Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD262. Chatting dengan Ardi


__ADS_3

"Minta nomor HP-nya, Kak. Boleh?"


Langsung action saja. Dasar, anak jaman sekarang.


Eh, tidak juga sih. Dia seumuran denganku.


"Boleh."


Ia langsung mengulurkan ponselnya padaku. Aku langsung mengetikkan nomor ponselku, aku juga menyimpan namaku di kontaknya.


Aku menunjukkan layar ponselnya, "Aku kasih nama Canda." ujarku kemudian.


Ia memberiku senyum berlesung pipi. Aduh, meleleh rasanya.


Giska kenapa bisa naksir pada Zuhdi? Padahal jelas adiknya lebih menggoda.


"Nanti malam aku chat." tuturnya ramah.


Aku mengangguk, "Ya." aku tak tahu harus menjawab apa.


"Aku permisi dulu."


"Ya, silahkan."


Ia berlalu pergi, menuju ke belakang kembali. Aku dibiarkan sendiri di ruang tamu yang penuh dengan mainan anak-anak ini.


Ke mana lagi itu Zuhdi dan Giska?


Aku celingukan, sebelum memilih untuk ke belakang kembali. Sesaat kemudian, aku menemukan Giska masih anteng di depan kompornya.


"Giska... Aku pulang ya?" ucapku dari tangga teratas.


"Okeh, Canda. Makasih, udah nganterin makanan." sahutnya dengan menoleh ke belakang.


"Sama-sama. Aku pulang dulu, assalamualaikum." aku melangkah keluar dari rumah, setelah mendapat sahutan dari Giska.


Enaknya jadi Zuhdi. Memiliki banyak waktu bersama anak dan istrinya di rumah. Ia terlihat seperti pengangguran, tapi penghasilannya siapa sangka.


Aku berjalan pulang. Cukup sepi, karena waktu sudah beranjak tengah hari.


Ngomong-ngomong, Ardi bekerja sebagai apa ya? Siang-siang seperti ini, ia membawa helm tadi. Ia pun keluyuran, pulang pergi ke rumah ibunya dan ke rumah kakaknya.


~


Malam hari ini, aku memilih untuk memberi kabar bang Daeng mengenai izin yang diberikan untuk menengok Ceysa.


Boleh nengok Ceysa, yang penting jangan nginep.


Tulisku kemudian.


Langsung terbaca, tiga titik langsung bergerak. Menandakan, bahwa yang memiliki akun tengah membalas pesanku.


Mangge lagi pemulihan. Nanti Mangge ke Ceysa ya, kalau udah mendingan.

__ADS_1


Berarti bang Daeng sempat mengalami posisi kritis. Karena pemulihan pasca operasi tak selama itu. Mungkin selebihnya hanya bed rest di rumah saja. Di rumah sakit, biasanya hanya sekitar empat hari.


Kak Canda.


Pesan itu masuk, di aplikasi chatting milikku.


Aku langsung membuka pesan tersebut, kemudian menilik foto profil dari nomor asing tersebut. Foto Ardi terpasang di sana, Ardi yang tengah duduk di coffe shop bersama teman-temannya.


Keknya kita seumuran. Beda aku udah ada anak aja, kau belum.


Balasku kemudian.


Emoticon senyum lebar ia berikan. Selanjutnya, pesan teks menyambungi.


Nanti aku tinggal nambahin aja.


Aku cekikikan sendiri. Tak disangka, laki-laki yang terlihat alim itu bisa bercanda juga. Aku tahu maksudnya menambahkan saja tersebut. Contohnya seperti papah Adi, ia menambahkan jumlah anak mamah Dinda yang tadinya hanya mas Givan seorang.


Aku tak kunjung membalasnya, karena aku bingung ingin membalas apa.


Udah beres belum sama bang Givan? Kalau udah, boleh aku main ke rumah?


Gerak cepat.


Pemuda yang berani.


Udah beres lama. Anak kedua aku, bukan sama bang Givan. Dua anak aku, beda ayah.


Centang langsung berubah biru. Sepertinya Ardi kaget di sana, karena ia tak kunjung membalasnya.


Sepertinya, orang bertato di sini cuma bang Daeng seorang. Hingga saat ia tidak lagi di sini, orang-orang hanya mengingat tatonya saja.


Iya, itu ayahnya anak perempuan aku.


Aku tak akan malu mengakui, bahwa memang bang Daeng lah ayah dari Ceysa. Mau bagaimana pun kelakuannya di luar sana, ia adalah laki-laki yang terbaik untukku, sebelum dirinya menorehkan luka terhebat untukku.


Ia adalah sebaik-baiknya laki-laki, dalam memperlakukan wanitanya. Sayangnya, tidak diimbangi dengan kasih sayang. Aku pantas mengatakan ini. Karena jika ia sayang padaku, ia tidak mungkin menyembunyikan tentang Jasmine, lebih-lebih ia bertunangan dengan ibunya Jasmine di belakangku.


