
Aku memiliki stok LPG yang lumayan banyak. Lima puluh tabung gas melon, dua puluh tabung gas pink dan sepuluh tabung biru. Galon isi ulang dan galon tukar pun, sudah mulai lancar berjalan.
Yang meleset, hanya di freezer eskrim. Ternyata, kini aku memiliki tiga freezer eskrim berbeda merek dan tentu isinya juga. Etalase kaca hanya berisikan beberapa merek mie instan sebagai display, karena aku pun menyetok mie instan dalam kardus dalam jumlah banyak. Aku pun menyetok air mineral kemasan gelas beberapa puluh kardus dan stok berbagai macam tisu. Itu semua harga grosir, berbeda dengan harga warung sembako biasa. Ghavi sudah mengajariku segalanya, termaksud tempat ulakan dalam jumlah banyak.
Tidak ada sembako. Hanya itu saja.
Beras yang dari Ghavi belum berjalan. Baru perencanaan dan wacana saja. Ghavi mengatakan, ia akan menyetok gabah lebih banyak dahulu. Tapi tidak untuk sekarang, karena harga jual beras tengah murah, tetapi harga jual gabah tengah mahal.
"Nitip Kal. Dia minta main, ngerengek terus di rumah. Kin lagi diare, aku mesti kerja. Kaf sih bisa ditinggal, Kinnya lari ke kamar mandi tuh. Tadi dari mamah, cuma mamahnya lagi masak. Di sana juga sepi, tak ada teman buat Kal." ia berjalan dengan menggendong anak perempuan yang memakai baju langsungan berwarna pink itu.
Ghifar pun sudah rapih dengan kemeja dan celana panjang kainnya.
"Yung... Ain." ucap Kal, dengan nada menjemput temannya untuk bermain.
"Ya, sini main sama bang Chandra. Tuh, Abang lagi mainan balok susun." aku menunjuk Chandra yang anteng dengan mainannya.
"Hei, Cantik. Tak percuma ya gym rutin sama Abang?"
Aku mengikuti arah pandangan Ghifar.
Ternyata ia tengah memperhatikan Ria yang tengah melayani pengisian galon. Aku bahkan tidak tahu, jika Ria rutin gym dengan Ghifar. Pantas saja tubuh Ria begitu sintal dan berisi. Aku kira, Ria memang kuat makan saja.
Ria tersenyum lebar dengan menaik turunkan alisnya, "Ya itulah. Bos kalau suruh angkat galon, malah nanti jebrol." seru Ria dari tempatnya.
"Ya tak apalah, biar cepat lahirannya." tambah Ghifar, yang membuat kami terkekeh.
"Kal sama Abang ya? Jangan nakal, jangan rebut-rebut. Nanti nenek ke sini, kalau nenek udah selesai masak." Ghifar mengusap-usap kepala anaknya.
"Ya." ia langsung nyeruntul mendekati Chandra.
"Nih, jajan Kal. Dia asal berhentiin orang dagang aja nantinya." Ghifar menyodorkan uang lima puluh ribu padaku.
"Ada lah cuma buat cilok sih." aku menolak uang titipan itu.
"Ya udah pakai ini aja."
Aku terpaksa mengambil uang titipan itu. Lalu Ghifar segera pergi.
Ghifar memang terlihat biasa saja. Iya, biasa saja layaknya saudara ipar. Namun, pasti itu akan berbeda jika tidak ada orang.
Menurutku terlalu banyak, untuk ukuran uang jajan anak satu tahun setengah. Tapi jika tahu kebiasaan anak ini, uang lima puluh ribu tidak ada apa-apanya. Kal lapar mata, ia suka memberhentikan penjual keliling, meski tidak tahu itu penjual apa.
__ADS_1
Aku memperhatikan mereka, sesekali meladeni Ria yang minta kembalian.
Tidak terasa, kebiasaan ini terulang sampai waktunya aku melahirkan.
Aku menangisi keturunanku ini. Ini semua terjadi di depan mataku. Rasa haru campur panik, saat melahirkan bidadari cantik ini.
Si mungil merah ini tidak menangis, saat ia dilahirkan. Aku sudah panik, bidan pun langsung memeriksa keadaan bayi perempuanku ini.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah." papah Adi menyelesaikan iqomahnya.
"Waaaaa......." tangis itu seketika langsung melengking tinggi.
"Alhamdulillah..."
Aku bersyukur, ia mengeluarkan tangisnya juga. Hampir-hampir bidan membuat surat rujukan, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena bayi perempuanku tak kunjung menangis.
Papah Adi masih mendekap bayi yang masih berselimut kain tersebut. Ia membacakan sesuatu, lalu meniupkan di atas kepalanya.
"Tenang, Nak." papah Adi masih mendekapnya.
"Tahan, Canda." mamah Dinda mengusap keringatku.
