Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD229. Talak


__ADS_3

...Senin yang ditunggu 😍...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah beberapa hari, dari kejadian yang membuat pedih itu.


Kini, aku dihadapkan dengan suasana haru. Nadya tengah memeluk suaminya begitu erat. Mas Givan pun, mengusap-usap kepala Nadya yang berada di pelukannya.


"Maaf ya? Udah, jangan nangis." mereka masih berdiri di depan pintu utama.


Nadya diantarkan pulang, oleh pihak kepolisian.


Hukuman yang cukup mengiris hati. Tidak ada keluarga yang menjenguknya, bahkan ia tidak dijemput meski keluarga di sini tahu bahwa hari ini Nadya bebas. Mas Givan pun, sengaja tidak menjemput Nadya.


"Silahkan tanda tangan di sini, Pak." seorang petugas kepolisian, meminta papah Adi menandatangani dokumen yang ia berikan.


"Kita ini lebih akrab jadi teman, lebih baik jadi teman. Bukan teman hidup kek gini." ungkap mas Givan kemudian.


"Baik, terima kasih." petugas undur diri, lalu pamit pergi.


Papah Adi mengantar mereka, sampai ke halaman rumah.


Mamah Dinda merapatkan duduknya denganku, "Coba nanti dia minta maaf tak sama Mamah." bisik mamah Dinda padaku.


Mas Givan membawa Nadya duduk di sofa. Pandanganku dengan Nadya bertemu, ia begitu memilukan.


Namun, ia langsung memutuskan pandangan kami. Ia memilih untuk menundukkan kepalanya.


"Hidup aku acak-acakan, aku belum tertata kembali. Jangankan istri pembantah kek kau, istri penurut pun nyatanya tak bisa arahkan hidup aku. Bukan berarti teman akrab dan teman baik itu, bisa jadi teman hidup." mas Givan mengusap-usap punggung Nadya.


Nadya menganggukkan kepalanya.


"Mah, saksiin hari ini. Aku mau nalak Nadya."


Hah?


"Nanti coba, Mas. Baru juga sampai. Kasih minum dulu kek." aku langsung menutup mulutnya.


Memang tak ada yang betul nih, jenis laki-laki yang pernah berumah tangga denganku.


"Ya kau lah, sana kasih minum Nadya." pinta mas Givan.


"Udah, biar Mamah." mamah Dinda berlalu pergi.


Aku meninggikan bibir bawahku pada mas Givan.


"Wee, aku juga bisa wee." Mas Givan melakukan hal yang sama.


Aku mendelik tidak percaya. Kenapa kami tiba-tiba seperti anak-anak?

__ADS_1


Konsentrasiku buyar, karena tawa samar terdengar dari Nadya.


"Ihh, ketawa lagi kau!" ujar mas Givan, pada wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.


"Nanti Ziyan kau bawa ya? Zio biar sama ibu. Kalau sama mamah, takut dijual." lanjut mas Givan.


Namun, tiba-tiba telinga mas Givan ditarik oleh seseorang.


Mas Givan langsung mengaduh kesakitan.


"Aduh, aduh.... Gurau, Mah." mas Givan mempertahankan telinganya, agar tidak pindah tempat.


"Biaya buat Zio kau belum kasih." ujar mamah Dinda dengan menaruh minuman hangat di atas meja.


"Iya, Mah. Nanti akhir bulan, uang dari toko." mas Givan masih mengusap-usap daun telinganya.


"Mah... Aku minta maaf."


Uhh, aku ikut terharunya saja. Nadya tengah memeluk mamah Dinda, dengan penuh penyesalan.


"Iya. Cara kau masuk ke keluarga ini udah salah. Jangan nuntut warisan, ini itu. Karena kau harus tau, bahwa Givan bukan anak kandung papah Adi." mamah Dinda menepuk-nepuk pundak Nadya.


Ada seseorang yang melewati ruang tamu ini, dengan banyolannya dan curahan hatinya.


"Aku yang anak kandungnya pun dihitung utang. Riyana Studio dan seperangkatnya, senilai tujuh ratus juta, dibayar cicilan lima kali. Lunas. Akhirnya.... Alhamdulillah." ia masuk ke dalam rumah begitu saja.


"Tuh... Warisan itu, adanya kalau orang tua udah meninggal. Bukan masih hidup kek gini, terus diminta bagian hartanya. Gimana papah tak murka. Jadi, cukup tak tiga bulan penjara?"


Pelukan mereka terlepas, mamah Dinda memandang wajah Nadya dengan tersenyum manis.


