
"Mah, ada Ghava. Mamah ditemenin Ghava aja ya, sementara Papah pulang. Aku mau ke...."
Papah Adi langsung menyela ucapan Ghifar, "Udah! Udah! Udah ke baca, Far. Ingat kau ada istri, anak kau dua. Udah terserah kau, mau ngobrol sama Pocut kek, mau bukber kek. Masanya kena karmanya, jangan tanya kesalahan kau apa." papah Adi begitu ketus pada anak pertama dari benihnya itu.
"Assalamualaikum." Ghava masuk ke ruanganku.
"Wa'alaikum salam." sahut kami semua yang berada di dalam ruangan.
Ghava melirikku sekilas, lalu ia berjalan menuju ke ibunya.
"Mamah baik-baik aja?"
Lucu juga.
"Ehh, Bakai! Yang sakit itu Canda, kok kau malah nanya Mamah baik-baik aja kah?" ucapan Ghifar membuat cipratan tawa dari kami.
"Mamah pucat kali, aku khawatir." Ghava sudah duduk di sebelah ibunya.
Ia merangkul ibunya, lalu mencium pipi ibunya.
Uhh, manisnya.
"Mamah kau tak kuat puasa. Biasa, lagu lama." papah Adi bertopang dagu, dengan siku yang menempel di tepian banker ini.
"Buka aja kah, Mah? Mamah mau apa? Aku belikan ya?" tanya Ghava dengan fokus pada mamah Dinda.
Inilah neneknya Chandra yang super itu.
Satu kelemahannya, yaitu berpuasa. Ditambah lagi, beliau memiliki penyakit maag. Membuatnya sering sakit perut dan mual-mual, ketika bulan puasa seperti ini.
Dua hal yang membuat asam lambung mamah Dinda kambuh, berpuasa dan stress. Dua hal tersebut, pasti membuat keadaan mamah Dinda drop.
"Buka puasa, sama Papah tak boleh."
Hah?
Sekelas mamah Dinda saja mengadu?
"Boleh kok, kalau Mamah tak kuat. Dari pada Mamah sakit, nanti kita gimana coba?"
Aku tidak mengerti, kenapa anak-anak mamah Dinda begitu meratukan ibunya?
Luar biasa.
Anak laki-laki tetap milik ibunya. Meski ia telah berumah tangga dan memiliki keturunan.
Papah Adi bangun, lalu beliau menunjuk Ghava.
"Balik lah sana kau, Va!"
Bukannya marah, Ghava malah tertawa lepas.
"Maaf, Pah."
Papah Adi menggantikan posisi Ghava. Sekarang Ghava yang tengah berbicara bisik-bisik pada Ghifar, yang tengah duduk di spring bed single.
__ADS_1
Papah Adi terlihat mesra ke istrinya. Ia mengusap-usap kepala istrinya yang bersandar di dadanya. Entah ada percakapan apa di antara mereka, karena aku tidak bisa mendengarnya.
"Ehh, sialan kau!!!" Ghifar tertawa geli dengan memaki adiknya.
"Iyalah, Bang. Kan, kan kau ini....." Ghava mencandak tangan Ghifar, sepertinya ia masih dalam misi membujuk abangnya itu.
"Ck....."
Aku yang malah penasaran, karena semua orang berbisik-bisik.
"Adek istirahat aja. Dibawa tidur, biar tak lemas." papah Adi berbicara dengan berjalan ke arah pintu.
"Canda...." beliau menoleh ke arahku.
"Chat aja, apa yang mau kau bawa. Nanti sore Papah balik lagi." ujarnya kemudian.
"Iya, Pah."
Papah Adi segera berlalu pergi.
"Awas! Awas!" mamah Dinda berjalan lunglai ke arah spring bed single itu.
"Sok, Mah. Bobo, Mah."
Ghava dan Ghifar pindah dari ranjang untuk tempat beristirahat itu.
"Kau jangan bilang-bilang!" Ghifar tersenyum lebar dengan mendorong tubuh adiknya itu.
"Iya, tenang aja. Yang penting kau sepakat nantinya."
"Okeh." Ghifar pun berlalu pergi.
Ghifar sepertinya benar-benar sudah biasa saja padaku. Mungkin karena Kinasya yang sekarang sudah bisa memperlakukan dirinya dengan baik.
Satu hal yang masih kuingat sampai hari ini. Ghifar tetap ingin aku berada di pandangan matanya, meski aku telah hidup bahagia bersama orang lain. Ia ingin, aku berada di jangkauan tangannya.
Entah apa definisi rasa yang Ghifar torehkan untukku. Ia hanya menjagaku dan mengamatiku dari jauh.
"Tidur, Kakak ipar. Biar cepat fit keadaannya." Ghava memilih sofa panjang.
