Aku lagi hamil. Biar dia suruh jalan sendiri." Nadya tak menyambut anaknya yang diulurkan oleh bang Daeng.


"Ishhh! Bawalah suami kau, ajak dia buat gendong anak kau!" aku baru tahu bahwa bang Daeng adalah orang yang cerewet, meski pada orang yang tidak dikenalnya.


"Ya, ya, ya." ketusnya jawaban Nadya.


"Ayo, Bang." aku mengajak bang Daeng untuk segera pergi.

__ADS_1


"Eh, ehh. Kau Canda kan?" lenganku langsung dicekal oleh Nadya.


"Adek kenal dia?" tanya bang Daeng padaku.


"Gak mungkin kalau gak kenal. Dia bahkan hadir pas pernikahanku sama suaminya." bukan aku yang menjawab, mainkan si Kaktus ini.


Bangga sekali dia.


"Kenal, Bang. Dia musibahku kemarin. Perempuan yang tak tau malu ngeladenin suami orang, padahal dirinya punya suami. Dia mamah tirinya Chandra." aku menatapnya sekilas, lalu aku fokus pada bang Daeng.


Aku merasa lukaku seperti terkoyak kembali.


"Oh, Lower! Kau kira, kau begitu menjepit kah? Kemarin papahnya Chandra cuma laper aja, makanya jajan di luar. Gak kecelakaan sih, keknya gak bakal tuh dinikahin." mulut laki-lakiku seperti ini?


"Kau!!!" Nadya menunjuk wajah bang Daeng.


"Udahlah Bang Daeng!" aku menarik lengan bang Daeng.


"Ck... Muka aja sampai busik kek gitu. Puas! Cuma dapat yang setimpal dari kebodohan kau!" maki bang Daeng dengan menunjuk wajah Nadya begitu dekat. Bahkan, seperti akan mencolok matanya.


"Jadi... Ninggalin yang ganteng, buat mertahanin yang hitam begitu Canda? Tak pantas kalau disebut kau dapat yang lebih baik dari Givan."


...****************...


Lower, lebih rendah artinya. Bahasa Inggris ini. 😅

__ADS_1


Bukan dower ya kak 😁


Kin lagi hamil besar, dia bisa ngayun Chandra. Nadya, ketimbang anak sendiri. Memang sih pro dan kontra gendong anak saat lagi hamil ✌️😁


__ADS_2