
"Mau mampir kemana?" aku naik ke atas jok motornya. Untungnya, Zio memakai baju dan selimut bayi yang cukup tebal.
Jika ibu melihatku motor-motoran seperti ini. Ia pasti langsung geleng-geleng. Ibu takut janinku kenapa-kenapa, padahal jika menurut mamah Dinda aman saja.
"Bakso yuk? Traktir aku ya?" motor mulai melaju
"Ok, makan di rumah aja. Nanti aku belikan buat yang lain juga."
"Ck... Kita makan berdua lah."
Harusnya aku memahami, bahwa Ghifar masih ingin mencari celah untuk hubungan kami.
"Di rumah aja ya? Kita makan di teras belakang." aku berbicara lembut, agar Ghifar luluh.
Setidaknya, Ghifar selalu menuruti perintahku ketika aku dulu berbicara lembut penuh harap.
"Huft......" ia menghela nafasnya, "Ya udah deh. Ramai-ramai ya?" lanjutnya kemudian.
"Iya, kita belikan juga buat yang kecil." ternyata caraku ini masih berfungsi.
"Dek.... Kalau Black Mamba aku masih berfungsi dengan baik, mau kah kau jadi istri kedua aku?"
Rasanya aku ingin menggaplok kepalanya dengan sendal jepitku ini.
"Aku punya suami, aku belum cerai. Trimester kedua nanti, aku diantar papah ke Makassar buat nyari bang Daeng. Papah minta aku ngasih tau papahnya anak aku ini, tentang hadirnya buah cinta di rahim aku. Masalah dia mau mertahanin rumah tangga atau tak, itu biar urusan nanti." terangku kemudian.
"Daeng itu... Bos kau kah? Yang datang bareng kau ke nikahan bang Dendi kah?" sebentar lagi kami akan sampai ke minimarket.
"Iya, tapi waktu itu aku belum nikah. Pas kau ke Brasil, itu aku baru nikah sama dia."
"Tak beda jauh sama Ghava, kecut gitu urat wajahnya." aku terkekeh geli, mendengar penilaian Ghifar tentang bang Daeng.
Motor sudah berhenti, kami telah sampai di parkiran minimarket.
"Kau tau kah, Far?" aku menunggunya turun dari motor.
"Tau, dari foto yang Winda tunjukkin." Ghifar tersenyum dengan menghampiriku.
"Yuk... Bawa uang berapa? Boleh aku minta jajanan? Aku kangen ditraktir kau." Ghifar menempatkan tangannya di punggungku.
__ADS_1
Kami tengah berjalan, menuju ke pintu minimarket.
"Jajanan? Tinggal ambil lah. Berapa sih?!" aku langsung meliriknya, ingin tahu bagaimana reaksinya.
Ia tersenyum begitu manis, dengan sorot mata yang menggoda.
Ya Allah, setan pun tak seperti ini saat menggodaku. Jenis iblis apa Ghifar ini?
"Aku hamili juga kau setelah lahiran nanti." ancamnya, membuat tawaku lepas.
Aku tahu Ghifar mampu, ia hanya rindu masa-masa dulu aku selalu memberinya ini dan itu. Mungkin, ia rindu aku kejar. Memang seperti itu siklusnya, saat seseorang tidak mengejar kita kembali, kita merasa begitu kehilangan, bahkan merindukan hal-hal tersebut.
Total pembayaran tembus seratus sembilan puluh ribu. Ghifar penyuka makanan ringan, dengan rasa barbeque. Keripik kentang, keripik singkong, yang ia dapat kali ini.
"Nanti baksonya aku yang bayar." ia tengah menaruh kantong plastik pada gantungan barang motornya.
"Zio lelap. Kasian, dia tadi owa-owa aja." aku teringat tangis Zio saat di kamar Kinasya.
Aku membenahi selimutnya, geliat kecil Zio berikan saat aku mengusiknya.
"Kau tak kasian sama Kaf? Dia kuat ngamuk, kau tak pernah tolongin." aku sudah naik kembali ke jok motornya, lalu motor melaju perlahan.
Ini langka sekali. Minimarket yang tidak ada tukang parkirnya.
