Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD138. Kloningan


__ADS_3

"Di sana beda jam, Bang. Mungkin mereka masih tidur, entah sih lagi sibuk makan." aku memberikan alasan itu, karena sekarang pukul setengah tujuh malam.


Aku tersenyum lega, saat dua panggilan video dariku terlewat begitu saja. Ghifar tidak menjawab, ataupun menolak panggilan video dariku.


"Ghifar ini siapa?" bang Daeng mengklik foto profil kontak milik Ghifar.


Ghifar tersenyum amat manis dengan istrinya dan dua anaknya. Kinasya juga sepertinya amat bahagia, jika melihat Ghifar menggunakan foto mereka bersama sebagai foto profil kontaknya.


"Adiknya papahnya Chandra." karena itulah kebenarannya.


"Ohh, yang pacaran sama Adek dulu? Adek kan pernah bilang, Adek diperk*sa sama kakaknya pacar Adek."


Aku terdiam sejenak, benarkah aku pernah mengatakan itu? Pasti spekulasi lainnya bermunculan di kepala bang Daeng, karena aku masih berkomunikasi dengan mantan pacarku.


"Iya, Bang." karena berbohong pun sudah percuma.


"Terus gimana istrinya? Hubungan keluarga mereka gimana ke Adek? Khususnya mantan Adek ini."


Aku berpikir sejenak, jika sedikit berbohong sepertinya bang Daeng tidak akan tahu.


"Biasa aja, Bang. Kek sesama ipar, sama istrinya pun biasa aja."

__ADS_1


Aku tak mungkin mengatakan, bahwa aku sempat berciuman dengan suami orang ini.


Bang Daeng manggut-manggut, "Berapa bersaudara sih papahnya Chandra ini? Kok Abang familiar sama wajah laki-laki ini, kek mirip siapa gitu."


Jelas lah pasti mirip papah Adi. Wajah, gaya bicara, potongan rambut, sorot mata, tinggi badan sampai ukuran badan mereka hampir sama. Kloningan yang begitu mirip dengan papah Adi hanya Ghifar, selebihnya ada campur kemiripan mamah Dinda.


Satu persen mamah Dinda di mata kiri Ghifar, itu pun terlihat samar. Tapi itu menurut versiku. Menurut versi orang lain, jelas pasti berbeda. Apa lagi dengan rupa Gibran, percampuran kedua orang tua yang begitu sempurna.


"Tiga bersaudara, satunya perempuan." aku tak ingin menimbulkan kecurigaan lain.


Bang Daeng manggut-manggut, lalu ia bangkit dari posisinya. Ia meregangkan otot pinggangnya, lalu berjalan ke arah dapur yang bersebelahan dengan tempat cuci. Ya, hotel kali ini pun sama.


Aku hanya tersenyum, lalu menggulingkan tubuhku dan bermain ponsel. Indahnya dunia penuh kebebasan, ditambah lagi suami yang pengertian.


~


Aku menguatkan hatiku, aku harus percaya bahwa suamiku tengah bekerja di luar sana. Kali ini, bang Daeng terang-terangan izin untuk pergi ke Batam kembali. Ia mengatakan, ia akan mengirim barang konsumsi ke sana bersama temannya lagi.


Tepatnya, sudah satu minggu ia tidak pulang.


Setelah trip Palembang selama empat hari, kita langsung mendapat libur satu hari. Entah ada masalah apa antara bang Daeng dan atasannya, bulan ini kita tidak mendapat trip.

__ADS_1


Jika aku bertanya pada kak Raya, ini bukanlah masalah. Karena setiap akhir tahun, PT mengalami keadaan tidak stabil. Di mana, kesepakatan sulit didapat karena banyak libur di akhir tahun ini. Bukan rahasia lagi, jika vendor PT adalah WNA. Mereka tengah merayakan libur beruntun, dengan hari raya mereka. Banyak jadwal yang dicancel, lalu dibuat jadwal ulang saat Januari tiba.


Aku setiap hari bertukar kabar dengan kak Anisa dan juga Ghifar. Ghifar mengatakan juga, ia akan kembali pulang di bulan Februari. Entah kapan aku bisa menjemput Chandra. Ghifar seolah ayah kandung, yang membawa Chandra jauh dariku.


Vc yuk.


Suami orang ini benar-benar kurang kerjaan rupanya. Sekarang pukul satu siang, berarti di sana pukul satu malam.


Tak lama, panggilan video masuk ke ponselku. Padahal, aku belum menyetujui pesan dari Ghifar.


"Kinasya tau, nanti aku dikira pelakor." ucapku langsung, saat sudah melihat gambar wajah Ghifar begitu jelas.


"Ya jangan sampai tau berarti."


Mataku melotot tak percaya. Namun, Ghifar langsung terbahak-bahak.


"Far... Buatin kopi buat Papah."


...****************...


Nah loh 😳

__ADS_1


__ADS_2