Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD225. Bukan sumbangan


__ADS_3

"Jatah Chandra ya? Seikhlasnya aku sekarang sih, cuma dua juta tiap bulan. Ini jumlahnya, sekitar dua puluh empat juta. Jadi, jatah sampai satu tahun mendatang."


Lalu ia melirik mamah Dinda, ia pun mengeluarkan uang dari paper bag yang sama.


"Ini jatah Key ya, Mah. Ada dua puluh lima juta." ia tersenyum kuda.


"Selamanya? Mamah jitak juga kepala kau!"


Aku dan mas Givan terkekeh geli.


Bukan rahasia lagi. Jika kebutuhan Key ini sudah lumayan besar. Gadis cantik berambut ikal gantung itu, sekarang sudah bersekolah. TK yang mengajarkan ilmu qiraat, cukup tinggi bulanannya untuk kalangan pendidikan biasa.


Mamah Dinda pernah berkata, uang pendaftaran sekolah Key sekitar lima juta. Belum lagi SPP setiap bulannya, yang menginjak angka dua ratus ribu perbulan.


Gibran yang anak juragan terkaya di kampung ini saja, ia bersekolah di TK ujung jalan. Dengan pendaftaran biaya masuk plus seragam, senilai tiga ratus tujuh puluh ribu. Uang SPP pun, hanya sekitar dua puluh ribu, wajib ganti majalah belajar tiap bulan yang dikenai biaya sepuluh ribu.


Itu adalah cerita dan gerutuan mamah Dinda.


Tempat mencari ilmu menurutku bukan masalah besar. Karena Gavin dan Gibran sekarang, selalu masuk ranking tiga besar. Mereka pun, pandai berbahasa Brasil dan mengerti bahasa Inggris. Bahasa daerah pun ngelotok betul, minus bahasa Indonesia saja yang kadang mereka suka keliru. Padahal mereka bersekolah di sekolah yang biasa saja. Sekarang pun, mereka bersekolah di SD negeri yang tanpa dipungut biaya lain-lain.


"Satu tahun deh, Mah." jawab mas Givan kemudian.


"Terus..." ia memberikan uang yang berada di dalam amplop padaku, "Buat mantan mertua. Aku tak enak ngomong, kau aja yang sampaikan. Bilangin, makasih udah mau ngurus anak-anak aku." ungkap mas Givan.


"Berapa itu?" tanya mamah Dinda.


"Lima belas jutaan, Mah." wajah mas Givan terlihat malu-malu.


"Ya udah tak apa. Kau pegang berapa sekarang?" mamah Dinda mengambil alih paper bag tersebut.


"Sepuluh jutaan. Aku banyak urusan di sini, Mah. Nanti bulan besok, aku ke Kalimantan lagi. Baru mulai sidang-sidang. Papah pun aslinya udah tak di Kalimantan, Mah. Dia pulang ke Majalengka, ke rumah istrinya." mas Givan menepuk bantal tidurnya.


"Jadi tuh, Mah. Sebelum mamah Syura ini, papah Hendra pun punya istri lain."


Aku bisa melihat reaksi kaget dari mamah Dinda.


"Terus-terus?" mamah Dinda terlihat seperti akan berghibah.


"Anak yang nakal ini, bukan anak dari mamah Syura. Anak dari Elis ini, anak laki-laki juga, dia tertua di antara anak-anak dari mamah Syura." aku tidak mengerti dengan susunan keluarga mas Givan di sana.

__ADS_1


"Elis?" mamah Dinda memicingkan matanya.


"Ya, Mah. Aku kan sebelum pulang ke sini, aku ke Majalengka dulu, turun di Bandar Udara Internasional Kertajati itu. Tak jauh dari situ, kan sampai aku ke rumah mamah Syura. Papah cerita-cerita tuh. Papah masa itu telpon Mamah, ngaku keadaan PT begini-begitu karena disekap anaknya Elis ini. Kan anaknya Elis sama suami sebelum papah ini dua, anak sama papahnya satu. Nah, ketiga anak itu kerja sama. Papah pun dituntut penelantaran anak."


Aku khawatir, karena mamah Dinda sampai tidak berkedip.


"Mah? Tak apa kah?" aku menggoyangkan lengan mamah Dinda.


Mamah Dinda tersadar, lalu ia mengedipkan matanya begitu cepat. Sesaat kemudian, ia langsung menoleh ke arahku.


"Mamah tak apa, kaget aja." jawab beliau.


"Terus, Van?" tanya mamah Dinda pada anaknya kembali.


