
"Ini apa?" tanya Jeni, ia terlihat bingung dengan barang-barang yang aku titipkan.
Aku mencoba tersenyum lebar, menyamarkan mata sembab yang aku miliki.
"Barang-barang milik bang Lendra. Aku mau pindah kos, soalnya kalau di sini aku jauh sama anak." aku memberikan paper bag lain pada Jeni.
Ia manggut-manggut, "Masuk dulu yuk? Keknya kamu ke sini jalan ya, sampai keringatan gitu." Jeni menarikku masuk ke dalam rumah subsidinya.
"Kamu tau rumah aku dari siapa?" tanyanya kemudian, setelah mempersilahkanku untuk duduk di kursinya.
Jika melihat perumahan subsidi seperti ini. Aku teringat TKP masa aku diperk*sa oleh ayahnya Chandra.
"Bang Dendi kirim alamatnya. Di depan gerbang perumahan sana, aku naik ojek. Tapi, ojek anter aku ke alamat sebelah. Aku udah bilang blok E, tapi dianter ke blok F. Jadi, dari blok F sana aku jalan ke sini. Pas nanya-nanya, katanya ini blok F, tak ada yang namanya Jeni." terangku kemudian.
"Aduh kasian, untung aku lagi shift malam. Aku bikin minum dulu ya. Sebentar." Jeni menepuk pundakku, lalu ia bergegas pergi ke ruangan belakang.
Keputusanku sudah bulat.
Aku akan menjemput Chandra, dengan alasan apapun. Yang penting, Chandra bisa aku bawa pergi.
Setelah itu, mungkin aku akan pulang ke pulau Jawa saja. Pulang sebrang, ternyata sekeras ini. Aku akan memulai hidup baru, di kota Cirebon saja. Kota penuh kenangan manis dan kenangan kelam.
Aku akan berusaha untuk merintis.
Mungkin uangku cukup, untuk membuka usaha pengisian galon dan toko eskrim. Ya, aku hanya perlu membeli lemari pendingin dalam satu merek eskrim ternama. Lalu, pemasok akan mengirimkan eskrim dengan merek yang sama dengan lemari pendingin yang aku miliki. Aku sudah mencari informasi tentang ini di Google.
Mungkin sudah takdirku, untuk membesarkan anak seorang diri.
"Nih, diminum. Panas-panas gini, minum yang sejuk-sejuk." ungkap Jeni, dengan menaruh segelas meminum dingin di atas meja.
"Ngomong-ngomong, ini isinya apaan sih?" Jeni mengintip isi paper bag yang aku bawa.
Aku hanya menyerahkan beberapa dokumen penting. Aku pun menitipkan emas batangan, yang terakhir ia hadiahkan untukku. Karena aku khawatir, kos itu terbengkalai tak berpenghuni. Lebih buruknya, aku takut air hujan masuk ke kamar bang Daeng.
__ADS_1
"Waduh, waduh.... Kalau emas, kamu bawa aja lah Canda. Aku gak berani nyimpen, aku takut kecolongan, sedangkan aku gak nyadar itu." Jeni menyodorkan paper bag berisi emas batangan dalam bungkus khusus.
"Kok gitu?" aku bingung di sini.
"Iya. Kamu simpan aja ini. Aku mau kalau dititipkan barang lain, asal jangan emas kek gini. Surat-surat gitu, atau buku tabungan." Jeni membaca dokumen yang tertera.
"Kamu mau ke mana sih?" tanyanya kemudian.
"Tak ke mana-mana, aku mau pindah kos yang lebih dekat sama kantor aja. Soalnya, sekarang aku kerja di kantor. Mana kan, Chandra diasuh neneknya. Neneknya bakal ikut ke sini. Kalau di kos kemarin, keknya terlalu kecil." kebohongan lagi yang aku tarik di sini.
Jeni manggut-manggut, "Kenapa sampai dititipkan sama aku? Kan kamu masih kerja di PT yang sama."
Aku memang tak pandai beralasan.
"Soalnya aku mau jemput Chandra sama neneknya dulu." aku lelah berbohong.
Jeni akhirnya mau menerima alasan yang aku berikan.
"Ehh, kamu kan rekan kerjanya. Kok gak datang ke pesta tunangannya bang Lendra?"
"Aku punya tanggung jawab di kantor soalnya." aku langsung memamerkan senyum yang menyamarkan raut kesedihanku.
Aku rasa, sudah cukup aku menangisinya.
