Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD380. Strip kehamilan


__ADS_3

Jadi seperti ini ekspresi suamiku, ketika tengah mendapat sesuatu yang menyenangkan hatinya dari wanita?


Apakah aku adalah salah satu contoh wanita, yang baru tahu ekspresinya ketika tengah dilanda kesenangan dan keminatan yang berbarengan?


Bibirnya senantiasa tersenyum bahagia, dengan suara khas yang selalu membuatku rindu.


Tangannya beberapa kali menyentuh wajahku, dengan belaian kasih yang begitu lembut.


"Suka yang bagaimana?" aku akan selalu rindu, agar bisa melihat ekspresinya yang seperti ini.


"Atur aja, Istriku." mas Givan terpejam, dengan bibir yang gemetar seksi.


Aku tidak mengerti kenapa ia sampai demikian?


Benarkah begitu di atas awan?


Atau hanya pura-pura?


Tapi, aku ragu jika ia tengah pura-pura. Pasalnya, mas Givan bukanlah orang yang sabar. Apalagi, mengulur waktu untuk berpura-pura seperti ini.


Ia mengusap lenganku lembut. Kemudian, ia menarik bantuan untuk mengganjal punggungnya.


"Biar aku bantu." ketampanannya beribu kali lipat kadarnya, jika berbicara lembut seperti ini.


Sayangnya, tutur terlalu lembut ini. Membuatku tidak mengenal suamiku sendiri, ini sedikit asing untukku.


"Gimana, Mas?" aku berhenti sejenak.


"Tak pernah bisa lepasin sendiri kah?" ia memposisikan diriku sebaik mungkin.


"Pernah sih. Tapi itu lama libur, lebih dari dua mingguan. Jadi kek, udah gila gitu loh."


Ia malah tergelak.


"Gurumu hebat. Dibuat gola dulu, biar kau mau ada inisiatif. Aku tak bisa nunggu begitu lamanya."


"Ya, Mas." aku sudah berada di sisi telinga kanannya.


Aku merasa mas Givan begitu erat memelukku. Saat itu juga, ayunan begitu terasa membawaku terbang.


Ya ampun, aku baru tahu ada cara seperti ini.


"Mau berapa, Canda?" mas Givan menyapu punggungku.


"Satu aja, Mas." kepalaku sampai mendongak. Kulitku pun, rasanya begitu merinding.


Apa laki-laki merasakan sesuatu, saat perempuannya mulai di ambang batas kesadaran?


"Apa yang dirasa, Mas?" aku berbisik pelan di telinganya.


Semoga batinku kuat mendengar jawabannya, bilamana jawabannya di luar ekspektasiku.

__ADS_1


"Kek makan daging sapi nomor satu, Canda. Aku suka kalau kau mulai menerima."


Aku malah tertawa geli, mendengar sahutannya yang menggambarkan sebuah makanan itu.


"Mas, aku udah tak bisa nahan." ini adalah proses alami dan sangat cepat.


"Sok lepasin."


Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku langsung mengendorkan otot-otot yang aku tahan sejak tadi. Hingga beberapa kali, aku hampir terlelap tanpa aku sadari karena saking lelahnya.


Bau khas suamiku, membuatku semakin merasa nyaman dan tenang untuk tertidur.


"Aku belum lepas. Jangan tidur dulu." punggungku diusap-usap lembut.


"Mas, aku ngantuk." bahkan suaraku sampai serak.


"Huh, dasar!"


"Mas, jangan lama-lama. Aku udah nyaman kali." dengan tidak sopannya, aku berbicara dengan menguap lebar.


"Tak lama lagi."


"Aku enak tak, Canda?" pertanyaannya bercampur tuntutan.


Aku tak mungkin mengatakannya tak enak. Karena mas Givan adalah orang pertama, yang mengenalkanku pada dunia suami istri.


"Enak, Mas." aku membuka mataku berat, dengan mengukir senyum untuknya.


"Yang kuat jawabnya. Aku tak dengar, Canda."


Aku curiga akan hal ini, karena gerakan cukup cepat.


"Enak, Mas. Mas Givan pandai memperlakukan istri. Terus bikin aku begini ya, Mas?" semoga ia tidak merekam suaraku di ingatannya.


Aku malu sekali berbicara kotor seperti tadi.


