
Aku pun membuat akun sosial media baru. Karena aku lupa email dan password akun sebelumnya. Ponsel baru, isinya pun benar-benar baru.
Aku melirik pada laki-laki yang baru duduk di sampingku. Ia terlihat masih kacau, dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya.
"Abang kenapa sih?" aku sedikit menyerongkan posisi dudukku.
"Apanya?" aku bisa melihat matanya yang sedikit merah dan sayu.
"Abang tuh kenapa? Dari kemarin pagi keknya bad mood gitu." aku berterus terang mengenai pertanyaan yang mengganjal di benakku.
"Lagi pengen." ia kembali fokus pada ponselnya.
Aku mengerutkan dahiku. Pernyataannya begitu ambigu.
"Pengen apa?" sebenarnya aku memiliki spekulasi buruk, hanya saja aku tak ingin berburuk sangka.
Ia menunjukkan tangannya yang tergenggam. Tiba-tiba, ibu jarinya muncul di antara jari telunjuk dan jari tengahnya yang menekuk.
Aku langsung membuang muka ke arah lain. Aku paham, posisi ini berbahaya sekali. Dia laki-laki dewasa dan aku perempuan dewasa. Ini sungguh tidak baik, apa lagi dengan statusku yang masih belum jelas.
"Gih tidur! Jangan ganggu Abang dulu. Dari kemarin lagi cari bahan, tapi belum dapat yang pas. Tengok Venya, atau perempuan di luar sana tuh. Keknya biasa aja, gak narik minat."
Bahan apa maksudnya? Bahan wanita dalam film tersebut?
"Terus mau ngapain kalau udah nemu yang pas?" aku memberanikan diri untuk memandangnya kembali.
"Ngocok lah. Ngapain lagi?" mulutnya sungguh tidak pantas.
"Terserah kau lah, Bang." aku memilih untuk beristirahat di ranjang kembali, sembari bermain ponsel baru ini.
Aku tidak memungkirinya. Bahwa aku senang mendapat hadiah ini.
Nomor kontak bang Lendra, bang Dendi dan kak Anisa pun sudah ada dalam aplikasi chat ini. Sepertinya, bang Lendra memang sempat memainkan ponsel ini lebih dulu.
__ADS_1
~
Aku mensyukuri segala sesuatu yang telah aku terima hari ini. Gaji pertamaku sudah berada di genggamanku.
Karena aku belum memiliki rekening, gajianku di transfer ke rekening bang Lendra. Tapi tetap ada hitungannya, jadi aku tahu jumlah jelas gajian pertamaku ini.
Ngomong-ngomong, kami sudah berada di Lampung. Daerah dataran tinggi perkebunan kopi arabica, yang kini menjadi tempat kami bertugas.
Jika melihat perkebunan kopi yang amat luas ini, aku jadi teringat akan suasana rumah megah itu.
"Lima juta lima ratus ya, Dek. Uang transpot sama uang makannya belum ditransfer, nanti Abang bagi lagi." bang Lendra memberikan tumpukan uang berwarna biru yang cukup tebal ini padaku.
"Boleh Abang minta tiga juta? Buat proses cerai sama dokumen janda kau?"
Baru saja aku menghitungnya, tapi ucapan bang Lendra kembali menyadarkanku tentang statusku ini.
Aku memperhatikan wajahnya, lalu bergulir pada tangannya yang menengadah padaku.
"Nanti masa iddah, kau tukar tugas sama sekertaris satu. Namanya Sari, dia yang ngolah laporan dari kau sama bagi tugas baru untuk pekerjaan selanjutnya. Pulang pergi kantor, ada mobil jemputan karyawan dari kantor. Kau tinggal berdiri di depan toko aja, jam tujuh lebih lima belas biasanya mobil itu lewat. Kan masuk kerja jam delapan kurang lima belas, lima belas menit briefing dulu, mulai kerja baru jam delapan. Nanti jam dua belas istirahat, jam empat sore pulang, sabtu minggu libur, tanggal merah pun libur. Gak enaknya jadi Sari, karena jam kerjanya delapan jam. Kalau sekertaris dua kan, dia kerja seperlunya aja. Maksudnya, kalau jam delapan kerjaan udah selesai, ya udah kita santai. Kalau Sari, ada kerjaan, gak ada kerjaan, waktu kerjanya delapan jam itu."
"Anak aku gimana, Bang?" hanya itu yang tersangkut di pikiranku.
