
"Ahh, iya. Silahkan dinikmati." mamah Dinda malah menyambut perempuan tersebut.
Aku malah segera minum, karena selera makanku tiba-tiba hilang.
"Bilqis!" papah Adi berseru.
"Sebentar." sahut ibu Bilqis, yang malah duduk di samping kursi mamah Dinda.
Aku ingin memberitahunya saja, bahwa itu bukanlah hal yang bagus. Lebih baik, ia kembali saja ke papah Adi.
Tanpa sungkan, ia mengambil sedikit nasi dan ikan bakar hasil masakan Kinasya. Entah kenapa, Kinasya juga kebetulan masak banyak hari ini.
"Aduh....." suara papah Adi semakin mendekat.
"Sini makan, Pah." Kinasya menarik satu kursi untuk papah Adi.
Papah Adi mengangguk, kemudian ia duduk di kursi yang Kinasya persilahkan tadi. Itu adalah kursi, yang berada tepat di hadapan mamah Dinda.
Pasti dari tempatnya, papah Adi bisa melihat mamah Dinda dan Bilqis begitu jelas. Sedangkan aku duduk di kursi raja, kursi yang paling ujung dan paling depan.
Biasanya kepala keluarga duduk di sini jika dalam sinetron, maupun dalam novel umumnya. Tapi sekali lagi aku tekankan, novel ini tidak umum, karena tidak tamat-tamat.
Kinasya menyendokkan nasi dan lauk pauknya untuk papah Adi. Kemudian, aku saling melempar pandangan pada Kinasya. Aku yakin, Kinasya paham wajah panikku. Hanya saja, aku khawatir Kinasya tak paham isi pikiranku.
"Enak masakannya. Ini siapa yang masak?" suara ibu Bilqis itu berkumandang.
Aku sudah tidak selera makan. Aku hanya memisahkan daging ikan dari dirinya, tanpa memakannya.
"Masakan aku dong." jawab Kinasya dengan tersenyum lebar.
Aku pun melihat ketegangan di wajah papah Adi. Pasti ia berpikir kulitnya akan ditusuk oleh duri ikan ini oleh mamah Dinda. Entahlah, aku hanya menebak saja.
"Kemarin ke mana aja, Bu Dinda?" pertanyaannya seolah akrab saja.
Sekalipun ia bersikap baik pun. Ia tetap kami salahkan, karena telah merebut suami mamah Dinda.
"Business trip." jawab mamah Dinda dengan menoleh sekilas pada perempuan di sebelahnya.
"Oh, memang punya bisnis apa Bu?" apa ia mau adu usaha?
"Banyak. Coffee bean cultivation, coffee bean market, muslim fashion model, book writer and screenwriter. Sekarang lagi belajar home clothes convection."
__ADS_1
Apa ya artinya?
Tapi sepertinya, mamah Dinda tidak menyebutkan semuanya.
Karena mamah memiliki peternakan puyuh di kampungnya. Beliau pun memiliki banyak saham di usaha anaknya.
Aku bisa melihat ibu Bilqis ternganga beberapa detik. Kemudian ia manggut-manggut dan tersenyum lebar pada mamah Dinda.
Aku mual dengan cara makannya. Ia seperti tidak memiliki etika. Ia tidak sopan, karena menj*l*ti bumbu di jarinya dan memiliki suara dalam mengunyah. Ya, memang tidak masalah. Itu hak masing-masing orang. Tapi tidak saat makan bersama seperti ini. Attitude-nya seperti tidak berpendidikan. Dalam agama pun, adab makan tidak seperti itu.
"Aku juda model busana muslim. Aku endorse produk juga."
Pasti di benak mamah Dinda mengatakan, siapa yang bertanya?
Ia ingin sekali diakui rupanya.
Mamah Dinda manggut-manggut, "Udah pernah menikah?"
Aku khawatir mamah Dinda menjurus ke permasalahan rumah tangganya. Lebih-lebih, mamah Dinda marah besar karena Bilqis mengacaukan rumah tangganya.
Ibu Bilqis tertawa lepas, "Belum. Aku fokus ke karier aja soalnya."
Mamah Dinda menyambung tawa tersebut, "Berapa memang usianya?"
"Tiga puluh sembilan, Bu. Memang tak mencerminkan umur segitu ya, Bu?" jawab perempuan sok akrab itu.
"Iya, nampak tua. Kek udah punya cucu."
Kinasya sampai menyemburkan es jeruknya. Kemudian ia menghadap tembok, dengan menuntaskan tawanya.
Aku pun membuang wajahku ke arah lain. Perutku geli, mendengar sahutan mamah Dinda.
