Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD398. Kejutan di rumah


__ADS_3

"Mas Givan?" aku tersenyum kaku.


Matanya begitu merah dan melebar sempurna. Ditambah lagi, ia tidak memakai baju dan pengait celana jeansnya yang tidak terpasang. Tetapi, resletingnya tertarik benar.


Ia menatapku tajam, kemudian menggulirkan pandangannya ke arah bang Dendi.


"Apa-apaan ini?" tanyanya dengan matanya fokus pada tentengan yang bang Dendi bawa.


"Istri kau mau pindahan katanya. Nih, ambil!" bang Dendi memberikan barang bawaanku pada mas Givan.


Mas Givan menerima dua kantong plastik berisikan buah dan beberapa makanan itu.


"Mamah mana, Mas?" aku jadi takut sendiri melihat mata merahnya.


Apa ia baru pulang mabuk? Atau ia baru terbangun dari tidurnya? Tapi itu perkiraan yang sama-sama mengerikan. Ia tetap akan mengamuk juga.


"Lagi belanja dari pagi." mas Givan membuka pintu lebih lebar, "Sini masuk!" lanjutnya kemudian.


Bang Dendi masuk lebih dulu, dengan menggandeng Rere. Aku tadi takut mas Givan salah paham, karena aku datang dengan bang Dendi. Tidak tahunya, ia kebingungan dengan datangnya aku dan barang bawaan ini.


"Yayah...." Ceysa langsung memeluk kaki ayahnya.


Mas Givan menaruh kantong plastik itu di dekat pintu kamar depan. Kemudian, ia mengangkat tubuh Ceysa.


"Ceysa makin kecil sih. Di Kalimantan, perasaan cepat besar."


Tidak juga. Mas Givan hanya lama tidak melihat Ceysa. Membuatnya, merasa Ceysa menjadi lebih kecil.


Cup, cup, cup.....


Mas Givan menciumi Ceysa sampai berbunyi.


"Rere mainan dulu sok. Barangkali capek duduk terus." aku mengusap kepala Rere.


Anak ini tetap gembul, meski sudah besar.


Rere mengangguk, kemudian turun dari kursi.


"Dari jam berapa, Den? Kok Canda bisa sama kau ke sini?" mas Givan duduk di kursi single.


"Awas, Yayah." Ceysa turun dari pangkuan ayahnya.


Mas Givan langsung memperhatikan Ceysa, "Jalan-jalannya jangan di luar, Ces! Halamannya belum dibersihkan semua. Takut ada ular." serunya, saat Ceysa mulai masuk ke kamar depan.


Rere pun ikut mengekori teman seumurannya itu. Padahal pasti, Rere tidak suka menelusuri rumah seperti Ceysa.


Entah Ceysa besar akan jadi Detektif Conan atau apa. Karena setiap harinya ia selalu seperti ini. Di rumah pun, selalu mengitari rumah. Jika ia membawa makanan, jadi berceceran di seluruh rumah. Karena ia tidak mau anteng di satu tempat. Kaki kecilnya terus melangkah.


"Dari jam delapanan. Canda tak mau diantar iparnya." jawab bang Dendi kemudian.


Mas Givan manggut-manggut, "Memang kau tak kerja?"


Aku tersinggung, karena mas Givan tidak memandangku sejak tadi.


"Kerja juga. Tapi kata Ghava, udah kau antar dulu si Cendolnya katanya." bang Dendi menirukan suara Ghava.


Mas Givan terkekeh. Kemudian, ia baru menoleh ke arahku.


"Mas kok ada di sini sih? Kan semalam katanya lagi di jalan." tanyaku kemudian.


Aku malah yang mendapat kejutan kali ini.

__ADS_1


"Ya di jalan mau ke sini, dari Singapore. Kau tak sabar betul, sampai susulin suami ke sini." ia melirikku, dengan mata merahnya.


Ngomong-ngomong, ia percaya diri sekali ya?


Aku bahkan tidak tahu, bahwa ia ada di sini. Semalam, aku kira ia dalam perjalanan menuju ke Singapore.


"Aku kira Mas mau perjalanan ke Singapore." aku tertunduk sejenak.


"Pas ketemu mamah di Banjarmasin, mamah bilang biar mamah yang handle kerjaan aku yang di Kalimantan Selatan. Jadi, aku langsung terbang ke Singapore. Makanya bisa selesai lebih cepat." oh, jadi seperti itu kejadiannya. Padahal, dalam telepon mamah Dinda menerangkan yang berbeda.


Ya beginilah, jika kurang briefing.


"Assalamualaikum....."


"Wa'alaikum salam." jawab kami bersamaan, dengan melihat dua orang yang datang.


"Duh." mas Givan bangkit dari duduknya.


"Mamah ada, Bang?" empat orang laki-laki bertamu, dengan stelan kemeja yang rapi.


Hufttt....


Aku kira mereka saudara laki-laki sekandung dari mas Givan.


Mas Givan berjalan ke arah pintu, "Lagi keluar, Bang. Dari pagi padahal sih. Tak tau udah pulang, terus berangkat keluar lagi. Aku baru bangun tidur soalnya nih, Bang. Jadi tak tau pasti mamah ke mana." mas Givan berjabat tangan dengan tamu-tamu tersebut.


"Oh, ya udah. Kami nunggu di luar aja ya, Bang? Sebelumnya udah bikin janji sih, jam sebelas ketemu di rumah ini." salah satu dari mereka mengatakan hal itu.


