Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD234. Cerita dari Putri 2


__ADS_3

Aku sudah boleh pulang, pukul sepuluh malam. Bidan memang menyarankan untuk menginap. Tapi, sudah ada pasien yang akan bersalin lagi. Membuatku dipulangkan, dengan mendapat pengawasannya selama empat puluh hari.


"Papah kuat tak sih? Tadi minjem kursi roda punya bidan aja." aku ragu-ragu, saat papah Adi hendak menggendongku.


"Is, sembarangan. Punya anak lagi juga, masih mampu buatnya. Ketimbang gotong lima puluh kilo aja, masa iya stamina Sayahhhh tidak kuat?" papah Adi menunjukkan bisep lengannya.


Mamah Dinda yang masih berada di dalam mobil tertawa geli. Ada-ada saja, raja yang paling baik hati ini.


"Mampu deh aku jalan juga, Pah. Tadi aku bisa kok jalan ke kamar mandi sendiri." ujarku kemudian.


"Sayahhhh juga mampu. Udah coba, jangan cerewet." papah Adi langsung menyelipkan tangannya di belakang lututku dan di belakang punggungku.


Mau tidak mau, aku langsung berpegangan pada lehernya. Aku tidak mau ada cerita jahitan pecah, gara-gara aku jatuh dari gendongan ayah. Kan jelas tidak etis, bukannya suami, tapi malah sang ayah yang menggendongku.


"Bismillahirrahmanirrahim, bismillahirrahmanirrahim." aku langsung tegang, saat tubuhku mulai terangkat.


Pantas mamah Dinda begitu mabuk pada papah Adi. Di usianya sekarang pun, ia masih terlihat begitu muda dan berotot. Dilihat dari bawah seperti ini, papah Adi terlihat seumuran seperti bang Daeng.


"Biar Abang bawa masuk peralatannya nanti. Adek masuklah dulu sama bayinya." seru papah Adi, saat kami sudah berada di teras rumah.


"Pah, aku di kamar mana?" tanyaku kemudian.


"Di kamar Papah dulu. Tadinya mau di kamar Givan, tapi yang punya kamarnya datang. Mau di kamar tamu yang satu lagi, tapi lagi ada tamu. Kamar tamu yang sebelah kiri kan, tak ada ranjangnya."


Akhirnya, aku sampai di kamar utama.


"Papah mau pindahin barang-barang kau dulu." papah Adi langsung berlalu pergi.


Saat papah Adi keluar, mamah Dinda masuk dengan menggendong bayiku.


Namun, yang membuat moodku buruk adalah perempuan yang berada di belakang mamah Dinda. Ia mengekori mamah Dinda, Putri.


"Gimana keadaan kamu, Canda?" sapa Putri begitu ramah.


Aku memberikan senyum paksa, "Baik." jawabku seperlunya.

__ADS_1


"Di sini ya? Mamah mau bersih-bersih dulu." mamah Dinda menaruh bayi merah ini di tengah ranjang, kemudian dirinya masuk ke pintu lain di dalam kamar ini.


Putri berjalan mendekati ranjang, lalu ia duduk di tepian ranjang.


"Setelah aku bantu ongkosnya. Aku gak tau lagi kabar tentang Lendra. Yang jelas, masa itu dia minta ongkos ke rumah ayahnya di Banda Aceh."


"Aku tak pengen tau di mana Lendra, Put. Kau tenang aja, aku tak akan pernah usik privasi kau yang satu itu." aku masih ingat, jika ia adalah publik figur yang butuh status janda.


"Sejak hari itu, aku gak pernah aktif di sosial media lagi. Untuk produkku pun, aku pakai artis buat jadi brand ambassadornya. Aku cuma fokus kerja, tata ulang usaha yang terbengkalai beberapa waktu."


Kleb...


Aku dan Putri menoleh bersama ke pintu walk in closed itu. Aku pun memiliki pintu seperti ini, hanya saja menggunakan fungsi geser.


Mamah Dinda sudah berganti pakaian. Wajahnya pun masih basah. Entah itu air, aku skincare rutinnya yang belum menyerap sempurna.


"Kenal Givan di mana, Put?" tanya mamah Dinda tiba-tiba.


"Kenal di bandara. Kejadian salah paham. Ada sedikit accident, yang bikin aku sama dia kenal. Dari paspornya yang aku tahan itu, aku tau kalau dia vendor usaha paman aku Mah."


Berharap kah dia menjadi menantu mamah Dinda? Segala sudah berani menyebut mamah.