Nadya menganggukkan kepalanya, "Cukup, Mah. Tak lagi-lagi." ujarnya dengan menunduk meratapi.


"Tapi, Nad. Kalau Zio kebukti bukan anak Givan, Papah minta kau ganti semua kerugian yang udah kau perbuat."


Kami semua menoleh ke ambang pintu. Di sana, terdapat papah Adi yang tengah mengacungkan telunjuknya.


Nadya menegakkan pandangannya ke arah papah Adi, "Papah bisa buktiin sendiri kelak. Aku jamin, itu anak Givan." akunya kemudian.


Papah Adi masuk ke dalam, lalu ia duduk di dekat istrinya. Nadya pun, susah kembali duduk di samping mas Givan.


"Ok, Papah pegang ucapan kau. Kau boleh tengok Zio kapanpun, asal tau waktu dan jangan nginep." penegasan dari papah Adi kembali, untuk Nadya.


Nadya mengangguk. Ia lebih banyak menunduk sekarang.


"Sok diminum dulu. Kata Canda suruh minum dulu, baru kasih talak." kenapa sih mas Givan berubah menjadi lucu akhir-akhir ini?


Nadya menyeruput tehnya. Lalu ia menaruh kembali gelasnya.


"Aku talak dulu ya? Soalnya mau punya janji sama Zuhdi. Persiapan beli bahan buat bangun di atas. Nanti anak-anak pindah ke rumah Ghifar dulu, sementara bangunan di atas diperbaiki." ujar mas Givan, dengan memperhatikan jam tangannya.

__ADS_1


"Mah, aku juga dipindahkan ke Ghifar kah? Ruko aku belum ada apa-apa. Apa aku tidur ngegeletak di lantai?" aku sudah was-was.


"Kin jelas tak mau nampung kau, Canda! Kau ini ada-ada aja!" jawab papah Adi dengan wajah yang dibuat marah.


Aku malah tertawa geli, "Serius lah, Pah. Aku tidur di mana?"


Rumah Ghifar, Ghava dan Ghavi, juga ruko milikku sudah siap huni. Hari ini, pesanan furniture milik tiga saudara itu datang. Sedangkan aku, aku tidak tahu jika furniture itu harus dipesan lebih dulu. Membuat ruko milikku masih kosong, tanpa furniture pendukung lainnya.


"Mamah tuh tau, kau ini males segala-galanya kalau lagi hamil. Udah, rebahan di ruang keluarga pun aman. Apa lagi, papah selalu ada di ladang. Lantai dua dibangun pun, naik turun tukang dari jendela samping lantai dua, bukan dari tangga. Bisa rusak privasi, kalau tukang naik turun tangga." ungkap mamah Dinda.


"Coba ada uang berapa, nanti Papah tambahin kurangnya buat beli furniturenya."


"Tuh, Papah tuh baik Nad. Asal jangan diminta, biar dia sadar sendiri aja." timpal mas Givan.


Nadya mengangguk kembali. Ia akan langsung menunduk, jika berpapasan pandang dengan salah satu di antara kami.


Apa ia sebegitu merasa bersalahnya?


"Tak tau, Pah. Nanti belum dihitung semua." aku menggulirkan pandanganku pada mamah Dinda, "Nanti bantuin ngitung ya, Mah?" ujarku kemudian.


Mamah Dinda mengangguk, "He'em." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Bunyi ponsel seseorang, mengusik obrolan kami.


Cepat-cepat, si pemilik ponsel langsung merogoh ponselnya. Ternyata, itu ponsel mas Givan.


"Ya, Di. Bentar-bentar." ia terlihat begitu buru-buru.


Mas Givan bangkit, lalu hendak berlalu pergi. Namun, dicekal oleh Nadya.


"Van, talak aku dulu. Terus aku siapin barang-barang aku, biar kau pulang, langsung bisa antar aku ke rumah orang tua aku." ujarnya kemudian.


Ya ampun, ada lagi perempuan yang minta ditalak.


Tepuk jidat.


Mas Givan mengangguk, lalu tangan kanannya terulur ke kepala Nadya.


"Nadya Rafika Hutagalung, Saya turunkan talak Saya. Saya anggap, pernikahan kita selesai."


Nadya langsung mengangguk. Tangan mas Givan pun langsung diangkat kembali.


Seumur hidup, aku baru menyaksikan ayahnya Chandra menurunkan talaknya. Saat denganku, ia hanya memberikan talak secara tidak langsung.


"Mah, aku.....


...****************...


Tidak ada hukum karma lewat kematian di cerita author.. Itu terlalu sadis, author tidak kuat, biar Dilan saja. 🙏

__ADS_1


__ADS_2