Tapi, hal itu nyatanya membawa suara mas Givan begitu lepas. Semoga tetangga di samping tidak penasaran, dengan skill suamiku. Bisa-bisa, bertambah juga sainganku.


"Mas, aku sesak nafas nih." aku mengusap-usap punggungnya.


Ia terkekeh kecil, lalu berguling ke samping.


"Mas.... Aku boleh bangun siang ya?" aku merasakan ada lelehan yang keluar.


Pasti esok mas Givan memintaku untuk mengucek bekas airnya, yang menempel di sprai ini.


"Minggu aja, Canda. Besok aku masih kerja. Nanti Ces siapa yang ngasuh, kalau pagi-pagi kau masih molor? Nanti aja tunggu aku libur kerja." suara mas Givan begitu ngos-ngosan.


"Ya udah deh. Lusa ya, Mas?"


"He'em. Cuci dulu, baru tidur." mas Givan bangkit, kemudian ia perlahan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Merem, Canda."


Ia sering seperti ini, ketika ia hendak menyalakan lampu kamar. Karena mata kita perlu menyesuaikan dengan cahaya sekitar.


Terang.


Aku mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, dengan aku yang duduk dan mengusap cairan putih ini dengan tisu. Sepertinya begitu banyak, sampai terlihat begitu kental.


Mas Givan si manusia disiplin ini, benar-benar menjaga pola makannya.


Sedikit bernoda coklat?


Pikirku, aku akan datang bulan. Tapi, dadaku masih saja nyeri. Aturan kan, dada nyeri hanya sekitar empat hari, tapi sekarang lebih dari tiga mingguan seingatku. Sampai sekarang pun, masih terasa nyeri.


Benarkah akan datang bulan?


Atau malah aku hamil?


Aku masih sedikit bodoh, untuk menyimpulkan bahwa aku hamil. Aku tidak tahu pasti, bagaimana ciri-ciri tubuh ketika hamil.


Tapi masa iya aku hamil?


Aku tidak yakin, kalau aku hamil. Aku penuh keragu-raguan di sini. Aku seolah hamil, tapi di ketidakmungkinan hamil. Aku berpikir seperti ini, karena aku belum lama menikah dengan mas Givan. Masa iya aku langsung hamil?


Dulu dengan bang Daeng, aku pun kosong sekitar tiga bulan. Aku tidak langsung hamil. Karena kehamilan itu butuh proses.


Bahkan di awal pernikahan dengan mas Givan ini, aku malah tak pernah disentuh. Baru setelah minggu kedua, saat masanya aku mulai tidak berduka lagi. Barulah aku menjadi suami istri yang sesungguhnya.


Apa dengan bang Daeng aku memiliki beberapa bulan kosong itu, karena kami jarang melakukan tugas suami istri? Tapi saat menjadi suami istri di atas ranjang,


Esok harinya, subuh ini aku tengah membaca bungkus dari testpack ini. Sore tadi mas Givan memberiku testpack, yang aku pesan pagi tadi. Lalu, malam harinya ia meminta jatah.


Aku mengitari dapur, untuk mencari bekas air mineral kemasan gelas plastik. Itu untuk menampung air seniku, sebelum aku mencelupkan strip ini.


Semoga saja tidak hamil. Aku takut dimarahi mas Givan.


Lebih-lebih, aku ditinggal di Kalimantan sendirian. Kemudian, ia pulang ke Aceh seorang diri.


Nanti bagaimana aku di sini? Aku kan beban suami.


Tapi heran juga sih dengan mas Givan. Ia memiliki usaha di pulau ini, tapi ia tetap pulang ke Aceh. Surat-surat dan alamat dalam dokumen manapun, tetap beralamatkan di rumah megah mamah Dinda.


Saat kemarin membuat KK baru pun, mas Givan menggunakan alamat rumah megah itu. Padahal, ia sudah memiliki rumah sendiri dan alamat sendiri.


Paketan online pun, datangnya ke rumah mamah Dinda. Bahkan, saudara lainnya pun menggunakan alamat rumah itu.


Alasannya sepele, mereka menganggap rumah itu seperti ibu mereka. Rumah itu bagai seorang ibu, yang memiliki banyak anak. Meski banyak penghuninya dan sudah berpencar, penghuni tersebut tetap menganggap rumah itu seperti naungan untuk mereka semua.


Jantungku pindah ke dengkul.


Tepuk jidat.

__ADS_1


Mati aku.


...****************...


__ADS_2