
"Wah... Hadi mau punya adik ternyata." aku memandang wajah Giska dan Hadi bergantian.
"Yey...." Hadi langsung loncat-loncatan.
Tawa Ceysa begitu renyah, dia ikut hebohnya saja melihat keaktifan Hadi.
Giska mengusap perut bawahnya, "Iya, makanya tak ikut kondangan. Baru tiga minggu soalnya, Canda."
Oh, ternyata ini alasannya tidak ikut rombongan.
"Wah, selamat." aku tersenyum manis, dengan mengusap lengan Giska.
"Eummm.... Aku kan tak haid hampir satu tahun, masanya ikut KB suntik tiga bulan. Kata mamah, lepas KB dulu karena pemakaian udah satu tahun. Kan harus dikasih jeda itu, ganti KB gitu kalau pemakaian udah setahun. Jadi aku lepas KB tuh sebulan, tapi tetap tak haid. Kata mamah, ke bidan aja, nanti dikasih obat buat haid. Aku nurut kan, ke bidan aku. Tapi, kata bidan di testpack dulu. Aku nurut juga, hasilnya negatif. Terus aku dikasih obat, lusanya langsung haid. Tapi kelancaran, lebih dari sepuluh hari tak selesai-selesai haidnya. Tanya lagi aku ke mamah, kata mamah ke bidan lagi aja. Nurut lagi lah aku, dikasih obat lagi kan aku. Katanya, kalau udah selesai haidnya, langsung ke sini aja buat ikut KB suntik satu bulan katanya. Nurut lagi kan aku, begitu aku selesai haid, aku ke bidan lagi. Ditestpack lagi aku nih, ternyata malah positif. Heran dong aku, langsung lah aku pulang ke mamah setelah dikasih vitamin. Cerita lagi aku ke mamah, kata mamah, pembuahan yang sukses itu udah jadi sejak tiga hari setelah dilepasnya airnya laki-laki. Tak paham lagi aku teorinya, langsung kan aku disuruh mamah USG. Katanya masih kecil nih, masih dua mingguan katanya. Minggu sekarang tuh, ya tiga minggu." Giska bercerita dengan memperagakan tangannya.
"Apa-apa nanya ke mamah, sama kek aku." tambahku dengan tersenyum lebar.
"He'em. Udah pernah hamil juga, tapi aku masih tak paham." Giska tertawa geli.
"Ya udah, sehat-sehat. Ngidamnya, semoga tak kek ngidam Hadi." aku mengusap-usap lengannya.
"Iya, Canda. Belum kerasa apa-apa di badan, cuma p*yuda*a sakit aja."
"Ya udah, aku pulang dulu ya. Kalau butuh bantuan, chat aja ya?"
__ADS_1
"Okeh, ati-ati ya pulangnya." Giska dadah-dadah pada Ceysa.
Ceysa langsung membalasnya dengan menunjukkan giginya.
"Nanti main lagi ya, Eunces." Hadi pun berdadah pada Ceysa.
"Okeh." aku melambaikan tanganku, membalas dadah ria yang Hadi berikan.
"Assalamualaikum..." aku berbalik badan, lalu menaiki tangga.
"Wa'alaikum salam..." jawab Giska dan Hadi.
Hadi bisa begitu jelas menjawab salam.
"Ohh, iya. Nanti main lagi sama Hadi ya, Ceysa." sahut Zuhdi kemudian.
"Iya..." jawabku dengan melangkah ke luar rumah.
Aku langsung memakai sendal jepitku, lalu menutup kepala Ceysa dengan kain jarik yang digunakan untuk menggendongnya ini. Agar Ceysa tidak merasakan panasnya matahari yang begitu terik.
Aku menoleh ke samping kiri, kami sudah sampai di gang besar.
Aku mengerutkan keningku, aku merasa heran dengan orang-orang yang membawa galon dari arah itu. Karena setahuku, tidak ada pengisian air galon terdekat, selain usaha milikku.
__ADS_1
Aku masih memperhatikan, tempat yang bernuansa berwarna putih dan biru itu. Sampai ada spanduk yang terpasang di sana.
Butiran oksigen. Kualitas teknologi ozon.
Ahh, iya. Itu tempat pengisian galon lagi. Mereka memiliki merk, semoga tidak mempengaruhi usaha milikku.
Ya, rejeki masing-masing. Pasti tidak akan tertukar.
Wushhh......
Motor putih keluaran pertama itu melaju cukup kencang dari arah kananku. Kerudung hitam nan panjang itu, sampai terbang-terbang.
Beginikah yang namanya panas hati?
Bahkan, ia tidak menyapaku?
Atau ia sengaja, berpura-pura tidak melihat keberadaanku?
...****************...
Panik gak?
Semoga Canda dewasa, tak termakan api cemburu 😌
__ADS_1