Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD39. Pasar malam


__ADS_3

"Kau lagi bikin kaligrafi kah? Kau nulis lama sekali! Nanti kalau jadi kerja sama Abang, kau harus nulis cepat. Ambil poin dari percakapan Abang, sama orang yang ngobrol sama Abang."


Aku kira, aku akan dipuji.


Bibirku mengerucut, aku meliriknya malas. Aku ingin pujian, karena pujian kecil mampu membuatku semangat.


"Apa?" bang Lendra malah tertawa geli, lalu meraup wajahku.


Ia sepertinya menyadari bahwa aku cemberut. Tapi, ia malah kegelian tanpa sebab seperti itu.


"Absurd betul sih kau!" ia malah tertawa lepas, dengan memberi kecupan kecil pada Chandra yang berada di jangkauannya.


"Keluarga bahagia." aku menoleh cepat ke sumber suara.


Bang Dendi baru ke luar dari kamarnya, rambutnya terlihat basah. Sepertinya ia sudah mandi, di sore hari ini yang cukup dingin. Karena satu bulan belakangan, sudah masuk musim penghujan.


Setiap hari pun, aku selalu menggunakan lotion anti nyamuk untukku dan Chandra. Karena nyamuk di sini begitu banyak dan memberi bekas banyak di tubuh. Untungnya, kulit Chandra tak iritasi karena lotion anti nyamuk ini.


"Oh, iya. Bahagia sekali dong." sahut bang Lendra begitu ceria.


Aku paham, mereka tengah melakukan sesi bergurau.


"Apa lagi kalau udah janda betulan." bang Dendi berjalan ke arah kami.


"Hai, Gam." aku bisa melihat bang Dendi menyapa Chandra dengan penuh semangat.


Chandra pun langsung berjingkrakan, lalu ia merentangkan kedua tangannya pada bang Dendi.


"Pak cek tak mau ke mana-mana. Mau di sini sama Chandra." bang Dendi duduk di antara kami.


Aku melanjutkan tulisanku. Tetapi telingaku merekam jelas percakapan ini.


"Jeni ngambek, Bang. Ribut nikah terus, ma masih kurang sreg sama Jeni."


Aku menoleh pada bang Dendi, aku penasaran dengan raut wajah bang Dendi.


Jelas seperti tebakanku, ia seperti tengah amat pusing.


"Ma sregnya sama siapa? Kemarin bawa Enis sreg gak?"


Aku terdiam sejenak, mengingat saat kunjungan kami ke rumah orang tua bang Dendi. Rupanya terselip perkenalan kak Anisa pada orang tua bang Dendi.

__ADS_1


"Enis kan punya kau, Bang." sepertinya, di antara mereka terlibat cinta segitiga.


"Aku belum bisa berkomitmen, Den! Setidaknya lah, ekonomi aman dulu. Biar kalau jadi nikah nanti, istri aku tak perlu kerja. Terus, sekiranya kerjaan aku udah enak gitu posisinya. Sekarang sih, masih pahit betul. Naik jabatan satu tingkat lagi. Rela aku di pindah di kota mana aja, menetap aku di sana sama istri nanti." sematang itu perencaan bang Lendra.


"Bekas kau masalahnya, Bang."


Aku ikut tertawanya saja, setelah mendengar sahutan bang Dendi ini.


"Aku gak yakin Enis terakhir hubungan sama aku. Mana tau...."


Jadi, bang Lendra masih tidak percaya bahwa kak Anisa hanya FWB-nya?


"Terakhir sama kau, Bang." bang Dendi pun sepertinya mengetahui perihal kak Anisa yang begitu menggilai bang Lendra.


"Wacana aja!" dari bantahannya, bang Lendra seperti tidak percaya dengan ucapan bang Dendi itu.


Aku sampai tersentak kaget, kala pinggangku mendapat serangan dari seseorang.


Aku menoleh, ke arah tangan yang tadi menusuk pinggangku.


"Apa?" tanyaku dengan dahi mengkerut.


"Ke mana, Bang?" aku melirik sekilas ke hasil tulisanku, daftar riwayat hidup milikku sudah hampir selesai aku tulis.


"Pasar malam."


"Ya, Bang. Bentar." untungnya aku dan Chandra sudah mandi.


"Malem nanti awas ada tamu di kos aku, Den. Dia mau anterin dokumen nembak punya Canda." pesan yang sama, seperti yang bang Lendra titipkan padaku.


"Selesaikan nanti, Dek. Besok pagi Abang cek nanti." ujar bang Lendra padaku.


Aku mengangguk, sembari membereskan kertas-kertas ini. Terlihat, Chandra pun sudah berada di dekapan bang Dendi. Chandra masih asik menikmati jajanan yang aku beli tadi.


