
"Terserah Canda aja, Len. Kamu mau ngomong sama Canda berdua? Biar Ibu keluar sebentar."
Aku mencilak cepat pada ibu. Bisa-bisanya, ibu malah memberiku waktu untuk berbicara dengan bang Daeng?
"Tak usah, Bu. Duduk aja di sini bareng." ia tersenyum begitu-begitu-begitu manis.
Dasar, pemanis buatan!
"Gak apa. Sok diobrolin dulu." ibu malah berlalu pergi.
Aku mengusap wajahku frustasi. Biar saja riasan mataku acak-acakan sekarang, aku tidak memperdulikan penampilanku di depan bang Daeng.
"Kalau aku mau, aku juga bisa cari perawan...."
Aku menatapnya tajam, aku langsung memangkas ucapannya.
"Ya sana lah! Aku pun mampu cari yang bujang."
Ia membalas raut tidak sukaku, dengan senyum menenangkan.
"Dengerin dulu, Dek. Abang belum selesai ngomong, udah main potong-potong aja. Adek ini, keknya banyak berubah ya?"
Aku tidak boleh terhanyut, dengan tutur manisnya. Toh, bang Ardi lebih manis. Meski kadang-kadang saiko, plus absurdnya kumat.
Aku hanya diam, memalingkan perhatianku ke arah lain. Senjatanya di mata, aku tidak boleh memandang netra coklat tua itu.
"Dek Canda..." ia memanggilku, agar mataku tertangkap oleh matanya.
"Hmm?" aku pura-pura membenahi toples saja.
Aku mendekatkan toples-toples itu ke jangkauannya.
"Pandang Abang, Dek."
Huft...
"Apa?"
__ADS_1
Pandangan kami bertabrakan sudah.
"Adek maunya gimana? Mentang-mentang Ceysa udah aman dokumennya, Adek kek gak ada perjuangannya untuk tangguhkan pernikahan kita. Givan aja setuju kita balik loh, Dek."
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Gini ya, Bang. Masalah mas Givan setuju, atau tak setuju. Itu kan pendapat dia aja. Masalahnya, aku ini udah ada hubungan sama laki-laki lain. Manusia itu, yang dipercaya itu ucapannya. Aku tak bisa ninggalin bang Ardi gitu aja, hanya karena demi Abang. Memang Abang siapa? Apa Abang suami terbaik? Orang tua terbaik untuk anak-anak aku? Atau penunjang dana terbaik, untuk masa depan anak-anak?"
Aku langsung menyentuh bibirku. Aku pun sedikit kaget dengan ucapanku. Apa karena banyak luka dan lika-liku yang aku alami, membuatku kini lebih berani?
Apa mamah Dinda pernah mengalami banyak hal di kehidupannya? Membuatnya bisa menjadi manusia pemberi keputusan terbaik?
"Nyindir?" alisnya naik sebelah.
Oh iya, bahkan ucapannya tidak bisa dipercaya untuk Putri dan Jasmine.
"Kalau Abang ngerasa kek gitu, kenapa tak penuhi aja ucapan Abang? Aku coba berkomitmen untuk sekarang, Bang. Banyak kok yang terbaik dan menunjang dari pada bang Ardi. Banyak kok, laki-laki yang lebih dewasa ketimbang dia. Tapi masalahnya, aku dan dia udah di tahap lebih dari perkenalan. Kenapa Abang tiba-tiba datang, terus minta rujuk gini? Masanya aku ninggalin bang Ardi, aku tak yakin juga kau bertahan. Aku berfirasat, Abang begini cuma mau ngacak-ngacak kehidupan aku aja." aku membuang nafasku, "Apa tak cukup kah, Bang? Tak kasian kah sama aku? Aku ini orang bodoh, Bang. Aku perempuan bodoh, lemah, yang cuma bisa nangis. Aku sadar itu kok, aku tahu diri tentang diri aku kok. Menjalin hubungan sama Abang, yang jelas bukan tandingan aku. Itu sama aja, kek jatuh ke lubang yang sama. Hampir satu tahun kita jalin rumah tangga. Apa aku tau, secuil tentang kerjaan Abang? Apa aku paham, rutinitas Abang di luar sana? Apa aku ngerti, tujuan hidup Abang yang rumit itu? Apa aku bisa, nerima kebohongan dan kebohongan lagi?"
Aku mengusap rasa cengeng ini. Aku memandang ke arah lain, agar pelupuk ini kuat menahan rasa yang meleleh ini.
"Nyatanya dengan Adek, Abang lebih bisa terarah. Maaf, khilaf Abang tentang dunia aja. Dari dulu, dari kejadian Dikta. Rasa takut Abang itu satu, Abang takut tak bisa hidupin dengan layak. Abang takut krisis ekonomi, Abang takut beras habis, Abang takut tak megang uang. Karena apa? Karena, kita di dunia ini apa-apa serba uang. Abang gak tau bakal minta tolong ke siapa, masanya beras gak punya, uang pun gak ada. Jadi Abang berpikir, bagaimana caranya kita selalu stabil? Itu, yang Abang pikirkan."
