
"Van, Van... Ambil KK, KTP, sama akte kelahiran kau. Buat keperluan akad besok." papah Adi muncul, beliau sudah menggunakan setelan sarung dan baju koko.
Jadi, amanat bang Daeng benar akan langsung ditunaikan?
Aku tidak keberatan, jika batal sekalipun.
"Duh...." mas Givan memberikan nampan berisi gelas tersebut ke orang yang hadir.
Lalu ia memegangi rahang bagian kirinya, dengan menghadap papah Adi, "Lusa lah, atau minggu depan. Aku cabut gigi dulu, sama tanam gigi baru. Udah tak tahan kali." ujarnya dengan ekspresi seperti akan menangis.
"Kasian Lendra, Van." suara papah Adi seperti ditekan.
"Ya udah, ya udah. Suruh tuh menantu Papah, belikan aku obat biar tak sakit gigi lagi." lalu suara air liur seperti ditarik dari bagian pipi dalam.
"Papah tanya, kau mampu tak?!"
Dalam situasi seperti ini, suara papah Adi terdengar sedikit meninggi begitu tegas.
"Mampu, dari awal pun aku ngajakin rujuk. Masalahnya aku sakit gigi, Teungku haji!" mas Givan sampai ngotot-ngotot.
Lalu, mas Givan melarikan diri ke arah dapur. Di sana ada akses pintu untuk keluar masuk rumah.
"Orang tuh tak ada yang ngerti rasanya sakit gigi kah? Apa pada tak pernah merasakan sakit gigi?" mas Givan menggerutu dengan suara yang lantang.
Mungkin sengaja, agar orang yang ia sindir mendengar penuturannya.
Aku mendengar suara dato yang masih menangisi cucunya itu. Beliau dipapah Ferdi, untuk duduk dan berkumpul bersama kami di ruang keluarga ini.
"Lendra... Kenapa kau duluan? Kalau dengan tobat, kau malah dipanggil lebih dulu. Lebih baik, ingat akhirat nanti aja Len. Masanya Dato udah tak ada, barulah kau ingat akhirat kau."
Ocehan orang tua yang umum. Bukan hanya sekali, aku melihat orang tua yang ingin dipanggil lebih dulu ketimbang orang tersayangnya.
Ternyata di balik kegarangan dan cerita kejam bang Daeng tentang dato. Dato begitu menyayangi cucunya itu.
Pasti hari ini bang Daeng tahu, bagaimana dato kehilangan dirinya.
"Mamah tak hafal Yasin, bisa kah kau carikan Yasin buat Mamah?" pinta mamah Dinda dengan berbisik-bisik.
Aku mencarikan yang mamah Dinda inginkan. Kemudian, kami kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama para pelayat perempuan yang datang. Hingga beberapa jam kemudian, bang Daeng sudah terbalut kain kafan dan dirinya sudah ditempatkan di dalam keranda. Namun, belum ditutup bagian atasnya.
"Malam ini sekalian, Pak. Iya, soalnya almarhum amanatin akadnya tetap berlanjut." papah Adi tengah menjelaskan pada seseorang yang aku kenali.
__ADS_1
Bapak yang sudah berambut abu-abu tersebut, berprofesi sebagai seorang penghulu. Papah Adi pun, mendaftarkan pernikahanku dan bang Daeng pada beliau.
Bapak haji Ahmad, biasa beliau dipanggil.
Di daerah sini pun, beliau biasa mengimami untuk sholat jenazah. Beliau sengaja dipanggil, untuk memenuhi kegiatan pemakaman.
"Mana menantunya Teungku haji itu? Saya mau ngomong."
Papah Adi menunjukku, yang masih duduk di ruang keluarga.
Aku segera mengangguk, kala papah Adi melambaikan tangannya padaku. Aku segera mendekat, dengan menitipkan Chandra pada mamah Dinda. Aku menuju ke ruang tamu yang yang menjadi tempat peristirahatan bang Daeng yang berselimut kain jarik sampai menutupi wajahnya.
Ceysa merengek kembali. Mungkin ia merasa, bahwa dirinya sekarang menjadi anak yatim. Tapi dirinya tidak mengerti keadaan ini.
"Ini nih, Bang. Disemprotkan ke gigi dan gusi yang sakitnya." ucap Kinasya, dengan memasuki ruangan dari depan.
Mas Givan yang duduk dan mengaji di depan bang Daeng langsung menoleh ke arah munculnya Kinasya, "Mana?" mas Givan mendekati Kinasya.
