Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD373. KB Yasmin


__ADS_3

Aku melongo saja mendapat perlakuannya yang mengejutkanku. Lima tahun aku hidup dengannya, baru kali ini aku mendapat pukulan di part belakangku dari mas Givan.


"Main senggol-senggol aja kau!" wajahnya marah tetapi menahan tawa.


"Aku mau ngaca." aku menarik kedua sisi hijabku.


Aku fokus kembali pada pantulan diriku di cermin. Aku juga bisa melihat mas Givan yang masih menatapku dari samping.


"Bikin gatal aja kau, Canda. Ayo cepatlah di KB, takut keduluan sama benih tumpah."


Ada saja celotehannya.


"Gih duluan, aku touch sunscreen dulu." ini tengah hari dan aku tak mau skincareku sia-sia, karena aku melupakan pelindung kulitku.


"Jangan lama ya?" mas Givan melangkah ke arah pintu.


"Iya, Mas."


Aku segera menepuk-nepuk wajahku yang sudah aku olesi sunscreen. Dengan uang dari amplop para undangan, aku bisa perawatan bersama mamah Dinda beberapa hari yang lalu.


Aku melakukan perawatan whitening booster, perfect brightening skin dan juga pearl whitening treatment. Yang total anggaran untuk wajah saja, aku menghabiskan sejumlah satu juta seratus.


Aku juga melakukan perawatan pada daerah sarangnya mas Givan nanti. Itu pun atas dasar saran dari mamah Dinda. Hanya rangkaian kecil, karena aku tidak memiliki begitu banyak waktu.


Ditambah lagi, Ceysa ikut dan dititipkan di ruang bayi di klinik kecantikan itu juga. Namun, diberi tarif perjam.


Kalian bisa mencobanya di klinik kecantikan langganan kalian. Aku melakukan triple V treatment, platinum gel V treatment dan V stem cell. Fungsinya untuk mengencangkan, merapatkan, membunuh bakteri penyebab keputihan, membuat kesat dan menguatkan otot. Total biayanya sekitar satu juta tujuh ratus ribu, tetapi tergantung tempatnya juga.


Jika tempat langgananku ini, bisa dibilang kalangan karyawan. Karena tempat itu bukan langganan mamah Dinda. Jika ditempat mamah Dinda, harganya lebih mahal bahkan bisa berkali-kali lipatnya. Biasanya, hal itu dikarenakan menggunakan rangkaian produk lokal atau luar negeri. Harganya bisa berbeda, tergantung kualitas produk yang mereka pakai.


Mas Givan sudah memberikan peringatan tentang perawatan wajahku. Padahal, aku ingin laser wajah lagi karena prosesnya lebih cepat dari rangkaian treatment manapun. Memang sedikit menyakitiku treatment laser tersebut, tapi aku mendapatkan hasil yang instan. Hanya butuh waktu sepuluh harian, aku sudah glowing. Jika perawatan wajah biasa seperti yang aku sebutkan tadi, itu perlu pengulangan agar aku mendapatkan hasil maksimal.


Aku sudah ada di area ruang tamu. Aku memajang senyumku pada tamu yang duduk dengan menciumi Key terus menerus.


"Biyung.... Masa Mamah mau nikah sama penjajah kita coba." Key mengadu padaku.


"Jadi pengantin tak ngundang-ngundang. Sombongnya!" sapa Fira padaku.

__ADS_1


Aku langsung berjalan ke arahnya, lalu bercipika-cipiki seperti biasanya.


"Amanat." aku menjawabnya dengan tersenyum lebar.


"Iya, iya. Mamah Dinda juga udah cerita." Fira sepertinya memahami tentang ceritaku yang rujuk tiba-tiba.


"Jadi, Mamah mau nikah sama siapa?" aku duduk paling dekat dengan pintu.


"Sama penjajah kita, orang Belanda." Key melirik sinis ibu kandungnya.


Fira tertawa lepas, "Nanti Mamah kenalin deh. Biar Key tak berisik penjajah aja."


Keren juga. Tapi bukan hal aneh juga sih, kan di Bali banyak bule.


"Canda.... Cepat, Canda!"


Aku langsung melongok ke arah luar. Mas Givan sudah nangkring di motornya. Duh, lupa. Aku malah duduk dan mengobrol.


"Ya, Mas." aku berseru ke arah luar.


