
"Jam berapa jadwal operasinya, Mas?" aku sudah berada di kamar inap, dengan asuransi keluarga besar.
Bukan mas Givan tidak mampu membiayai, mas Givan tetap membayar setengahnya. Hanya saja, inilah gunanya asuransi. Begitu, menurut mamah Dinda.
"Jam sembilan pagi besok. Jam tiga malam kau udah harus puasa, Canda." mas Givan terus membuatku mengantuk, dengan mengusap-usap alisku.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam, kami datang ke rumah sakit saat pukul setengah tujuh malam tadi. Ya, aku diminta menginap semalaman di rumah sakit sebelum tindakan operasi itu berlangsung.
"Mas, kita berdua aja kah?" aku merasa miris, karena keluarga tidak menemaniku di sini.
"Ya, memang kenapa? Kau tidurlah, istirahat biar fit." ia tersenyum, dengan ibu jarinya yang mengusap alisku.
Gara-gara bacaan, yang aku baca pagi tadi. Aku menjadi was-was menghadapi operasiku besok. Artikel menyebutkan, jika salah anestesi punggung itu, makan akan bisa lumpuh seumur hidup.
"Mas, boleh bius total tak sih? Biar aja aku bangun setelah beberapa jam gitu." aku lebih memilih tidak sadarkan diri, daripada dioperasi setengah sadar.
Aku takut trauma nantinya.
"Nanti kita tanyakan ke perawat. Infus kau belum habis, jadi tak bisa nanya-nanya." mas Givan menguap lebar.
"Mas, anak kita perempuan atau laki-laki sih?"
Mas Givan menghela nafasnya, "Tak tau, Canda. Kan belum lahir." urat wajahnya langsung kaku.
Dasar, tukang emosian.
"Mas jangan kuno deh, kan bisa lewat USG."
Namun, ia langsung berubah seperti suara zombi yang ingin memakan mangsanya. Ia menyembunyikan wajahnya di leherku, seolah akan menghisap darah dari sana.
Eh, zombi kah vampir?
Aku tergelak, dengan menahan kepalanya.
"Mas Givan..." aku tertawa renyah dengan membingkai wajahnya.
__ADS_1
"Udah, tidur! Jangan ngobrol aja, aku ngantuk." ia menyibakkan dahiku.
"Bobo di sini ya, Mas? Nih, di sebelah aku." aku menggeser posisiku.
"Kan ada kasur di sebelah sana, Canda." mas Givan menunjuk kasur untuk yang menemani pasien.
"Kelonin aku dulu, Mas. Sambil ngobrol-ngobrol, karena belum ngantuk nih." aku membelai bulu dagunya.
"Ngobrol apalagi, Canda?" suaranya begitu lelah.
"Putri, Ai Diah, Fira, Nadya mantan-mantan Mas yang lain." aku masih penasaran, karena suamiku tidak pernah menjawab.
"Ai Diah sama Nadya buat di season 2, novel ini udah terlalu panjang. Fira kan udah selesai, dia udah mau nikah sama Van itu. Siapa itu namanya? Lupa aku." mas Givan memejamkan matanya mengingat sesuatu.
"Barend Van Hanson." aku memilih untuk menyebutnya Van saja, karena namanya mirip suamiku.
Jika Fira, ia mengajarkan anaknya menyebut daddy Barend. Aku takut salah berucap, lalu menyebutnya daddy Bared. Masa iya orang namanya 'lecet' dalam bahasa Indonesia.
"Iya itu." mas Givan menjentikkan jarinya.
"Orang tua aku tak suka. Meski kau tak bisa apa-apa, tapi kau disukai orang tua aku. Aku nyari istri, yang bisa jadi menantu untuk orang tua aku. Mana kan, aku sama Ghifar ini pernah berhubungan dengan perempuan yang sama. Resiko Fira selingkuh sama Ghifar, itu rawan terjadi karena mereka pernah punya hubungan. Dengan dulu Fira berani ambil resiko selingkuhin aku, berarti dia bakal berani ambil resiko itu juga. Perempuan, selingkuh, itu udah fatal. Karena perempuan ini kalau selingkuh, pasti bagi perasaan dan hatinya. Lebih-lebih, malah berpaling ke lain hati. Bukan cuma bagi aja. Sekalipun Fira nurut, dia nurut kalau udah ketahuan aja. Sedangkan kau, gelagat kau udah ketahuan. Angan-angan kau besar, tapi kau tak berani ambil resiko. Tapi tetep aja, aku wanti-wanti itu karena kau bekas Ghifar."
