
***Crazy Up 😁
Bantu sundul, Kak. 🤗***
Aku udah konsisten up, meski keadaan lagi gak selaras harapan. Mohon maaf, jika sudah mengecewakan 😉 Semoga dukungan kalian, tetap bikin mood aku bagus, semangat aku gak habis. Semoga doa-doa dan harapan kalian sama cerita ini, bisa membuat Author lebih baik lagi dari kekeliruan sebelumnya 😁 Terima kasih sudah sudi bertahan di empat season ini 🙏🤗
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalau Abang tak mau aku terlalu jauh. Harusnya, Abang bisa jaga diri Abang. Jangan terlalu dekat sama aku, apa lagi kontak fisik kek gini!"
Aku berontak, kala dirinya mulai menggangguku di atas tempat tidur.
Ya, aku ingin istirahat. Namun, malah diganggu olehnya.
"Abang gak bisa nahan diri." ia melepaskan kungkungannya, tubuhnya berguling di sampingku.
Yang membuatku syok, tangannya malah masuk ke dalam celana training panjang bermerek Nevada. Jelas, ini bukan celana lima belas ribuan. Celana itu memiliki harga, setara dengan celana jeans.
Matanya terpejam, ia seperti mengurut sesuatu di dalam celananya.
"Raya bawa kartu gak ya? Takut tiba-tiba dia masuk." posisinya berubah, ia sekarang telentang dengan memandang plafon kamar hotel ini.
"Memang mau apa?" aku masih memperhatikan pergerakannya.
Ia kembali dalam posisi miring, dengan menghadap padaku.
Matanya terlihat penuh kabut. Sesekali ia matanya terbuka, menatapku penuh dengan rasa minat, lalu matanya terpejam kembali.
Paham dari raut wajahnya, ia tengah dirundung rasa na*sunya sekarang.
"Oh, ya ampun!" aku langsung menutup mataku rapat.
Kepala keduanya mengintip dari gerakan tangannya di dalam celana.
Dia hitam, besar dan pipih.
Peliharaan yang sangat membagongkan.
"Jangan di sini coba, Bang!" aku tetap terpejam rapat.
"Dari tadi ganjal begini, gak nyaman. Sakit kali ditahan-tahan." dari suaranya, sepertinya ia masih berada di sebelahku.
"Jangan ngocok di sini!" aku sebenarnya takut melihat live show-nya.
__ADS_1
"Boleh masuk gak?"
Mataku terbuka, meliriknya sekilas. Ternyata, bang Daeng tengah memperhatikan wajahku dengan seksama.
"Apa lah!!! Mana boleh! Dosa!" aku beringsut dari tempatku.
"Di paha aja, jepit. Atau di dada."
Opsi macam apa itu?
"Tak mau aku!" aku memeluk bantal.
"Di paha aja. Ayolah, Sayang."
"Akhhhh..." dalam sekejap, aku seperti tempe goreng. Aku dibaliknya dengan begitu mudah.
"Maaf ya? Bentar aja." bang Daeng sudah berada di bagian belakang lututku.
Aku merasa daster sebetisku tersingkap sampai p*ngkal pahaku.
Plakkkk....
"Akhhhh...." aku langsung berteriak, kala mendapatkan tamparan yang mengagetkan di part belakangku.
Aku menoleh ke belakang, untuk melihat kegiatan nakalnya.
Ia tengah membasahi miliknya sendiri, dengan cairan dari mulutnya.
"Abang!!!" aku tak bisa menjangkaunya untuk memukulnya.
"Bentar, Dek."
Saat itu juga, di bagian paha dalamku seperti terselip benda bersuhu hangat. Ia keras dan lincah bergerak.
Ranjang sampai tergoyang, karena pergerakan pinggang bang Daeng yang mencoba menjinakkan peliharaannya itu.
"Uhmmmm..." aku menahan suaraku, karena aku merasa part belakangku diremas dan dicengkeram. Ia seperti berpegangan pada benda belakang milikku.
Desisan lirih, *rang*n tipis keluar dari mulutnya. Beberapa saat terjadi, nafasnya terdengar begitu memburu.
Hingga, lengg*han hebat berbarengan dengan cairan panas yang mengotori pahaku.
Tubuhnya langsung ambruk menindihiku, "Makasih, Dek. Maafin Abang, Dek."
__ADS_1
Sudahlah, terserah dia saja.
"Abang!!! Aku tak suka!" mulutnya memang rese, ia sekarang malah menj*lat dan menciumi tengkuk leherku dan bagian belakang telingaku.
Dengan tindakannya, aku benar-benar terpancing. Aku paling tidak suka, jika dipancing seperti ini. Karena, aksinya tidak bisa dipertanggung jawabkan.
"Jangan gituin aku! Itu kelemahan aku." ungkapku lirih, agar ia berbelas kasih padaku.
"Abang j*latin, mau?" tangannya terarah ke segala tubuhku.
"Udah aja! Sana turun! Aku mau tidur." suaraku sampai terdengar serak, padahal aku belum diapa-apakan olehnya.
"Gak dimasukin, gak di fingering juga. Abang o*al aja, Abang j*latin sampai keluar." bahu belakangku digigit, layaknya kucing betina yang tengah dikawini oleh pejantannya.
"Aduuuhhh..." gigitannya hebat sekali, semakin membuat rasa minatku bertambah besar.
"Mau gak? Abang gak akan maksa. Tapi keknya kau udah tak tahan betul, Dek. Lama ya gak dikeluarin?" ia berbisik di telingaku.
"Kalau Abang mau diam, aku tak bakal pengen." aku memalingkan wajah ke arah lain. Karena bibirnya sudah sampai di pipiku.
"Ayo mau gak? Abang bersih kok. Sama Putri kemarin main cepat, gak sempet ciuman mulut juga."
Aku pun yakin dirinya bersih. Hanya saja, aku takut dosaku semakin menjadi-jadi.
"Tak mau aku! Sana turun tuh! Berat!!" putusku cepat.
Bang Daeng menyangga berat tubuhnya dengan sikunya, meski aku ditindihi dalam posisi tengkurap. Tapi memang tidak berat, karena bang Daeng menahan beban tubuhnya.
Namun, ia malah membalikkan tubuhku.
"Belum pernah dikeluarkan cuma pakai lidah kan?" ia menggesekkan hidung kami.
"Abang jangan mulai!" aku membuang wajahku ke arah lain.
Aku tahu, ia tengah mengincar bibirku.
Saat dikerubungi na*su seperti ini, mata bang Daeng benar-benar seperti iblis.
"J*lat aja, kek gini nih." ia menj*lat pipiku dengan benda licin tak bertulang itu.
...****************...
Tergoda gak nih Canda?
__ADS_1
Kalau kalian, dihadapkan dengan laki-laki macam bang Daeng ini bakal kek mana? 😅