Pasti ibu Bilqis tidak mengira mendapat jawaban seperti itu. Pasti, ia mengira mamah Dinda akan menjawab bahwa dirinya awet muda.
"Memang usia Anda berapa?" urat wajah ibu Bilqis sudah tidak bersahabat.
"Karier cuma endorse produk aja kan? Tapi sampai tak nikah-nikah. Apa karena tak laku? Sampai jadi perawan tua kek gini." mamah Dinda lebih memilih tidak menjawab pertanyaan ibu Bilqis rupanya.
Aku, Kinasya dan papah Adi saling memandang. Itu bukan kalimat baik, meski nadanya ramah dan lembut.
"Tak, banyak kok yang mau sama aku. Tapi menikah kan butuh komitmen gitu, Bu." seperti yang bijak saja jawabannya.
__ADS_1
"Bahkan kemarin dilamar kepala sekolah." lanjutnya kemudian, lalu menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Oh, yang pak Kusnadi itu? Dia sih mau pensiun, makanya mungkin lebih milih sama pak Adi kali. Lumayan kan, lebih muda sepuluh tahun dari pak Kusnadi." apa berteman dengan intel seperti Mavendra, kita akan memiliki jiwa detektif seperti mamah Dinda?
Ibu Bilqis mendelik cepat pada mamah Dinda, "Jangan sok tau ya, Bu!" suasana mulai memanas.
Mamah Dinda mengelap tangannya dengan tisu yang tersedia.
Mamah Dinda tersenyum manis dan menoleh ke ibu Bilqis, "Tak sok tau juga. Cuma tadi keceplosan aja. Kan kau jadi malu. Aku jadi tak enak hati sama kau." beliau menepuk-nepuk lengan ibu Bilqis tersebut.
"Eh, lagian kok tak sungkan sih sama yang lebih tua? Seusia bapak kau ya mungkin? Dulu aku pacaran sama yang usianya beda delapan tahun aja, mikir seribu kali buat nikah. Takutnya kek gini soalnya. Aku masih cantik, terus suami resmi aku udah bau tanah." mamah Dinda menoleh sekilas pada papah Adi. Papah Adi pun kena mulut mamah Dinda di sini.
Ibu Bilqis pun, mengikuti arah pandang mamah Dinda ke arah papah Adi.
"Mana masih punya anak sekolah kan? Duh, nanti gimana bayar sekolah anak. Belum lagi, mereka nimba ilmu di pesantren. Satu semester, itu harus keluar tiga belas juta. Itu yang satu anak, lah ini dua anak." lanjut mamah Dinda kemudian.
"Aku bersyukur punya Ghifar dua tahun lebih muda dari aku. Mana kita tak punya pensiunan ya, Mah? Laki-laki tua nanti tak punya penghasilan tetap, kita juga akhirnya yang banting tulang untuk biaya anak." timpal Kinasya, dengan menyuapi anak-anak makan.
Ceysa pun anteng makan bersama sepupunya itu. Ia ikut memulas bersama Kaf.
"Nah iya. Mending pensiunan malah, tiap bulan masih dapat gaji. Nah kita-kita begini?" mamah Dinda menoleh ke arah Kinasya.
"Kan ada usaha, Dek. Laki-laki pun mikirin hari tua kali. Tak mau istrinya kesusahan di luar sana." jawab papah Adi.
Apakah beliau merasa tersindir?
"Memang empat bulan kemarin ada ngirim ke Gavin sama Gibran? Memang ada bayar uang semester kemarin? Memang selama empat bulan, ada ingat buat kasih perlengkapan bulanan mereka? Atau, sekedar kasih uang jajan mereka?"
Aduh, aku bahkan melupakan dua adik yang ganteng-ganteng itu.
Benar sekali. Itu pasti mamah Dinda yang membayarkan biaya pesantren mereka dan biaya kebutuhan mereka. Papah Adi tidak tahu-menahu tentang hal ini.
"Eh, biaya rumah sakit kemarin anak-anak yang bayarin. Abang tuh, udah tak punya apa-apa. Pikiran sih ada ke anak-anak bungsu kita. Tapi apa daya." ungkap papah Adi, dengan suara bergetar.
Drama air mata dimulai. Siapa yang lebih dulu menangis ya kira-kira?
Mamah Dinda geleng-geleng kepala, "Heran." beliau tersenyum miring, tetapi terlihat begitu samar.
Aku bisa melihat mata ibu Bilqis yang tidak berkedip. Pasti, ia tengah mencerna semuanya.
...****************...
__ADS_1
Lagi memanas padahal 😥 udah habis aja 🙄