"Kalau tau kamu kerja di kantor, aku bakal sering main ke kos kamu. Kita hangout bareng, jalan-jalan gajian bareng." matanya berbinar-binar, seperti ia tengah menerawang jauh.
"Boleh tuh, kapan-kapan deh." aku ikut memamerkan kesukaanku tentang pembahasan belanja saat gajian.
"Ehh, Enis udah hamil ya?" ia tengah mengutak-atik ponselnya.
"Iya, lima minggu katanya. Kok tak panas sih, Jen?" aku penasaran dengan luka kecewa atas kekasihnya yang menikah dengan wanita lain tersebut.
"Awalnya syok juga. Ya, tapi.... Mau gimana lagi coba, Canda? Bang Dendi bukan sengaja berkhianat, ini lain kasusnya. Mereka menikah, karena kesalahpahaman. Jelasin pun susah, karena keadaan mereka juga salah. Tapi aku percaya, masa itu memang bang Dendi cuma ngerawat Enis yang lagi sakit aja. Aku pun harus paham, bahwa awalnya pun bang Dendi berat untuk nerima ini. Bukan cuma aku. Tapi bang Dendi, Enis, pasti ngerasa tersakiti dengan pernikahan itu. Mau gak mau, kita semua harus ikhlas. Aku pernah bercerai, dengan cerita orang ketiga. Aku tau sakitnya di posisi istri yang tidak beruntung. Aku pun, tak mau jadi orang jahat yang merebut kebahagiaan istri dari orang yang aku cinta. Pasti udah diatur sama Tuhan, kita bertiga yakin, masing-masing pihak bakal mendapat kebahagiaannya. Sekarang... Bang Dendi bahagia, karena dia akan jadi orang tua. Enis yang bersyukur, karena dia gak harus capek nyanyi lagi. Meski di awal pernikahan mereka, ekonomi langsung hantam mereka. Aku pun bersyukur, karena bisa lepas dari zina rutin yang aku lakukan dulu. Setidaknya, pernikahan mereka melepas zina untuk aku dan bang Dendi. Aku harus ambil sisi baiknya, bukan ambil haknya Enis. Nyatanya, hidup aku masih mulus mujur dan aku masih sehat-sehat aja. Meski udah gak sama bang Dendi lagi, meski aku sama dia udah gak ada hubungan. Tuh, liat. Aku, Enis sama bang Dendi masih sering tukar kabar." ia menunjukkan layar ponselnya padaku.
__ADS_1
Namun, aku yang malah cengeng di sini.
Mataku berair, karena cerita dari Jeni. Aku masih begitu sensitif untuk sekarang.
"Jangan nangis, Canda. Aku gak apa-apa." Jeni langsung memelukku, kemudian ia menepuk-nepuk punggungku.
Mungkin keadaanku yang tengah dilanda kesedihan juga. Kala mendapat pelukan seperti ini, aku malah menumpahkan tangisanku yang aku coba tahan.
Nyatanya, aku tidak kuat mendapat hantaman dari bang Daeng. Ini terlalu cepat dan menyakitkan.
"Kamu baperan sih, Canda. Tau gini, aku gak cerita aja tadi."
Aku mencoba memamerkan senyum terpaksa, saat Jeni melepaskan pelukannya.
"Aku numpang kamar mandi ya?" aku mengusap air mataku yang tersisa di pelupuk mata.
"Iya, paling pojok kanan. Pintu plastik, warna biru." aku langsung mengangguk, kemudian berjalan sesuai arah yang ditunjukkan oleh Jeni.
Ya Allah, semoga aku bisa ikhlas seperti Jeni.
Tapi aku yakin, Jeni menguatkan dirinya sendiri membutuhkan waktu. Pasti ia tidak bisa setegar ini dalam waktu yang singkat.
"Canda..." aku mendengar namaku dipanggil dari luar kamar mandi.
"Ya, Jen." aku menyegerakan untuk membasuh wajahku.
"Keluar yuk, kita ngemall. Gak beli apa-apa pun gak apa, yang penting jalan-jalan keluar aja."
Aku membuka pintu kamar mandi. Terlihat Jeni tengah mencuci piring di wastafel, yang berada di sebelah rak piring aluminium.
"Ayok, biar aku yang traktir." sanggupku dengan tersenyum lebar.
Aku ingin menyegerakan pikiranku di keramaian.
__ADS_1
...***************...
Ternyata bukan kabar burung. Jeni pun sampai tau, pasal bang Daeng yang tunangan.