Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD315. Pulang ke rumah


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya aku di sini. Sudah bosan rasanya berbaring, badanku rasanya begitu pegal-pegal. Namun, kondisiku belum juga membaik.


"Assalamualaikum...." seseorang memasuki kamar.


"Wa'alaikum salam." sahutku lirih.


Kinasya langsung menutup mulutnya, saat melihat papah Adi tengah pulas di spring bed single tersebut. Papah Adi bangun sejak pukul tiga pagi. Beliau sahur dengan ditemani oleh aku, meski aku tidak berpuasa. Sampai jam lima pagi, papah Adi baru tertidur kembali.


Sekarang sudah pukul sembilan pagi, papah Adi masih mendengkur halus. Mungkin, ia masih mengantuk. Lantaran beliau semalam kedatangan cek Nawi, untuk membahas keadaan ladang.


"Sendirian, Kin?" tanyaku kemudian.


Kinasya mengangguk, "Aku bawa makanan. Ini ikan salmon lagi, jangan bosen ya? Kali ini aku masak tumis tomat, barangkali kau bosen sama olahan bayamnya. Ini ada biskuit gandum juga, buat cemilan. Ada pisang juga, mana tau kau bosan makan jeruk sama alpukatnya. Ada kacang rebus juga, buat nyemil papah nanti malam tak apa. Ini semua makanan penunjang untuk kebutuhan kalium kau, Canda." Kinasya menyusun satu persatu makanan di meja, yang dekat dengan brankar yang aku gunakan.


"Susu ini, satu liter ini, kau habiskan ya?" ia menunjukkan susu UHT, yang kemasannya cukup asing di pandanganku.


Aku mengangguk cepat.


"Kau BAB belum?" tanyanya kemudian.


Aku menggeleng, "Dari beberapa hari sebelum aku tak bisa bangun, aku udah tak BAB."


"Sampai hari ini?" tanyanya kembali.


Aku mengangguk cepat, "Iya, Kin. Dokter di sini pun nanya, udah dikasih obat buat BAB. Tapi tetap tak BAB juga, sakit perut sama kentutnya aja." terangku kemudian.


Kinasya menganggukkan kepalanya, "Nanti aku cari di sekitaran sini deh. Soalnya, susu ini aja tuh susah carinya. Aku sampai order di official shop Indonesia, cuma buat beli susu ini aja." Kinasya menunjukkan susu UHT yang ia bawa itu.


"Di rumah masih ada, aku beli banyak buat stok kau." tambahnya kemudian.


"Aku ngerepotin ya, Kin?"


"Kau bikin kita khawatir, bukan ngerepotin. Lain kali nurut sama mamah ya, Canda? Mamah ngelarang pun, pasti yang terbaik buat kita. Aku aja pendidikan tak boleh dilanjut sama papahnya, aku nurut aja meski bukan mamah yang ngelarang." Kinasya sampai berbisik-bisik.


Blaghhhh...


"Permisi."


Hah?


Kiamat sugra untuk Ghifar.


Mantannya, si ibu dokter datang dengan stetoskopnya.


"Permisi ya, Bu?" dokter yang bernama Pocut Rauzha tersebut, langsung memeriksakan keadaanku.


"Siang ini ada jadwal tes darah kembali ya, Bu." ucap dokter tersebut, setelah memeriksakan keadaanku.


"Iya, Dok." sahutku kemudian.


"Saya permisi." ia tersenyum ramah padaku dan juga Kinasya.


Namun, saat dokter Pocut hendak pergi. Kinasya malah mencekal tangan dokter tersebut.


"Kau?!?" Kinasya menunjuk dokter tersebut.


"Iya, Bu. Bagaimana?" tanya dokter, yang pernah memiliki status dengan Ghifar dulu.


"Kau mantannya Ghifar?"


Entahlah, Kinasya ini intel atau apa.


"Ghifar?" dokter tersebut seperti terheran-heran.


"Ya, suami Saya." aku Kinasya kemudian.


Namun, dokter Pocut malah tersenyum lebar. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Senang, bisa bertemu langsung dengan Kakak." ujarnya kemudian, "Mari, Saya permisi dulu." dokter Pocut memilih langkah seribu.


Ya iya, siapa yang tidak takut pada Kinasya.


Jika memang aku bertemu mantan pacar laki-lakiku. Aku tidak akan bertanya langsung seperti Kinasya. Alasannya sederhana, aku tidak berani.

__ADS_1


"Uh, bikin bete aja." Kinasya merem*s ujung hijabnya sendiri.


Ia mendengus kasar, lalu ia beralih menatapku.


"Aku pulang dulu ya?"


"Ya, Kin. Makasih."


Kinasya hanya mengangguk, kemudian ia langsung berlalu pergi.


Aduh, semoga Ghifar masih diberi umur panjang.


~


Aku sudah di rumah, dengan keadaan bisa dalam posisi duduk. Jangan tanyakan berapa lama aku berbaring.


Kurang lebih lima hari, aku berbaring. Kemudian aku disarankan terapi, hingga di hari ketujuh, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Berapa biayanya?


Entahlah.


Mungkin penjumlahannya setelah aku sembuh.


