
"Kehamilan kau udah berapa bulan? Kek mana keadaan kau? Mampu tak keadaan kau, kalau Papah temani buat nemuin suami kau? Setidaknya, dia harus tau kau hamil sekarang. Minimal dia tau, udah itu aja. Papah coba belajar dari kejadian Icut. Tanggapan pacarnya dulu minta Icut gugurkan, makanya Papah dukung Mamah buat nutupin aib Icut. Sekarang, coba kita ulang dengan langkah yang sama. Kau cukup kasih tau dia, kalau kau hamil anaknya sekarang. Kalau dia sambut baik, mau memperbaiki hubungan sama kau, Papah bakal dukung, Papah bakal bantu bimbing. Tapi, kalau dia tetap milih perempuannya yang di sana. Papah tetap anggap kau anak. Tetaplah di sini, di jangkauan mata kami. Papah tak akan anggap kau bekas menantu, Papah tak akan anggap orang tua kau pekerja, Papah tak akan Ria orang lain. Kita semua keluarga."
Aku menangis lepas, dengan menutupi wajahku. Lagi-lagi seperti ini, aku dikasihani dengan kebodohanku yang berlebih.
"Mamah sama Papah cuma pengen kau bahagia, aman. Nyatanya, kau tak aman di luar sana." mamah Dinda mengusap-usap punggungku.
"Jangan ditangisi, Canda."
"Pah... Aku tak beruntung. Dalam posisi lemah, aku selalu dikasihani. Awalnya pun, dia yang support aku habis-habisan Pah." aku teringat akan masa-masa awal dengan bang Daeng.
__ADS_1
Papah Adi bangkit, lalu ai berpindah duduk di sebelahku.
"Jangan stress. Cukup Mamah dulu yang stress masa hamil kembar, cukup Kin yang kaku masa hamil Kaf. Tenangin hati kau, samarkan luka kau. Bukan masalah beruntung, atau kau perlu dikasihani. Tapi ini takdir, Dek. Semua orang tak bisa memilih takdir, tapi setiap orang mampu memperbaiki takdir dengan cara memperbaiki diri kita sendiri. Udah tau sekarang kan? Lain kali lebih hati-hati sama laki-laki. Menurut Papah, kau terlalu cepat milih laki-laki buat dampingi kau." ia menepuk-nepuk punggungku.
"Kenapa tak transparan dari awal? Harusnya, masa aku pengen nikah. Kau datanglah ke Mamah. Mintalah restu Mamah Papah, minta pendapat tentang pandangan Papah Mamah tentang laki-laki yang kau bawa itu. Bukan langsung ambil pilihan sendiri begini, Canda. Tak apa kalau kau laki-laki. Masalahnya kau perempuan, kau bawa perut. Jadi kau harus hati-hati jatuhin pilihan, apa lagi ini mengenai teman hidup." tambah mamah kemudian.
Hari ini, aku baru tahu artinya menyesal karena terburu-buru.
Aku menoleh ke kanan, memperhatikan wajah laki-laki matang ini.
__ADS_1
"Pah... Kalau udah aja kek mana?" aku tak mungkin langsung mendatangi rumah dato, lalu mencari keberadaan bang Daeng. Itu terlalu fatal, dato begitu keras pada bang Daeng.
"Laki-laki tak mungkin langsung mau, kalau kelak kau datang dengan alasan anak gadis kau minta diwalikan. Memang ada wali hakim. Tapi ayah kandungnya yang lebih berhak. Siapa tau juga, kau ada harapan bersatu kembali. Rumah tangga kau masih seumur jagung, kau yakin mau ninggalin dia gitu aja? Terlepas dari kesalahannya yang milih bertunangan. Apa ego kau tak pengen ambil kembali suami kau kah? Apa kau tak pengen punya keluarga kecil yang utuh kah? Karena setau Papah, komitmen tertinggi itu pernikahan. Pertunangan pasti kalah dengan pernikahan. Logika Papah, atau kalau Papah bayangkan bahwa itu diri Papah sendiri. Papah bakal mempertahankan pernikahan, ketimbang pertunangan Papah dengan perempuan lain." papah Adi mencoba menjabarkan tentang sudut pandang laki-laki.
"Dimusyawarahkan dulu, Dek. Dulu, Mamah musyawarahnya berpuluh kali. Sama keluarga Mamah, sama keluarga Papah, belum lagi sama pihak ketiga dulu." yang mamah maksud, mungkin saat dirinya dimadu dulu. Mamah Dinda tidak menjabarkan, ini hanya tebakanku saja.
"Jadi gimana mau kau?" tanya papah kembali.
...****************...
__ADS_1
Mau Canda gimana ya 🤔