"Aduh... Laa, ilaaha illallah." aku langsung menggigit bibirku, karena intiku ditusuk sesuatu.
"Sedikit. Tiga jahitan aja keknya. Sabar ya, Kak. Sebentar kok."
Aku mengalihkan pandanganku pada papah Adi dan asisten bidan saja. Papah Adi tengah meladeni gadis kecil, yang tengah dipakaikan pakaian oleh asisten dokter tersebut.
Entahlah, saat melahirkan seperti ini. Aku minim rasa malu. Tapi, papah Adi pun tahu posisinya. Apa lagi, ranjangku disekat oleh tirai. Namun, aku bisa menarik tirai itu untuk melihat bayiku yang tengah diurus tersebut.
Ia masih kuat menangis. Tangisannya begitu lepas. Mungkin ia ingin seluruh dunia tahu, bahwa ia dilahirkan hari ini.
Pukul setengah lima sore, tanggal tiga puluh satu, hari selasa bulan sepuluh. menjadi waktu bersejarah untuk keturunan keduaku ini. Setelah sarapan pagi, aku sudah memiliki bercak darah. Aku pun langsung melapor pada ibu dan mamah Dinda. Namun, hanya diperiksakan pada Kin saja. Karena aku tidak memiliki rasa mulas.
Barulah jam satu siang, aku langsung dibawa ke bidan kampung karena rasa mulas itu datang dengan cepat. Hingga, atas izin Yang Kuasa. Jam setengah lima sore ini si kecil merah itu sudah keluar dengan sehat.
"Alhamdulillah, selesai. Saya bereskan dulu ya?" bidan tersebut melanjutkan aktivitasnya yang lain, setelah selesai membantuku bersalin.
"Minum, Dek. Makan. IMD dulu tuh, bukannya dipakaikan baju dulu." mamah Dinda sudah mengomel saja.
"Bisa langsung pun, tak apa Bu." asisten bidan tidak mau disalahkan.
__ADS_1
Ya, namanya juga ibu-ibu yang berpengalaman melahirkan. Mamah Dinda begitu rewel, dengan pelayanan yang kian berubah.
"Nih, Canda." mamah Dinda menyodorkanku teh manis.
"Terus makan. Biar tak lemas." ia sudah repot membuka rantang makanan saja.
Aku langsung dipaksa makan. Padahal aku tidak lapar.
"Mamah suapkan, kau sambil nyusuin dulu." mamah Dinda mengambil alih bayi perempuan yang digendong papah Adi.
"Abang pulang dulu ya? Sambil ngabarin yang lain." ia memperhatikan istrinya yang berurat cuek tersebut.
"Jangan bawa Chandra ke sininya, dia lagi pilek. Nanti kau pun pulang ke rumah Mamah aja, sampai Chandra dan Zio sembuh pileknya. Ehh, tapi sampai kau bisa urus sendiri aja deh." mamah Dinda menyuapiku kembali, dengan tangan kirinya yang menggendong bayi.
"Iya. Perlu apa-apa, nanti Adek telpon Abang aja. Nanti Abang bawakan." papah Adi segera berlalu pergi.
Ia sudah mengadzani banyak cucunya.
Hammera, Azka, Ghofar dan terakhir bayi perempuanku ini.
Ia sudah seperti orang tua untukku. Saat aku sudah mulas di rumah. Ibu malah sudah menangis saja. Ia tidak bisa berbuat banyak, ia sudah gemetaran.
Membuat mamah Dinda maju, kemudian meminta ibu untuk tetap di rumah dengan menjaga Zio dan Chandra saja.
Beberapa saat kemudian, bayi kecil ini sudah terlelap dengan menyusu padaku. Padahal ASI belum keluar, tapi ia sudah pulas saja.
"Mah, pengen duduk." aku mengganggu beliau, yang tengah mengemil dengan bermain ponsel.
"Ya, abis duduk nanti. Tinggal belajar jalan."
Aku hanya mengangguk. Kemudian mengalungkan kedua tanganku pada leher beliau. Kemudian, mamah Dinda menegakkan punggungnya membuatku tertarik bangun.
"Mah, Adeknya di ke sinikan. Aku mau gendong." aku menepuk tanganku.
Mamah Dinda langsung memberiku bayi merah ini.
Aku menciuminya, hingga ia menggeliatkan tubuhnya. Wajahnya begitu mirip dengan......
...****************...
Mirip author baiknya sih 🤔
__ADS_1
Paksu pengen betul anak perempuan, eh aku gak hamil-hamil ðŸ¤
udah keturutan anak sulung laki-laki, pengen kasih adik buat si sulung susahnya ampun 😌 rajin buat, malas buat, tetap tak bikin hamil juga 🙄 apa paksu keluarnya angin kah? 🤠apa aku kurang banyak makan, jadi telur aku gak bulat-bulat 😆