Benar-benar tepat. Aku menabung uang, untuk pengobatannya penyakitku, karena terlalu serakah mencari uang.


"Mbak.... Kalau mau sesuatu, telpon aja ya?" Ria lah, yang sejak tadi menemaniku.


Aku pulang dari rumah sakit pukul delapan malam. Kemudian, aku langsung dipindahkan ke kamar dengan bantuan papah Adi dan Ghifar.


Setelahnya, aku hanya duduk-duduk dan mengobrol dengan Ria dan ibu sampai pukul sebelas malam ini.


Aku harus segera tidur, aku kondisiku cepat pulih.


Pagiku terganggu, karena suara sendok yang beradu dengan gelas. Siapa manusianya, yang pagi-pagi sudah mengaduk teh manis ini?


"Ish! Mangge bilang apa coba?"


Hah?


Aku langsung mengucek mataku, agar kotoran dan air mata yang mengering segera enyah dari kelopak mataku.


Hah?


Kan?


Benar saja.


"Adek Chandra minta ikut, Mangge. Aku takut uangnya kurang." Jasmine mendekati manggenya yang duduk di tepian tempat tidurku.


Buat grogi saja!


Bisa-bisanya, ia muncul dengan keadaanku yang masih jelek. Ditambah lagi, aku kurang perawatan sejak berjualan.


Pasti aku buluk sekali sekarang.


"Ya ampun, Jasmine." bang Daeng bangun dari duduknya.


Ia merogoh sesuatu dari saku belakangnya.


"Nih! Diasuh dulu adeknya. Nanti Mangge bentar lagi turun. Kau cepatlah ke warungnya, adeknya awas jatuh."


"Iya, Mangge." sahutan Jasmine sudah terdengar lamat-lamat.


"Heh! Abang nyuruh Jasmine jaga anak-anak aku? Gimana kalau Chandra jatuh. Aduh....." aku langsung mengacak-acak rambutku, "Mau lebaran lagi, ayahnya mau datang. Chandra punya bekas luka, bisa amsyong aku. Lebih-lebih, banyak motor lewat. Gimana nanti kalau keserempet?" rasanya aku ingin menyusul Jasmine dan Chandra saja.


"Kenapa Adek?!" bang Daeng seperti terheran-heran menatapku.


"Ihh, kenapa lagi?! Ditanya pula!" aku sudah darah tinggi saja padanya.


"Nyebrang jalan besar aja Jasmine bisa. Masa, ketimbang beli nugget di tukang sayur yang biasa kita beli aja, pikiran Adek seburuk itu?"


Hah?

__ADS_1


Aku banyakan ternganga sekarang.


"Bawa Chandra loh." aku mencoba bangun dari tidurku.


Bang Daeng langsung sigap. Ia membantuku untuk bersandar pada kepala ranjang.


"Memang gimana? Biasanya juga bawa Ceysa tak apa."


Hah?


Si Oleng dibawanya juga?


Aduh, aduh, aduh. Serangan jantung rasanya.


Aku memukul lengannya, "Sana! Sana! Sana! Diliatin dulu anak-anak! Aduh, aku tak tenang nih." aku sudah panik.


"Hadeh." bang Daeng segera berlalu pergi dari kamarku.


Kok bisa bang Daeng jadi seperti ini?


Sebegitu percayanya ia pada anak sulungnya. Sampai-sampai, sudah dimintai untuk mengasuh adik-adiknya.


Aduh, stress aku.


Aku mengatur nafasku.


Kemudian, mencoba meminum air putih dalam botol kemasan satu liter setengah. Ini adalah stok air minumku semalam.


Aku langsung berkaca di ponselku. Kemudian mengikat rambutku, dengan ikat rambut yang melingkar di pergelangan tanganku.


Buang air kecil.


Rasa itu, kian memuncak.


Aku langsung menyambungkan panggilan telepon pada Ria.


"Ria... Bantu Mbak ke kamar mandi." ucapku kemudian, setelah panggilan terhubung.


"Ya, Mbak."


Tak lama, Ria muncul dengan ponsel yang mengalungi lehernya.


"Gendong aja, Mbak." Ria menepuk bahunya sendiri.


"Kau kuat? Berat badan kau berapa?" tanyaku kemudian.


"Aku enam lima. Kuat lah." aku segera dibantunya, untuk menemplok di punggungnya.


Ria memang memiliki perawakan tinggi besar. Badannya bongsor, dengan tingginya seratus enam puluh delapan sentimeter. Wajar berat badannya enam puluh lima, tapi tidak terlihat gemuk.


Setelahnya, aku langsung didudukan kembali ke ranjang.


Wajahku pun sudah lebih fresh, karena siraman air.


"Aku bantu-bantu ibu dulu, Mbak. Nanti telpon aja. Sarapannya belum ada, nanti bentar lagi."


"Iya, Dek."


Aku mendengar suara Ria yang berpapasan dengan kehebohan.


"Iyung......."


Ah, unyu-unyuku.


"Ceysa, sini Nak. Biyung kangen." aku langsung merentangkan kedua tanganku.


"Hei, duduk tuh mamnya."


Aku langsung grogi kembali, saat suara dewasa itu mulai menggema.


...****************...


Aduh, kangennya 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2