"Fir.... Nitip anak-anak dulu ya? Bilang mamah juga, Ceysa lelap di kamar sendirian." aku menyempatkan untuk menitipkan pesan dulu.


Aku hanya mengangguk, kemudian bergegas pergi. Karena mesin motor mas Givan sudah dinyalakan.


Wajahnya terlihat sadis, "Ditunggui malah ngobrol." tuturnya ketus.


Aku tertawa canggung, "Maaf, Mas." aku segera duduk di jok belakang motornya.


Hingga beberapa saat kemudian, aku pulang ke rumah dengan mengantongi pil KB yang memiliki harga selangit.


Aku pun baru tahu, bahwa pil KB memiliki harga masing-masing.


Yang aku beli ini bermerek Y*smin, seharga dua ratus sembilan puluh empat ribu per strip.


Yang menjadi fokusku, bukan karena pil KB ini bisa membuat kulit kita cerah dan bebas jerawat. Tetapi, tentang mas Givan yang memilih untuk membelikan yang bagus dan mahal untukku.


Dulu aku berpikir bahwa dirinya egois dan pelit. Ya mungkin, karena sekarang keadaan keuangannya berbeda. Mungkin juga ia banyak membeli barang untuknya sendiri, yang harganya jauh di mahal dari yang ia berikan padaku. Tapi dengan sikapnya seperti ini, membuatku merasa ia sedikit lebih mengerti akan kebutuhan diriku.

__ADS_1


"Setting alarm, buat rutin minumnya. Kek yang dibilang bidan tadi." ia berpesan dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Iya, Mas." sejujurnya aku merasa telingaku kurang waras, jika mengobrol di atas motor yang melaju seperti ini.


Aku menghindari obrolan, agar tidak salah dengar. Khawatirnya, malah aku meminta ia mengulangi pertanyaan sepanjang jalan.


"Ingat loh, Canda. Sepuluh tahun kau harus rutin KB. Kek yang bidan bilang aja, setahun sekali ganti KB." suaranya remang-remang.


"Iya, Mas." aku harus mengingat selama sepuluh tahun.


"Ngobrol-ngobrol dulu sama Fira. Aku ada perlu bentar di toko. Makelar kayu juga, mungkin aku geser jadi usaha lain. Langsung aku olah sendiri buat meubel gitu, aku sedikit belajar dari dato. Meubel dia kan, khusus peti mati. Nanti aku sih macam-macam isi rumah aja. Karena adat nikahan sini kan, pasti bawa isi kamar. Pasarannya lebih mudah di sini gitu, karena pasti lakunya. Permintaan tinggi tentang meubel isi rumah. Orang sini, jarang yang pakai bubuk kayu, masih lebih suka pakai kayu kek jaman dulu. Meski harganya mahal juga pasti dibeli, karena masa pakainya bisa puluhan tahun. Bubuk kayu kan, kena lembab aja patah dia."


Sudah-sudah!


"Iya, Mas." aslinya aku tidak mendengar jelas apa yang ia ucapkan.


"Ya udah, nanti telpon aja kalau Fira udah pergi bawa Key. Nanti urus dulu cuti sekolah Key, mungkin lima harian. Mau dibawa ke Bali katanya."


Aku diturunkan di depan pagar rumah mamah Dinda.


"Memang boleh ambil libur lama gitu?"


"Yaaa... Terserah kita yang bersekolah sebetulnya. Menurut pihak sekolah kan, jangan. Menurut aku, yang penting SPP lancar." ia menjeda kalimatnya, "Key diizinkan pun, karena kita mau liburan juga. Maksudnya, ya sama-sama ada keperluan gitu. Fira mau ngenalin Key sama calon suaminya, kita mau liburan." lanjutnya dengan memandang lurus jalan di depan matanya.


"Aku keluar dulu ya?"


Aku mengangguk, "Jangan lama ya, Mas?"


"Telpon aja kalau Fira udah pulang. Aku risih ada orang lain di rumah." ia berkata dengan memutar balik arah motornya.


Setelahnya, ia langsung melaju menuju ke arah di mana toko materialnya berada.


Planning usaha suamiku banyak dan tanggung jawabnya pada usaha orang lain pun ada. Semoga semua urusan mas Givan dilancarkan. Dirinya selalu dilindungi dan diberi keselamatan.


Aamiin.


...****************...

__ADS_1


Semoga segala urusan dan usaha suami kita juga dilancarkan dan diberi keberhasilan, aamiin.


__ADS_2