
Tiga dokter kandungan kami datangi bergantian. Ketiga-tiganya, mengatakan hal sama persis.
Aku ikut kalutnya saja, karena mas Givan seperti begitu terpukul dan murung. Ia tidak mau, jika aku benar-benar dioperasi.
Kini, pemandangan mas Givan tengah memeluk erat ibunya jelas di depan mataku. Ia bahkan terisak, dengan menyebut ibunya berulang.
"Perginya lama tuh, kirain abis jalan-jalan dulu." mamah Dinda mengusap kepala anaknya, kemudian beralih memandangku.
Sudah lima putaran, mas Givan mengatakan bahwa aku akan dioperasi pada mamah Dinda. Lebihnya lagi, ia tidak mengatakan alasannya. Mas Givan hanya mengatakan garis besarnya saja.
"Apa masalahnya, Canda?" mamah Dinda menatapku, sembari memenangkan anak tertuanya itu.
Mas Givan bukan seperti mas Givan.
"Katanya bayinya besar, Mah. Usia kandungan tujuh bulan, bayi aku udah tiga koma tujuh kilo. Ditambah lagi, ari-arinya nutupin jalan lahir." ini alasan yang sama, seperti dokter kandungan yang kita datangi pertama.
Mamah Dinda mengangguk, "Plasenta previa ya?"
Benar sekali.
"Iya, Mah." mas Givan yang menjawab itu dengan suara bergetar.
Di tanggal empat belas ini, mas Givan ditambahkan beban pikirannya. Tanggal lima belas besok, itu adalah mulai proses penyidikan kasus tambangnya.
"Berhubung badan sakit tak, Canda?" tanya mamah Dinda kemudian.
Aku mengingat kejadian semalam, "Tak, Mah. Kalau terlalu dalam, memang sakit. Tapi biasanya aku minta Mas Givan jangan dalam-dalam."
"Canda!" suara mas Givan begitu tegas.
Aku paham, ia tidak suka privasinya di buka seperti ini. Mas Givan tidak suka, aku menceritakan kehidupan kami.
"Mamah nanya, Mas." aku mengerucutkan bibirku.
"Cuma nanya sakit tak. Kau malah jelasin."
Oh, aku salah lagi?
Mamah Dinda menarik pipi mas Givan, "Udahlah! Mamah udah tau ekspresi kau kee*akan." ujar beliau dengan tertawa kecil.
Aku bisa melihat mata suamiku yang melebar sempurna. Kemudian, mas Givan semakin menyembunyikan wajahnya di bahu ibunya.
"Mamah..... Jang bikin aku malu." rengekan suamiku seperti anak-anak.
Aku tertawa geli bersama mamah Dinda, karena aku teringat kejadian saat kami ketahuan tengah berhubungan ba*an di ruang tamu rumahnya. Untungnya, kami sudah menikah. Itu hal yang lumrah, untuk pasangan suami istri. Coba, kalau kita belum menikah? Pasti aku dan mas Givan habis-habisan dicaci maki oleh mamah.
~
"Suami kau mana lagi?" Ghifar datang ke rumah, dengan menggendong anak bungsunya.
Aku menguap lebar sebelum menjawabnya. Aku mengantuk sekali, Ghifar bertamu di waktu yang tidak tepat.
"Pergi sama rombongan, Far. Penyidikan katanya, kasus kebakarannya udah masuk pengadilan." aku bersandar pada gagang pintu yang besar ini.
Gagang pintu ini sudah seperti gagang telepon raksasa. Gagang pintu di rumah megah saja, tidak sebesar ini.
__ADS_1
"Papah sakit tuh. Dari kemarin kau tak ada nengoknya, harus aja dikasih tau dulu." urat wajahnya masam.
"Sakit apa? Aku kemarin baru pulang dari cek kandungan, sekitar jam tiga sore. Terus aktivitas, langsung istirahat. Kan mamah kemarin ada di rumah sendirian, jaga Ceysa. Kenapa kau tak bilang dari kemarin?" harusnya dari kemarin, Ghifar memberitahu kabar ini.
Ghifar menghela nafasnya, "Aku tak tau lah. Sana tengok dulu tuh! Heran, anak cucunya tak ada yang datang. Mesti aja gembar-gembor kek gini." Ghifar menggeser posisinya, mungkin agar aku bisa lewat di depannya.
"Bentar, aku cuci muka dulu." aku berbalik badan, hendak berjalan ke arah kamar mandi terdekat.
"Canda, kau haid kah?"
Ghifar memberikan pertanyaan konyol.
"Mana ada orang hamil haid." aku terus melangkah.
"Tapi rok kau merah. Kau berdarah?"
Hah?
Benarkah?
Aku langsung berhenti melangkah di ruang tamu ini. Aku memutar kepalaku, dengan menarik rok bagian belakangku.
Benar saja, aku berdarah.
Aduh, bagaimana ini?
Aku panik, dengan berjalan cepat ke arah Ghifar.