"Ceysa... Cantik, Mangge di sini." seru bang Daeng dengan tangan yang melambai.
Aku tidak bisa melihat reaksi Ceysa, karena aku duduk berhadapan dengan bang Daeng. Sedangkan Ceysa, ia mungkin berada di belakangku. Ada sekat tembok, yang membuatku tidak bisa melihat keberadaannya.
Suara keributan anak-anak mulai mendekat. Lalu, cerewetnya mamah Dinda terekam di telingaku.
"Udah mendingan kau, Len?"
Aku sampai tersentak kaget, kala suara itu sudah berada di sebelahku. Aku menoleh, untuk melihat keadaan sekitar.
Mamah Dinda berdiri tegak, dengan menggandeng tangan Ceysa.
"Udah, Mah." bang Daeng menjawab dengan ramah.
Mamah Dinda tahu bang Daeng sakit?
__ADS_1
Apa aku pernah bercerita? Perasaan aku tidak pernah bercerita tentang ini.
"Semalam katanya nginep di belakang?" tanya mamah Dinda, dengan mendudukkan Ceysa di samping bang Daeng.
"Geser, Dek." mamah Dinda menepuk pundakku.
Aku menggeser posisiku. Kemudian, mamah Dinda langsung duduk di sampingku.
"Buta, Ne." Ceysa mengulurkan makanan yang ia bawa, pada mamah Dinda.
"Sini Mangge bukain." bang Daeng mengulurkan tangannya.
Namun, Ceysa langsung menyembunyikan makanannya.
"Ne.... Ne.... Ne... Butaaaaa...." Ceysa langsung berteriak saja.
"Ya, ya, ya. Sini." mamah Dinda mengulurkan tangannya.
Beberapa saat kemudian, Ceysa sudah anteng. Dengan menggerogoti sedikit demi sedikit, makanan yang ia dapat itu.
"Tak nikah sama Putri aja, Len? Givan ada sedikit cerita tentang kalian."
Mestilah. Di rumah itu, manusia-manusianya pandai mengadu.
"Putri gak mau, Mah. Dia maunya sama Givan aja. Aku pikir juga, ya udah ayo gitu ikut rencana awal aja. Tapi, dia udah tak mau. Katanya, pernikahan bukan untuk mainan. Aku bilang ke dia, kan dari awal aku udah bilang, makanya aku gak ambil buat nikahin kau."
Ada sedikit keanehan di sini. Di samping cintanya, kenapa bang Daeng sampai enggan menikahi Putri?
"Satu pertanyaan Mamah pun itu juga. Di umurnya segini, di pergaulannya, tak mungkin teman-teman terdekatnya tak tau tentang Jasmine. Nah, pasti di ruang lingkupnya bergaul itu, Putri pasti kenal laki-laki yang tau tentang Jasmine. Rasanya kok heran aja, kenapa dia tak nikah dari dulu? Tapi nuntut terus sama kau. Kau udah buyar sama Canda, malah dia begini. Curiga gitu, pasti ada yang tak beres sama ini perempuan."
Mungkin, pemikiran mamah Dinda pun sama denganku.
Ehh, tapi kok kenapa mamah Dinda sesantai itu dengan bang Daeng?
"Putri perempuan yang cukup berani. Berani dalam segala hal, dalam mengambil keputusan dan tindakan juga. Ya mungkin, disebut jiwa pemimpin. Tapi dalam suatu hubungan itu, perempuan bukanlah pemimpin. Makanya ada sebutan imam di rumah tangga itu, karena wajarnya suami yang memimpin. Ini pun, salah satu alasan aku juga, kenapa gak nikahin dia. Bukannya aku gak suka diatur-atur, tapi aku ngerasanya aku kek pesuruh dia. Entah karena Putri begitu cintanya ke Givan, entah karena weton Givan lebih kuat dari Putri. Pas mereka jenguk, pasca aku operasi itu. Givan ini ketus betul ke Putri. Diminta jaga Jasmine sebentar, karena Putri mau keluar beli makanan. Givan nolak, bentak-bentak Putri. Katanya, bawalah anak kau sana. Mau bebas kah? Makanya jangan punya anak. Aku yang bapaknya Jasmine, kek ngerasa gimana gitu. Aduh, gimana nanti kalau jadi. Jasmine bakal dimarahin terus. Terus Putri ini, kek iya he'em aja. Aku ngerasa, kok aneh sih Putri kek gitu. Lebih-lebih, takutnya masanya Putri meledak nanti. Bahkan bukan cuma Givan yang ia berani tentang, anak-anak pun takutnya jadi tempat pelampiasan amarahnya dia. Ini di luar sikap dan sifat, ini cuma penilaian aku aja Mah." bang Daeng sesekali menjeda kalimatnya.
Mamah Dinda mengangguk, "Nah itulah, kenapa Mamah tak......
__ADS_1
...****************...
Sabar, sabar, sabar.... memang cara nulisnya begini 😠jujur, aku pun lagi belajar nulis dengan alur cepat. Ya untuk cerita Ghifar itu, tapi entah gimana nanti. karena masih ada perencanaan cerita tentang Ghifar ini.