Udah beres semua kan tapi? Kau udah janda kan sekarang?


Ia masih ingin bertukar pesan denganku ternyata.


Udah beres. Udah janda.


Jujur, aku adalah orang yang gampang mengantuk jika bertukar pesan. Jika ingin mengirimku pesan, baiknya langsung pada intinya saja. Apa lagi jika topiknya tidak seru, aku langsung bosan membalasnya.


Nanti sabtu malam, aku main ya? Boleh kan? Rumah kau yang di ruko galon itu kan?


Aku sudah menguap lebar.


Kenapa harus tunggu sabtu malam? Biar kesannya malem mingguan gitu ya? Boleh aja, iya rumah aku di ruko galon.


Apa lagi jika bertukar pesan dengan Raka. Rasanya, begitu berat untuk meladeninya.

__ADS_1


Sabtu sore aku baru gajian, aku baru punya uang.


Ia mengirimkan emoticon menahan tawa, dengan menutup mulut. Pesan teksnya, masih bersambung.


Okeh deh, lepas maghrib nanti aku main. Karena jam delapan batas kunjungan ngapel.


Ya, di daerah sini memiliki batas waktu untuk berkunjung para anak muda. Biasanya, memang hanya sampai jam delapan malam. Itu pun harus pengawasan orang tua.


Entah kalau laki-laki, berkunjung ke kawan laki-lakinya. Apa lagi begadang di keude kopi. Keude kopi seperti nonstop di sini, apa lagi jika dilengkapi dengan WiFi. Sampai-sampai, Ghifar pernah mengatakan bahwa ada tradisi mensejahterakan keude kopi. Gara-gara aku pernah bertanya, kenapa keude kopi selalu ramai sampai tengah malam.


Hari ini adalah hari jum'at. Aku baru ingat sekarang. Pantas saja Ardi tadi sudah keluyuran, padahal belum tengah hari. Karena pekerjaan apapun, akan diistirahatkan pukul sebelas siang. Jika tidak menuruti perintah tersebut, maka WH akan bertindak. Sholat jum'at di sini hukumnya wajib untuk laki-laki. Jika ketahuan tidak sholat jum'at, maka akan diberi sanksi.


Kemudian, pekerjaan akan dilanjutkan kembali pukul satu siang. Entah itu buruh pabrik, toko, bangunan, angkot, intinya itu adalah peraturan yang merata.


Okeh.


Aku hanya membalas itu.


Baiknya bagaimana ya?


Apa aku perlu bercerita, bahwa aku tengah didekati dengan adiknya Zuhdi? Tentunya, aku akan bercerita ke mamah Dinda. Jika pada ibu, jelas aku akan mengatakan hal itu.


Lalu, apa ya kira-kira yang dibicarakan Raka kemarin hari pada mamah Dinda? Jangan-jangan, mengenai perjodohan ini.


Jujur, aku takut menjadi manusia yang tamak di sini. Aku tertarik dengan Ardi, tetapi aku tidak bisa menolak Raka.


Aku akui, aku tergoda sosok sederhana dari Ardi. Hanya perkenalan singkat, itu pun seolah dipaksa oleh Zuhdi.


Namun, pesona Ardi yang terlihat kalem tersebut begitu memikat. Apa lagi lesung pipinya, yang hanya terlihat ketika tersenyum saja.


Ya ampun. Model Zuhdi saja, bisa membuat Giska begitu manut. Apa lagi, modelan seperti Ardi?


Aku tak mengatakan Ardi lebih baik dari Zuhdi. Tapi bentuk rupanya, memang lebih baik dan lebih kalem Ardi.


Tapi bagaimana caranya aku menolak perjodohan dengan Raka?


Mamah Dinda pasti tidak enak hati pada ibu Trisnawati itu.


Apa nanti aku kenalkan Ardi pada mereka saja. Agar mereka mengerti, bahwa aku kini memiliki kedekatan dengan laki-laki.


Mamah Dinda pun pernah mengatakan, bahwa aku boleh mencari pilihan hatiku sendiri. Aku memang tidak tahu bagaimana ke depannya, antara aku dan Ardi.


Namun, bolehkah aku sedikit berharap?


Aku bukan Giska, aku pun bukan anak orang kaya. Tapi, bisakah aku seberuntung dirinya?


Bisa mendapatkan suami yang pengertian seperti Zuhdi. Mertua yang begitu sayang menantunya, seperti orang tua Zuhdi.


Aku berharap seperti ini, memiliki nasib yang sama seperti Giska. Karena Ardi adalah satu keluarga yang sama dengan Zuhdi. Mertua Giska, adalah orang tua Ardi juga.


...****************...


Siapa yang setuju sama pemikiran Canda?

__ADS_1


Pada ngerti gak maksud harapan Canda ini?


Dia pikir, Zuhdi dan Ardi ini sama, karena masih satu orang tua. Ia ingin dapat mertua yang kek Giska, ia ingin dapat suami yang kek Zuhdi.


__ADS_2