"Aduh, gimana ini?" aku menarik-narik bajunya.
"Ayo ke Kin. Kau bisa jalan tak?" Ghifar menggenggam tanganku.
"Ma..... Yang...." teriakan Ghifar begitu lepas, saat kami sudah berada di teras rumahnya.
"Ya, Yang." sahutan Kinasya begitu jauh. Sepertinya, ia berada di ruangan belakang rumah.
Apa aku akan diperiksa dan diobati oleh Kinasya?
Benarkah?
Apa aku akan menjadi praktek sikopat, dengan keadaan pikirannya yang kurang waras?
Ehh, maaf.
Tapi aku mengetahui, bahwa kondisi medis kewarasan Kinasya terganggu. Ia menderita sindrom yang dianggap sepele oleh orang awam. Yaitu, di mana dirinya mengalami imajinasi yang berlebihan tentang gerak langkah suaminya di luar jangkauan matanya.
Tapi, Ghifar tega membiarkan anak-anaknya tetap diurus oleh Kinasya. Mereka masih tinggal bersama, layaknya suami istri yang bahagia.
Aku bisa melihat mata Kinasya yang melebar, dengan nafas yang berubah seperti unggas matador. Eh, bukan unggas juga. Banteng tidak bisa menjadi binatang unggas.
"Canda pendarahan, Yang." Ghifar menuntun tanganku untuk menyentuh tangan Kinasya.
Jujur, aku takut dengan Kinasya.
Ekpresi wajah Kinasya langsung berubah drastis. Kemudian, ia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Jatuh kah, Kakak Ipar? Bayi kau ada gerakannya tak sekarang? Kau ngerasain keaktifan bayi kau tak?" aku dirangkul dan berbelok ke kamar tamu.
"Tak, aku baru bangun tidur. Aku tak tau, kalau aku pendarahan." karena aku memang tidak merasakan apa-apa.
Aku direbahkan di kasur ini. Kemudian, Kinasya langsung mengecek perutku dengan menggunakan alat yang bisa mengeluarkan bunyi jantung bayi.
Aku sering dicek seperti ini di bidan, maupun di puskesmas.
"Alhamdulillah, detak jantung bayinya normal." Kinasya membereskan alat yang ia dapatkan dari laci nakas itu.
"Rujuk rumah sakit aja kah, Yang?" aku menoleh pada Ghifar yang masih menggendong anaknya.
"Usia kandungan berapa minggu ini, Kak?" Kin membantuku untuk duduk.
"Tiga puluh minggu." aku tidak merasakan kontraksi juga, aku tidak yakin bahwa aku akan melahirkan.
"Ya udah rujuk aja, Yang." Kinasya menoleh ke arah suaminya, "Ajak Ria atau ibu. Aku jaga papah di sini." Kinasya mengambil alih anaknya.
Kinasya terlihat normal. Hanya saja, ia cepat naik pitam jika Ghifar berada di luar rumah dan mengobrol dengan lawan jenis.
"Ya, Yang. Awas papah, jangan sampai jatuh. Ingat, tensi darahnya lagi tinggi." ungkap Ghifar, dengan memandang istrinya dengan lekat.
"Kakak Ipar digendong ini, Yang." Kinasya menoleh ke arahku.
Aduh, bagaimana ini?
Apa ia tidak akan mengamuk? Tapi ia memerintahkan sendiri.
Ghifar memandangku penuh keraguan. Pasti, ia pun menjaga perasaan istrinya.
"Maaf ya, Yang?" Ghifar mengusap pipi Kinasya dengan ibu jarinya.
"Iya, aku ngerti. Ati-ati, Yang. Jangan sampai kena benturan."
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di IGD rumah sakit. Aku seperti orang sehat, yang akting tengah sakit. Karena memang, aku tidak apa-apa. Bukan tidak apa-apa juga, tapi tidak merasakan apa-apa.
Aku tidak mengerti, kenapa harus dipasang alat infus, padahal kondisiku belum diketahui.
"Mbak, telpon bang Givan kah?" tanya Ria, yang sejak tadi berada di sampingku.
"Nanti aja, Ria. Kalau udah jelas kondisinya aja." aku menggenggam pergelangan tangannya.
Tak lama kemudian, brankarku didorong ke suatu ruangan.
Aku tidak mengerti ini ruangan apa. Hanya saja, ruangan ini memili alat untuk USG seperti di puskesmas.
Menggunakan monitor kecil, seperti komputer jaman dulu. Yang terpasang di samping sebelah brankar, yang terdapat di ruangan ini.
"Usia kandungan berapa minggu, Bu?" tanya wanita berjas putih. Ia baru saja masuk dengan tergesa-gesa.
Pasti itu dokternya.
"Tiga puluh minggu, Dok." aku memperhatikannya yang menyibakkan bajuku.
Benar saja, USG langsung dilaksanakan.
__ADS_1
"Wah......
...****************...