
"Ke mall yuk? Abang mau belikan sesuatu buat Adek." aku bisa melihat senyum manisnya, saat ia menunjuk sebuah mall besar yang tak jauh dari sini.
Kami pun masih melangkah perlahan, menyusuri trotoar jalan yang cukup ramai. Beberapa motor ojek online pun, berada di atas trotoar pejalan kaki yang cukup lebar ini.
Kami mulai memasuki mall besar ini, hawa sejuk langsung mengeringkan keringat di pelipisku.
"Cari apa, Bang?" aku masih digandeng erat olehnya.
"Cari....." aku bisa melihat bola matanya jelalatan.
"Tuh." ia menunjukkan sebuah store yang berada di lantai dua.
"Kita naik dulu." ia kembali menarik tanganku. Untungnya, langkah kakinya menyesuaikan dengan langkah kakiku.
Aku tidak tahu pasti ia menunjuk penjual apa. Karena deretan store tersebut begitu ramai.
"Bang... Ada bioskop." langkahku mogok, saat menapak di lantai dua ini. Karena langsung dihadapkan dengan papan bercahaya bertuliskan Cinema XXI.
"Memang belum pernah nonton?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng, "Belum pernah masuk bioskop." akuku jujur.
"Ya udah, yuk. Kita tengok jadwal film dulu."
"Tak nonton pun, tak apa. Aku mau nyobain tempat duduknya aja, aku cuma mau tau suasana di dalamnya aja." aku tidak tertarik menonton film yang begitu lama. Aku gampang mengantuk dan tertidur.
Ia terkekeh kecil, "Mana boleh masuk kalau gak punya tiket." sahutnya kemudian.
Lalu bang Daeng mengajakku masuk ke lobby depan bioskop, kami melihat-lihat jadwal film yang dipasang seukuran poster alphabet.
__ADS_1
"Action kah, Dek? Adek suka film apa?" kami berjalan ke sisi lain, untuk melihat poster yang lainnya.
"Masa jauh-jauh cuma mau nonton bioskop sih, Van."
Cepat-cepat aku menoleh pada perempuan berperut cembung tersebut. Seluruh tubuhku mematung, layaknya cuaca begitu dingin langsung menusuk kulit. Aku mengerutkan peganganku pada lengan bang Daeng, aku ingin bersembunyi saja rasanya.
"Aku mau nonton film balap. Kau main-main lah sama anak kau sana! Aku mau nonton sendiri. Lagi pun, anak kecil tak boleh masuk." aku menyerongkan tubuhku, aku lebih condong ke arah dada suamiku.
Indung suara ketus tersebut berada di sebelahku. Ia tengah menggandeng anak laki-laki kecil, yang sudah bisa berjalan.
"Aku mau makan dulu aja, Bang." bisikku dengan mendongak sedikit untuk menatap wajah bang Daeng.
"Tadi belum makan sih ya?" akhirnya, kami meninggalkan sepasang manusia tak layak hidup di bumi itu.
Terkejut bukan kepalang, untungnya mereka tak sadar dengan keberadaanku. Rupanya, ayah Chandra berada di mall ini juga. Ia bersama perempuan, yang menikah dengan ayahnya Chandra.
"Mau makan apa, Dek?" kami keluar dari lobby penuh ketegangan ini.
"Makan di luar aja yuk. Pengen makanan pinggir jalan." ini tentu hanya alasanku saja. Aku ingin cepat-cepat pergi meninggalkan mall ini.
"Nanti, Abang mau ajak Adek beli perhiasan." langkahku langsung terseok ke depan store perhiasan emas.
"Canda...."
Aku mendengar panggilan itu. Aku berharap, bang Daeng tidak mendengarnya. Karena suara itu cukup samar, terkalahkan oleh suara musik pop yang disetting di mall ini.
"Ayo, Bang. Katanya mau beli?" aku begitu was-was, saat bang Daeng mogok melangkah.
"Bentar, Dek. Kek ada yang manggil Adek deh." bang Daeng mengangkat tangannya lalu ditempatkan di sebelah telinganya.
__ADS_1
"Ayo, Bang." aku langsung menariknya masuk, seolah-olah aku yang begitu ingin dibelikan perhiasan di store ini. Apa lagi, pintu store ini sudah dibukakan dari dalam oleh pegawainya.
"Yuk..." akhirnya ia mau melangkah. Ia tersenyum ramah, pada pegawai yang membukakan pintu untuk kami.
"Canda...." suara itu seperti berada di belakangku.
Jantungku langsung bergemuruh, saat bang Daeng hendak menoleh ke belakang. Namun, aku langsung menarik tangannya untuk memilih perhiasan yang berada di etalase paling pojok.
"Buru-buru kali, ada yang manggil-manggil loh." ujar bang Daeng di sela langkah kami.
Aku menoleh ke arahnya, lalu aku memberi senyum yang sangat lebar.
"Aku mau beli anting. Kalau tak cepat, aku takut l*bang antingku keburu rapet." tuturku begitu semangat.
Tawanya lepas begitu santai, "Bisa begitu ya?" kami sudah sampai di etalase paling pojok.
Aku akui, aku tidak pintar mencari alasan. Tidak mungkin l*bang anting rapat dengan sendirinya, saat kami telat masuk ke store perhiasan.
"Cari apa, Pak?" salah satu pegawai begitu rapih, ia melayani kami di seberang etalase.
"Seperangkat perhiasan."
Hah?
Kini aku melongo dengan mendongak menatap suamiku. Ya ampun, Daengku.
...****************...
Gak pernah aku 😠pengen juga 😢 pernahnya dikasih uang lima juta, terserah mau beli apa, itu pun hadiah dari dia setelah melahirkan 😠gak pernah diajak beli bareng 😠aku iri ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1