Alasanku tetap di sini, karena aku penasaran. Rasa kepo ini terlalu dalam.


"Mamah kenal Elis tak?" ucap mas Givan dengan mengeluarkan uang, yang tersisa di paper bag tersebut.


"Elis Sulastri kah?" dari namanya, orang tersebut seperti berasal dari daerah Sunda. Dulu teman kuliahku yang berasal dari daerah Sunda, banyak yang memiliki nama Lastri seperti itu.


"Mamah tau?" mas Givan menjeda kegiatan menghitung uangnya.


Hah?


Aku sampai melongo saja dengan memandang mamah Dinda dari samping. Cara move on mamah Dinda begitu ekstrim.


"Entah Elis siapa. Mantan suaminya ini, namanya Supriyadi. Dia ini, dalang di balik semuanya."


Mamah Dinda menjentikan jarinya, "Betul, kawan papah Hendra yang nikah sama Elis itu namanya Supriyadi Jati." terang mamah Dinda.


"Heh! Ghibah pagi-pagi! Canda!!! Itu suami kau bawa mangkuk Chandra sama botol minumnya. Sana! Suapin anak kau!" seru papah Adi dari ambang pintu.


"Eh, iya Pah." aku segera bangkit, lalu nyelonong pergi.


"Uangnya bawa, Canda." tukas mas Givan yang bisa aku dengar.


"Titipkan ke Mamah aja, nanti aku ambil." seruku dengan melanjutkan langkahku.


Aku langsung menyusuri jalanan. Semoga saja bang Daeng belum jauh. Pasti ia sudah memasang wajah masamnya padaku. Jika sudah mengobrol dan berghibah seperti tadi, aku sampai lupa waktu.

__ADS_1


Terlihat punggung lebar itu, dengan tangan anak kecil yang menjuntai di bahu belakangnya. Kontras sekali warna kulit Chandra, dengan manggenya itu.


"Bang Daeng...." panggilku panjang.


Ia menoleh ke arahku.


Tangan kecil itu, melambaikan tangannya. Chandra mengenali ibunya, meski dari jauh.


Aku mengangguk, kemudian melanjutkan langkah kakiku. Bang Daeng pun diam di tempat, ia mungkin tengah menungguku.


Beberapa saat kemudian, aku langsung mengganduli lengannya dengan nafas senin kamis.


"Udah kangen-kangenannya?"


Aku memperhatikan wajahnya. Jelas, citrun tercampur rata di wajah bang Daeng. Urat wajahnya terlihat begitu masam.


"Mana ada. Mas Givan orangnya tak bisa romantis, bercanda pun banyak tersinggungnya." aku sengaja memilih jawaban ini.


Terperangkap.


Bang Daeng langsung melotot tajam dengan sorot membunuhnya. Ia terlihat begitu kaget.


Aku menepuk lengannya, lalu aku tergelak begitu lepas.


"Apa sih?!" tanyanya ketus.


"Gurau, Bang. Mas Givan ngasih uang buat jatah Chandra setahun, dia juga balikin mahar aku dulu yang dia jual. Tapi uangnya di mamah Dinda dulu, aku keburu kabur ngejar pangeran berkemeja marun ini." ungkapku dengan kekehan.


Senyum tipisnya tertarik begitu menggoda, "Adek gak bilang, bahwa Chandra udah punya ayah sambung? Kasih aja ke Givan lagi, bilang Chandra udah ada yang menuhin kebutuhannya."


"Biar aja lah, Bang. Chandra anaknya, setidaknya ia cuma ngasih uang jajan Chandra aja. Mas Givan masih ayah kandungnya, mau bagaimana pun ceritanya. Tak ada mantan ayah, atau mantan anak."


"Abang tau, ekonomi kita lagi kekurangan. Tapi gak minta sumbangan juga ke Givan, buat biayai kebutuhan Chandra." ia mengunci pandanganku.


"Aku tak minta sumbangan. Kok Abang ngomong gitu?! Mas Givan cuma ngasih uang buat kebutuhan anaknya, bukan ngasih sumbangan. Abang kenapa sih? Mas Givan pun baru kali ini begini. Baru kali ini dia punya uang. Dia sadar kewajibannya, Abang yang paham keadaan ini. Ini bukan tentang sumbang menyumbang. Terus... Kita ini cukup, bukan lagi kekurangan. Harus setinggi apa nilainya, yang cukup untuk Abang?!"


...****************...


Kasih pedang satu-satu. Biar cepet tamat 😅 udah mumet mantengin jumlah favorit gak naik-naik 😩

__ADS_1


__ADS_2