"Bawa masuk semuanya." bang Lendra mengoper jajananku.


"Abang tak mau?" aku membuka pintu kos kak Anisa.


"Gak lah, buat kau aja." bang Lendra berjalan lebih dulu, ia melangkah masuk ke dalam kamar kosnya.


Aku sudah menyimpan jajanan dan kumpulan kertas itu. Kemudian aku ke luar kembali, untuk mengikuti bang Dendi yang akan mengajakku ke pasar malam.

__ADS_1


"Jalan kaki aja ya? Paling dua ratus meteran, di dekat masjid sana." bang Dendi menunjuk arah ke kiri, padahal kami masih berada di teras kamar kos.


"Ya, Bang." aku mengenakan sendal jepit seribu kenangan ini.


Aku berjalan mengekorinya. Telingaku bisa mendengar jelas bang Dendi yang mengajak Chandra berdialog. Meski pada akhirnya, bang Dendi yang menjawab pertanyaannya sendiri.


"Nih, mobil bang Lendra. T*yota Altis keluaran dua ribu delapan. Pas beli tuh bekas, Dek. Tapi harganya lumayan tinggi, sekitar seratus sepuluh jutaan." bang Dendi menunjuk sebuah mobil yang terdapat di depan toko kelontong, yang memberi jalan untuk kos-kosan kami.


Tiba-tiba bang Dendi mensejajarkan langkahnya denganku, mulutnya sedikit mendekati telingaku.


"Parkir aja bayar, sepuluh ribu sehari." bisik bang Dendi kemudian.


Aku mengangguk, mengisyaratkan bahwa aku mendengar jelas bisikannya. Ujung mataku melirik mobil milik bang Lendra, yang baru saja kami lewati. Pantas saja parkirnya berbayar, karena mobil bang Lendra masuk ke dalam halaman rumah toko kelontong itu.


"Bang." aku menarik baju bang Dendi, karena ia begitu cepat melangkah.


"Kenapa, Dek?" bang Dendi berhenti melangkah, ia menoleh ke arahku.


"Yang masalah bang Lendra sama kak Anisa itu. Apa bang Lendra juga suka sama kak Anisa?" sebenarnya aku hanya membuka obrolan saja, agar tidak terlalu lelah karena berjalan cukup jauh.


"Hmm..." bang Dendi seperti berpikir, kami melangkah beriringan.


"Bang Lendra orangnya tuh... Kek mana ya?" bang Dendi seperti kesusahan untuk menjelaskannya.


Raut wajahnya pun, terlihat seperti tengah berpikir keras.


"Kek mana, Bang?" sesekali aku menoleh ke arah bang Dendi, yang berada di sisi kiriku.


"Bang Lendra pernah bilang sendiri sama Abang. Jadi dia ini, tipe orang yang gampang suka. Kasarnya, cinta sesaat kek gitu lah." jelasnya kemudian.


Aku terdiam, sembari memperhatikan wajahnya sejenak. Terlihat bang Dendi seperti akan melanjutkan ucapannya.


"Jadi tuh, pernah ada pacarnya datang. Perempuan, mukanya mirip artis Febby Rastanty tapi dia bertudung, dari Palembang sampai nyusul ke sini. Kalau tak salah sih, namanya Naura. Berantem hebat di depan kamar kosnya. Penghuni kos pada ke luar kandang semua, gara-gara perempuannya sampai nangis-nangis. Bang Lendra ini, janjikan tunangan minggu depan, tapi udah lewat sebulan tuh tak ada datangnya. Eh, tak taunya bang Lendra kata. Aku udah punya pacar lain sama orang Makassar, orang kampung aku. Aku sama kau, biar job aku kemarin dilancarkan aja sama pihak dari desa kau. Cinta aku cuma sesaat, aku bisa dengan mudah lupakan kau. Langsung tuh, Dek. Enis dateng, nenangin si perempuan itu. Enis kan orangnya baik ya? Kek gampang iba sama orang, tak tegaan kek gitu. Terus sama Enis diantar lah itu perempuan ke terminal, lepas perempuan itu tenang." saat aku menoleh, terlihat Chandra tengah mendongak memperhatikan mulut bang Dendi yang berbicara panjang lebar tersebut.


"Udah kek gitu, mulailah skandal sama si Enis. Enis juga bernasib sama kek perempuan itu, dighosting bang Lendra juga. Tapi pernah Abang denger sendiri, bang Lendra ada bilang kek gini ke Enis. Katanya....


...****************...


Perkenalan tokoh ya, dibawa santai aja. Biar paham asal usulnya orang yang kasihan sama Canda ini.


Tapi jangan salah kira loh... 😉

__ADS_1


__ADS_2