Oh, jadi begini pandangan mas Givan pada Fira.
"Terus Putri? Dia berapa lama dipenjara?" belum ada kejelasan tentang ini.
"Tujuh belas tahun penjara, dendanya berapa puluh triliun gitu. Pasal berlipat soalnya."
Apakah Putri akan kembali merecoki, ketika ia baru pulang dari penjara?
"Ada nangis tak dia, Mas?" aku teringat air mata buayanya.
"Ada, nangis seolah paling tersakiti. Banding pun, pandai lah dia ngakalinnya. Aku hampir kena pasal penipuan juga, karena ingkar dalam perjanjian. Tapi aku kan bukan ingkar, aku kan berhasil sukses gitu, jadi kan perjanjiannya tentang masalah ganti uang aja. Kecuali aku gagal bisnis nih, ya otomatis aku yang ditarik. Kau ngerti tak?" mas Givan memandangku serius.
Sebentar, aku mencari kalimat yang lebih mudah dipahami lagi.
__ADS_1
Mas Givan hampir terjerat pasal penipuan, dalam perjanjian lama dengan Putri. Ya, tentang perjanjian jika mas Givan bangkrut dengan modal dari Putri. Ia akan mau menikah dengan Putri, sebagai bukti penyerahan dirinya. Namun, jika mas Givan sukses dengan uang pinjaman dari Putri. Maka, mas Givan wajib membayar nilai yang Putri keluarkan.
Oke-oke, aku mengerti.
Aku mengangguk, "Terus gimana, Mas?" tanyaku kemudian.
"Alhamdulillah aman, karena Mavendra stok uang." mas Givan terkekeh kecil.
Aku tak mau membahas ini. Namun, aku paham dengan maksudnya.
"Sedikit aja tentang Nadya? Enak tak dia? Gaya apa aja sama Nadya? Terus dia gimana aja servis Mas?" aku sampai kalah dengan perempuan itu.
"Nadya ini.... Temen satu sekolah dulu. Temen kuliah, lebih tepatnya. Jadi kek BESTie gitu, dia tau sepak terjang aku gimana. Dia pun tau aku keturunan siapa dan seberapa kayanya keluarga aku. Dari dulu, memang dia mudah dipegang." mas Givan mengisyaratkan tanda kutip saat mengatakan pegang, "Sering tuh dulu clubing bareng. Bahkan, dulu perawannya aku yang ambil. Bukan karena aku perkosa dia, atau dia jual diri kek kisah Fira. Tapi, di situ kami sama-sama ingin aja. Ada beberapa pola pikir yang berpendapat, pengalaman seseorang dilihat dari ketidakperawannya dirinya. Ya, ini mungkin pola pikir orang yang suka berpikir keras. Dia sepakat lepas itu, dengan bantuan dari aku. Aman itu, tak hamil juga."
Hah, sebegitu bebasnya pergaulan suamiku? Pola pikir yang ia ucapkan tadi, itu adalah salah satu pola pikir orang yang tidak percaya agama, menurut ustadzahku dulu. Semakin cerdas orang, semakin mereka tidak percaya dengan agama. Karena, teori keagamaan tidak masuk ke logika mereka. Meski kenyataannya, yang disebutkan di dalam agama kita pasti akan terjadi nyata.
"Terus, Mas?" sialnya, kantukku malah datang.
"Ya terus reuni itu. Aku kan pernah beberapa kali cerita, tentang reuni itu."
Aku mengangguk, karena hal itu tidak perlu dibahas menurutku.
"Terus kenapa pas kita sebelum rujuk ini, Mas Givan hapus foto-foto kita. Foto nikahan, foto Chandra. Aku tersinggung loh." aku langsung berekspresi manyun.
"Karena foto kita nikah jelek, aku dibully istrinya tertekan di foto nikahan itu. Masalah Chandra, sebenarnya aku agak malu jadi ayahnya. Chandra terlalu sempurna, untuk di titipkan ke kita. Temen-temen aku tau, aku begini loh. Terus, anakku sesuci dirinya. Ya memang, anak-anak suci dan tidak berdosa semua. Tapi kau pasti tau, apa bedanya Chandra dan Key kan?"
Tapi sekarang, bahkan koleksi fotonya adalah anak-anaknya semua.
"Mas lepas perjaka usia berapa, terus sama siapa?" seiring dengan keluarnya pertanyaanku, nampak jelas reaksi kagetnya yang terlihat berlebihan.
Ada apa dengan pertanyaan itu?
Apa aku mengenal orang tersebut, sampai mas Givan terlihat kaget seperti itu?
...****************...
__ADS_1