"Entah, rewel betul anak ini. Pernah waktu di Brasil, diperiksa seluruh tubuhnya. X-ray segala, terus darah, segala macam deh. Tak ada masalah, dia sehat wal'afiat. Heran aja, kenapa itu anak suka betul ngamuk. Minta ASI, maknya lagi apa gitu, jadi Kaf suruh tunggu sebentar. Kaf tak mau itu, pas ASI datang, dia yang mogok. Sering ngamuk gara-gara itu. Perihal tunggu maknya buka baju aja tak sabar dia, ngamuk lagi. Kegerahan, ngamuk. Pikir maknya, dingin, di luar hujan angin, AC tak perlu nyala, udah tuh mandi keringat si Kaf, ngamuk lagi. Diapersnya tak nyaman, atau BAB, ngamuk lagi, kakinya naik semua. Tidur sendirian di ranjangnya. Pas dia kebangun gitu, minta ASI, dia paham, dia tak sama maknya tidurnya, ngamuk lagi. Digendongnya tak nyaman, ngamuk lagi. Tidur pakai baju rapat, tak merem-merem, ngamuk aja. Masa bayi, tidur diapersnya aja.l Pikir kita sebagai orang tua, kasian, dingin. Tapi Kaf tak mau tau, pokoknya tak mau yang gerah-gerah." sepanjang jalan aku mendengar cerita tentang Kaf ini.
"Jadi ingat kau tidur. Kau kan tak bisa tidur, kalau pakai kaos. Kau mandi keringat kalau tidur." sahutku kemudian.
"Ya mungkin kek aku. Mamah pun bilang kek gitu, bayi aku rewel katanya, suka teriak-teriak, suka gaplok-gaplok sama Icut, sama Haikal." Ghifar terkekeh samar.
"Nah, bisa jadi memang condong ke kau. Kek Key, petakilan, tak mau diam, kek mas Givan kata mamah." tambahku kemudian.
Hingga beberapa saat kemudian, aku turun untuk memesan bakso. Porsi spesial untuk aku, dengan pentol besar yang berjumlah dua buah. Aku tengah ingin yang pedas-pedas, semoga janinku sehat-sehat saja.
~
Aku cepat-cepat memeluk keranjang baju kotor yang berbentuk seperti jaring ini. Aku berbalik dan berjalan cepat, meninggalkan ruang cuci ini.
Pantas saja tirainya tertutup. Aku kira, seseorang sengaja menutupnya karena sudah malam. Ternyata, ada kegiatan nakal di dalam sana.
__ADS_1
Rasanya aku ingin mencuci mata suciku di air yang mengalir. Ghifar begitu tak pantas tersenyum keenakan, dengan Kinasya yang dijambak dan berlutut di depan resleting celananya.
Pipi Kinasya sampai mengempis, karena tengah memberi kenikmatan pada Black Mamba itu. Keterlaluan pasangan ini. Mereka tak tau kah, bahwa rumah ini memiliki banyak penghuni?
Itu baru manusia saja, belum lagi setan yang selalu disalahkan di rumah ini.
"Kenapa kau? Melotot kek gitu itu mata."
Aku langsung tersenyum kaku, saat ditegur mamah Dinda.
"Ada penampakan, Mah." aku menaruh keranjang baju kotorku di bawah tangga. Aku malas, untuk naik kembali ke kamarku yang berada di lantai dua.
Mamah Dinda terkekeh, "Makanya jangan nyuci malam-malam. Ibu kau banyak pantangan, dia percaya itu." sepertinya mamah Dinda berpikir lurus tentang ucapanku ini.
"Ughhhhh...."
Aku dan mamah Dinda saling memandang. Mata sipit beliau pun sampai membulat.
"Sialan! Mamah dititipin anak, ternyata mak bapaknya tak beradab."
Aku tertawa lepas, lalu menghampiri mamah Dinda yang duduk dengan memangku Kaf dan menemani Kal bermain ponsel.
Jangan tanyakan Chandra. Ia sekarang hobi ribut dengan bibinya. Chandra selalu bentrok dengan Ria, mereka begitu berisik. Sedangkan Key, ia sudah lelap pukul setengah delapan malam ini. Ia tak pernah tidur siang, membuatnya cepat tertidur di malam hari.
"Dek... Bisa itu Ghifar sama Kin. Kok kau bilang, dia tak bisa berdiri?" tanya mamah Dinda, dengan fokusnya terbagi pada tontonan lawak.
"Tak paham, Mah. Memang masa itu, dia tak bisa berdiri, sampai mandi keringat. Dia kesel sendiri, sampai gigit-gigit selimut tidur." aku meraih jajanan Kal yang tergolek di dekat ponsel yang tengah anak itu mainkan.
Kal memandangku, saat bunyi keripik begitu renyah pecah di mulut.
"Biyung minta ya?"
Ia hanya mengangguk, lalu fokus kembali ke ponselnya.
"Masih mengidap DE kah dia? Ruang lingkupnya kan, bukan cuma tak bisa berdiri, tapi sulit berdiri juga." ucap mamah Dinda kemudian.
"Mungkin. Bisa jadi fantasinya besar, terus tak kesampaian." aku masih santai menikmati cemilan milik Kalista, sulung di keluarga kecil Ghifar.
"Fantasi Ghifar ya......
__ADS_1
...****************...
Kira-kira Ghifar ini kenapa? jangan-jangan dijampi dukun, biar Ghifar gak bisa selingkuh ðŸ¤