"Planning Abang sih gini, Dek. Uang makan, uang transpot sama uang tinggal nanti buat operasi kau. Bukan Abang pengen nikahin kau, tapi syaratnya mesti perawan. Gak operasi pun gak apa, kalau Abang cinta sama kau. Tapi menurut Abang sih, biar kau glow up gitu loh. Terus setelah itu terserah kau, mau kau warnai rambut, lurusin rambut, bleaching gigi atau segala macam. Yang penting, pikiran kau itu udah nangkup. Bahwa kau ini sudah lebih baik dari sebelumnya, harus dapatkan yang lebih baik dari yang sebelumnya. Masalah Chandra, nanti Abang minta Enis urus. Tapi, Enis ini lagi ada masalah. Dia lagi gak di kos-kosan kita. Dendi pun sama, dia udah gak kos lagi di sina."
Aku kaget mendengar penjelasan bang Lendra. Karena tidak ada apapun keluh kesah dari mereka, selama kami bertukar chat beberapa waktu terakhir.
"Kalau Chandra dibawa ke kantor, itu gak mungkin bisa keknya. Kalau Chandra sama Abang, kau harus rela jauh dari anak. Karena setelah ini, Abang ada tugas ke Samarinda, terus ke Pontianak."
Ya Allah, aku harus bagaimana?
Padahal kehidupanku sudah lebih baik dengan aturan dari bos galak ini. Ia mempermudah kehidupanku, tapi ada saja yang membuat aku harus rela jauh dari Chandra.
"Tiga minggu setelah ini, kita pergi ke Samarinda. Keknya, kau udah dapat surat pisah nantinya. Nah, kau langsung ambil operasi. Nginep di rumah sakit tiga hari, tiga minggu luka jahit kau sembuh, tapi nanti kau gak boleh hubungan badan atau angkat berat dulu. Kan pas tuh nanti timingnya. Kau sembuh dari luka operasi di inti kau, kau pun udah janda. Jadi kau jalani masa iddah resmi kau dulu, selama tiga bulan masa penyembuhan itu. Nah, di penghujung tiga bulan nanti. Kau bakal dapat surat keterangan, bahwa kau udah janda. Keknya begitu, Abang cari wacana sih kek gitu. Kurang tau pasti soalnya Abang, Dek."
__ADS_1
Ia sampai memikirkan ini itu untuk aku.
"Uang tinggal nih, keknya sehari dapat tujuh ratus dua puluh tiga. Dikali, tiga minggu kita di Jambi. Nah, yang trip Lampung ini. Dibayarkan nanti kalau kerjaan kita udah beres. Kek gitu terus siklus pembayarannya." bang Lendra masih menjelaskan dengan isyarat tangannya.
"Uang tinggal itu uang hotel ini kah?" aku masih tidak mengerti dengan sebutan uang tinggal.
"Iya, Dek." ia menyandarkan punggungnya kemudian.
"Kok berani sih PT Abang kasih kamar segitu mahalnya?" aku masih tidak mengerti dengan PT tempat kami bekerja.
Gaji kami, dibilang kecil. Namun, jika sudah dihitung transport, uang makan dan kamar hotel, tentu jumlahnya fantastis.
"Itu gak seberapa, dari hasil triliunan yang mereka dapat bersih kelak. Kita ini cuma pekerja, sedangkan PT cuma berani gaji segitu. Ada celah, mereka lengah di bagian uang tinggal. Ya kita permainkan di situ. Aslinya pesen satu kamar, untuk tiga orang. Tapi laporan yang dikirim, pesen tiga kamar buat tiga orang."
Ini cerdas atau memang licik ya?
"Terus ke mana larinya uang Abang? Kenapa masih belum punya rumah aja? Tinggal masih ngontrak."
Aduh, harusnya aku menjaga sopan santun mulutku.
"Abang ada usaha kamar apartemen udah satu tahun belakangan. Jadi, Abang beli beberapa pintu apartemen di Jakarta. Nah, apartemen itu disewakan lagi. Kita ada main juga sama pihak dari apartemennya. Jadi pertahun itu ada masuk, lebih stabil dan cenderung menukik naik tiap tahunnya. Tapi sejauh ini, baru ada tiga kamar. Uangnya langsung dikunci, begitu ada masuk ke tabungan khusus dana dari usaha itu."
Hah? Aku kira ia cupu, ternyata ia suhu.
"Yah, biar Chandra nanti sama Abang untuk sementara kau kerja di kantor?"
Aku menegang, bang Lendra kini memberi perintah untuk aku jauh dari Chandra.
Bagaimana aku harus mencari jalan keluarnya? Agar aku tetap bisa bersama Chandra.
...****************...
Bantu Canda ambil keputusan dong 😁
__ADS_1
Bang Lendra ini urus betul ya 😊 Canda bakal diam di tempat kalau gak ada yang ngarahin gini. Dia tipe manusia-manusia yang pasrah pada takdir.