"Oh ya, silahkan. Maaf ya, Saya di dalam." mas Givan tersenyum ramah pada mereka semua.


"Iya, Bang. Tak apa, Bang. Santai aja." mereka tertawa kecil.


Lalu mereka duduk di kursi yang tersedia di teras. Ada juga yang duduk di pagar beton, yang bisa diduduki.


"Bukan, itu punya nenek. Bukan buat Adek lah, nenek stok aja." mas Givan memperhatikan barang yang Ceysa bawa.


Itu adalah sebungkus sosis mentah, untuk tambahan memasak.


"Dek mau, Yah. Minta goleng." Ceysa mengeluarkannya satu, dari bungkusan tersebut.


"Yuk goreng." mas Givan menggandeng tangan Ceysa, "Buat Rere juga." mas Givan menoleh ke arah anak perempuan yang ada di samping Ceysa.


Mas Givan membawa dua anak itu ke belakang. Dengan aku yang memperhatikan bang Dendi.


"Bikin es kah, Bang? Atau mau kopi?" tanyaku kemudian.


Aku menantu mamah Dinda. Aku tidak boleh bersikap seolah tamu, dengan menunggu dihidangkan minuman.


"Tak lah. Mau langsung balik aja, tak enak sama Ghava. Lagi banyak projects di sana. Cerita Nalendra itu nah, difilmkan di Riyana Studio. Awalnya sih tak ngeh, kalau mamah yang buat. Tapi pas ngedit nih, kok jalan ceritanya berlatarbelakang di Padang. Jadi paham tuh, meski nama penulisnya tak dipublikasikan."


Wah, jangan-jangan itu cerita mamah Dinda yang terjual saat kami berkunjung ramai-ramai.


"Ya udah deh. Maaf ya ngerepotin, Bang?" aku tak enak hati pada bang Dendi.


Meski telah memberinya bayaran, lewat tangan Rere. Rasanya tidak enak saja, mempekerjakan orang yang dekat dengan kita. Aku merasa tidak sopan.


"Tak apa." bang Dendi bangkit.


"Re.... Ayo pulang, Nak." seru bang Dendi, dengan melangkah ke belakang.


Tak lama, Rere muncul dengan membawa satu sosis besar yang dibawa menggunakan mangkuk plastik.

__ADS_1


"Pulang dulu, Te." bang Dendi mengajari anaknya untuk mencium tanganku.


"Iya, ati-ati. Makasih ya udah mau nemenin Tante." aku mengusap pipi anak itu, setelah Rere mencium tanganku.


"Acih." Rere masih tidak jelas berbicara.


"Iya makasih, sama-sama." aku tersenyum ramah pada Rere.


"Balik dulu, Dek." bang Dendi menggendong anaknya.


"Ya, Bang. Ati-ati." aku mengantarnya sampai ke ambang pintu.


Aku sungkan keluar, karena banyak laki-laki. Mana mereka tengah merokok semua, pasti itu tidak baik untuk kandunganku.


"Masuk, Canda!" peringatan itu turun dari belakang tubuhku.


"Ya, Mas." aku berbalik badan, kemudian menuju ke tempatku duduk kembali.


Aku tengah nyaman duduk dengan menyandarkan bantal di belakang pinggangku. Ini cukup membuat tulang belakangku rileks.


"Duduk, Ces. Ayah mau telpon nenek dulu." mas Givan menggiring Ceysa, untuk dekat denganku.


Ceysa hadir, dengan dua sosis besar itu.


"Ini satunya buat Biyung kah, Dek?" aku menunjuk sosis yang di mangkuk plastik itu.


"Wat Dek, Biyung." mata bang Daeng itu menatapku dengan lepas.


Mas Givan terkekeh, "Tadi Ayah bilang kan satuan sama Biyung. Memang Adek Ces habis makan dua sosis besar? Kalau habis, sok abisin semua buat Adek Ces." ujar mas Givan dengan memainkan ponselnya.


"Biyung dikit aja." Ceysa menunjukkan ujung kukunya.


Dasar, Unyil. Dia jarang makan nasi, membuatnya begitu lahap dengan jajanan.


"Sok buat Adek Ces aja." aku merapikan rambutnya.


"Hallo, Mah. Ada tamu."


Aku mendongak, menatap suamiku yang tengah berbicara dengan teleponnya itu.


"Tak tau dari mana. Bentar, aku tanyakan." mas Givan berjalan ke arah pintu.


"Maaf, Bang. Ini dari mana ya? Mamah Saya lupa ada janji tuh. Maklum, faktor U." mas Givan tersenyum lebar.


"Dari Lima Satu Studio, Bang." jawab laki-laki yang duduk paling dekat dengan pintu.


Mas Givan mengangguk. Kemudian, ia menempelkan kembali ponselnya ke telinganya.


"Dari Lima Satu Studio katanya, Mah." mas Givan berjalan ke arahku kembali.


Ia duduk di hadapanku, di sofa single. Posisi kami seperti sudut L.


"Ya, Mah." sesaat kemudian, mas Givan menurunkan ponselnya.


Kemudian, ia memandangku dengan menyandarkan punggungnya.


"Sering ya pergi-pergian begini tanpa izin suami?" mas Givan menuduhku.


Aku bingung menjawab. Jika aku jujur, mas Givan marah. Jika aku berbohong, masanya ia tahu, ia akan lebih marah.


...****************...

__ADS_1


Canda milih bohong atau jujur hayo?


__ADS_2