"Iya." aku hanya mengiyakan saja.
Beberapa jam terlewat. Aku terbangun, dengan kondisi ruangan yang sepi. Mamah Dinda dan Ghava pun, hilang dari pandanganku.
Ke mana mereka?
Aku seperti korban kecelakaan, yang tidak diketahui sanak saudaranya. Benar-benar sendirian, tanpa ditemani oleh salah satu keluarga.
Namun, itu tidak terjadi cukup lama.
Mamah Dinda masuk ke ruanganku, dengan wajah paniknya. Lingkar matanya terlihat bengkak, dengan bulu matanya yang terlihat basah.
"Tenang, Mah." Ghava muncul dengan terburu-buru.
"Telpon Kin! Telpon Kin!" perintah dari mamah Dinda.
__ADS_1
Ghava langsung mengangguk, kemudian mengutak-atik ponselnya.
"Ada apa, Mah?" tanyaku pada mamah Dinda, yang baru saja duduk di kursi dekat brankar ini.
Mamah Dinda menggeleng. Ia malah meraih ponsel yang Ghava sodorkan.
"Kin...." suara mamah Dinda bergetar.
Ada apa ini sebenarnya?
Apa ini tentang penyakitku?
Apa aku akan mengalami kelumpuhan dalam waktu yang lama? Atau selamanya?
"Ya, Mah." panggilan telepon tersebut dispeaker ternyata.
"Canda....." mamah Dinda tertunduk, ia malah menangis.
"Canda kenapa, Mah?" aku bisa mendengar kepanikan di seberang telepon sana.
"Aku kenapa, Mah?" aku menggenggam tangan beliau.
Mamah Dinda melirikku sekilas. Lalu beliau menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Canda didiagnosa hipokalemia. Kaliumnya 1,7 mmol/L." ungkap mamah Dinda yang membuatku kebingungan.
Aku tidak mengerti maksudnya.
"Tenang, Mah. Jangan nangis." ucap Kin di seberang telepon.
"Bisa sembuh kok, Mah. Nanti aku bantu resepkan obat, selain obat-obatan dari rumah sakit. Nanti makanannya pun aku urus. Tapi aku minta, Canda nanti jangan terlalu banyak aktivitas dulu. Apa lagi, aktivitas yang banyak ngeluarin keringat. Dari cerita Ghifar, aku udah feeling kalau Canda kekurangan kalium. Karena bukan sekali dua kali aja, aku liat Canda mandi keringat. Sampai baju bagian belakangnya basah kuyup, sampai pengait daleman jiplak di bajunya yang basah karena keringat."
Yang menjadi pertanyaanku, hipokalemia ini apa?
"Aku kenapa sih, Mah?" aku dengan tidak sopannya merecoki mamah Dinda yang tengah bertelepon dengan sang ahli kesehatan itu.
"Hipokalemia, Canda. Banyak faktor penyebabnya, berat-berat lah penyakitnya. Contohnya, gagal ginjal, diabetic kotoasidosis, leukimia. Nah, kalau kita lihat dari multifaktor yang ringan. Penyakit kau ini, bisa terjadi karena hiperhidrosis, atau berkeringat berlebih. Bisa juga penipisan atau kekurangan magnesium, muntah atau diare."
Aku seperti terlempar dalam kesendirian. Pikiranku langsung menyempit.
"Hipokalemia ini kondisi di mana kadar kalium atau potassium di dalam darah, serum, atau plasma darah menurun atau di bawah normal. Yaitu kurang dari 3,5 mEq/liter. Normalnya, kadar kalium di dalam darah sekitar 3,6 hingga 5,2 millimol per liter."
Aku tidak mengerti teori.
"Tapi ada faktor lain juga kan, Kin?" tanya mamah Dinda.
"Banyak lagi, Mah. Aku tadi cuma nyebutin yang terburuk dan yang teringannya aja. Bisa juga karena faktor, program diet yang salah, asupan diet yang berkurang atau dalam bahasa kitanya decreased dietarty intake. Penggunaan enema, cairan yang disuntikkan ke saluran pembuangan untuk membersihkan pencernaan. Bisa juga karena obat pencahar, lexative. Tapi menurut aku, Canda ini tak mungkin ngelakuin program diet ekstrim kek gitu. Menurut aku sih, bukan karena faktor yang baru aku sebutin ini. Canda menderita hipokalemia, karena.......
...****************...
Pinternya kalau orang pendidikan. Langsung nyambung, feeling langsung jalan.
Aku kadang agak heran sama dokter itu. Mereka hebat-hebat, dukun pun keknya bukan tandingan 🙏🤭✌️
Kita belajar lagi ya 🤭 tenang, ini masih novel kok. Belum LKS, ataupun buku cetak tebal lima senti 😂
__ADS_1