"Tas jinjing kita sama. Entah gimana kejadiannya, saat ambil tas, tas kita ketukar. Di dalam tas aku, banyak dokumen penting. Pas aku buka tas jinjing yang aku bawa, ada paspor sama kumpulan minyak wangi bermerek. Ya udah, aku buat pengumuman di bandara pakai paspor yang aku dapat itu. Aku kira dia pedagang minyak wangi, atau punya usaha jastip itu, ternyata bukan." Putri bercerita sembari tertawa geli.


"Minyak wanginya buat adiknya, si Icut itu. Bukan barang baru, bekas dia waktu dia tinggal di Kalimantan. Ada yang tinggal setengah, ada yang tinggal dikit betul, ada yang masih banyak juga. Icut itu, suka ngoleksi botol yang punya merek mahal. Bekas minuman keras pun dia koleksi, tapi kosong, tak ada isinya."


Aku tahu kejadian Icut yang bertamu dua kali, hanya untuk mencari mas Givan. Ternyata, ia meminta botol bekas minyak wangi. Ada-ada saja keluarga ini.


"Givan gak cerita. Mulutnya gak ramah, ngomong kalau butuh bantuan aja."


"Givan susah terbuka sama orang. Terus, kok tiba-tiba ada hubungan gini?" mamah Dinda sudah berada di tengah ranjang, tangannya tengah menggendong lagi bayiku yang pulas ini.


Memang seperti ini mamah Dinda. Meski cucunya tidak menangis, ia sering sekali menggendong-gendongnya.


"Paman aku kan wafat, lepas aku pulang dari sini nih Mah. Sedangkan, anaknya masih bayi. Istrinya pun wafat, karena mereka meninggal karena kecelakaan gitu. Mereka lama punya keturunan, jadi udah pada tua, tapi baru punya bayi. Karena ayah aku keluarga satu-satunya, jadi usaha tambangnya diasuh dulu sama ayah aku, sampai anaknya besar nanti. Kata ambo, ambo ini ayah aku. Aku disuruh bantu urus tambang dulu, biar si PT. Indo Walet itu diurus ambo. PT punya Givan kan belum stabil, PT paman aku ini Pama Persada Grup vendor lama PT. Adi Wijaya Abadi. Karena punya Givan belum stabil, aku dari perwakilan Pama Persada, bantu finansial dan akomodasinya. Tapi, itu perjanjian saham. Jadi, Pama Persada nanti punya berapa persen saham dari Adi Wijaya." jelas Putri dengan mengisyaratkan jarinya ke sana ke mari.

__ADS_1


Mamah Dinda manggut-manggut, "Terus, kabar Adi Wijaya gimana?"


"Adi Wijaya masih di bawah. Kena sanksi, Givan pun terus minta transferan sama aku, karena dia urus PT. Putra Tunggal Berintan itu. Pama Persada sampai goyah, buat bantu dua PT itu."


Jujur, aku tidak mengerti.


"Givan tak tutup Putra Tunggal itu?" mamah Dinda terlihat kaget.


"Gak, Mah. Dia malah urus perizinannya."


Mamah Dinda geleng-geleng kepala. Ia sepertinya tidak tahu apa-apa, dengan kabar usaha anak sulungnya itu.


"Berapa banyak Givan habiskan dari kau? Kau jangan sama Givan deh. Givan tuh main depak aja, rugi besar kau nanti."


Hah?


Ada pula ibu yang seperti ini?


"Aku pun udah mikir kek gitu. Givan bilang, gak mau repotin orang tua. Dia juga bilang, kalau usaha aku gagal, kau dapat badan aku aja udah. Aku di situ kek orang bodoh. Habis aku triliunan, masa gagal, diganti badan aja. Aku langsung nolak ide bodoh dari Givan itu. Terus, dia bilang gini Mah. Aku punya tiga anak, mamah aku minta mereka minimal tamatan S1 semua. Biaya mereka kecil aja, bikin aku tak pernah jajan malam."


Aku dan mamah Dinda saling memandang. Mas Givan memikirkan masa depan anaknya? Terkejut aku.


"Oh, jadi kau iba karena Givan punya pikiran tentang anak-anaknya?"


"Ya, aku pun ngerasain susahnya besarin anak. Apa lagi, anak bungsu mas Givan tak punya dokumen, sama kaya anak aku di sana."


Demi Allah?


Benarkah?


Putri sudah memiliki anak?


"Anaknya paman kau itu, Put?" mamah Dinda masih mewawancarai Putri.


"Bukan. Anak aku, anak aku sama.......

__ADS_1


...****************...


Sudah kubilang 🤦 Sana pakai pelampung 😏


__ADS_2