"Ini, Pah. Ceysa ngerengek terus." aku kewalahan, karena Ceysa sering memukuli kepalaku.
"Ceysa anteng kalau main HP aja sih? HP habis baterai, Adek Ceysa ngamuk lagi." papah Adi mengambil alih Ceysa dariku.
"Gimana, Pak haji?" aku berhadapan dengan pak penghulu.
Sejujurnya, pada awalnya aku mengajak bang Daeng rujuk semata-mata agar bang Daeng memiliki semangat hidup. Namun, aku pun lelah berjualan. Aku tidak enak hati, karena papah Adi selalu memberiku uang perminggunya untuk uang jajanku. Aku pun tidak enak hati, malah merepotkan ibu untuk biaya ruko. Seperti listrik dan lain-lainnya.
Sedangkan, isi ATMku sudah ludes. Untuk Ria, untuk kebutuhan rumah, untuk peganganku sehari-hari. Sampai tidak terasa, saldo mengendap tinggal dua belas ribu.
Kasarnya, aku membutuhkan suami karena ingin dinafkahi. Mau tidak mau, jalan keluarnya adalah aku menikah lagi.
"Ya, Pak. Sesuai permintaan almarhum aja." jawabku dengan melirik bang Daeng yang tertutup kain jarik tersebut.
Pak Ahmad menghela nafasnya, "Laki-laki yang diamanatkannya siapa? Kalau data baru masuk pas akad besok, kemungkinan buku nikahnya bakal jadi minggu depan. Kalau nak Lendra panjang umur, akad besok tuh buku nikahnya udah jadi. Soalnya data masuk udah lama."
Aku melirik papah Adi yang berada di ambang pintu bersama mas Givan dan Kinasya.
"Hmmm...." aku ragu mengatakannya.
Pak Ahmad mengikuti arah pandangku, "Bang Givan?" tanya beliau pelan.
Aku mengangguk samar, "Ya, Pak. Saya diminta rujuk sama ayahnya Chandra, anak pertama Saya." akuku kemudian.
__ADS_1
Beliau mengangguk, "Ya udah, kalau kau ikhlas ridho menerima. Besok tetap dilangsungkan. Untuk masalah mahar dan keperluan dokumen, biar Saya tanyakan ke pihak bersangkutan."
"Iya, Pak." aku memberinya senyum ramahku.
Beliau mengangguk, lalu menghampiri papah Adi yang tengah menerangi mulut anaknya dengan senter ponsel tersebut. Ceysa tentu anteng, ia langsung sigap bertindak seperti dokter.
"Semprot tuh, Kin." pinta papah Adi kemudian.
Mas Givan tengah diobati sakit giginya. Sudah tua, masih sakit gigi saja. Bahkan tadi mas Givan berniat untuk mencabut dan menanam gigi baru. Pasti, sakit giginya karena giginya berlubang.
"Teungku haji, Saya mau ngomong dulu sebelum nyolatin Lendra." pak Ahmad menepuk pundak papah Adi.
"Udah, udah." mas Givan menutup mulutnya.
Kemudian, obat semprot itu berpindah ke tangan mas Givan.
"Ces sama Ayah yuk, kita kasih salam ke mangge dulu." mas Givan sudah bisa tersenyum manis.
Sehebat itu obat semprot itu.
Pelayat dan suara orang mengaji semakin ramai terdengar. Alhamdulillah, banyak yang mendoakan orang baik ini. Setidaknya, untuk bekal bang Daeng di kuburnya nanti.
Aku duduk dalam barisan para perempuan, untuk mengaji di depan bang Daeng ini.
Terlihat Ceysa dibawa mas Givan untuk melihat bang Daeng yang tertutup kain jarik itu.
"Geee.... Jajan." Ceysa begitu girang melihat wajah ayahnya itu.
Tahukah kalian, aku merasa begitu hancur dan begitu menyesal setiap kali seseorang mengingatkan tentang bang Daeng seperti ini.
Aku sangat menyesal, dulu pernah menyia-nyiakannya.
"Jangan ditarik, tak boleh. Nanti semut masuk." mas Givan menjauhkan Ceysa dari wajah bang Daeng.
"Geeeee.... Anun, jajan." Ceysa sudah merengek.
Aku takut ia mengamuk hebat, saat mengerti bahwa manggenya tidak akan bangun kembali.
"Van.... Canda.... Sini dulu." papah Adi melambaikan tangannya, lalu beliau menunjuk ke kursi yang berada di bagian luar.
...****************...
__ADS_1
Ceysa kau belum paham apa-apa, Nak ðŸ˜