
Aku mengenali seseorang. Seseorang yang tengah berdiri dan memegang kamera.
Kenapa bang Dendi bisa menyewa Ghava untuk menjadi fotografer pernikahan mereka?
Lalu, bagaimana caranya aku bernafas dengan baik jika ada salah satu delapan saudara di sini?
"Kak..." aku memejamkan mataku, berharap ia tidak melihat keberadaanku.
Bodoh memang, harusnya ia yang memejamkan matanya agar tidak bisa melihat kehadiranku.
Aku mengenal suara orang yang baru saja menyapaku. Dia adalah sarang ekor dari Ghava.
Maksudku, Winda.
Ia sudah berada di hadapanku, lalu sekarang dirinya tengah memelukku.
"Akak apa kabar? Mana Chandra?" ia tengah memegang kedua tanganku dengan tersenyum lebar.
Bang Lendra.
Chandra bersama bang Lendra. Chandra tengah membeli sebuah balon, di dekat tempat parkir pesta ini.
"Dek, tolong pegang dulu. Mau muntah Abang." bang Lendra segera memberikan Chandra padaku.
Tentu saja membuat Winda yang masih berada di hadapanku, tengah dirundung seribu prasangkanya terhadapku.
"Tatoan? Akak serius?" gulir matanya masih memperhatikan punggung bang Lendra yang menjauh.
Bang Lendra berjalan cepat melewati acara ini. Ia terlihat masuk ke dalam rumah bang Dendi. Mungkin ia akan menumpang toilet di sana, untuk memuntahkan isi perutnya.
Padahal, bang Lendra sudah muntah lebih dari lima kali. Ia sudah terlihat amat payah dan pucat.
Jika memang ia tidak nyaman dengan jalur penerbangan, harusnya ia tak mengambil opsi untuk naik pesawat.
"Dia cuma bos tempat aku kerja." aku begitu gugup saat menjawabnya.
"Yaaa..." Winda membawaku untuk duduk di salah satu bangku.
Aku baru sampai, aku pun belum memberi selamat pada kak Anisa dan bang Dendi.
"Ya tak apa sih papah sambungnya Chandra juga. Tapi dia bertato, itu serem menurut aku. Dia kek apa ya? Penjahat gitu." mata Winda jelalatan tidak pasti.
__ADS_1
Aku berharap, Winda tak membahas tentang mas Givan di sini.
"Aku belum mikirin papah sambung Chandra." aku tidak mau dituduh berselingkuh, karena sampai saat ini surat cerai itu belum sampai.
"Gagah-gagahnya sih mirip papah Adi ya, Kak? Tapi entah kenapa, di mata aku bos Akak lebih serem. Kek mafia gitu, tatonya mirip punya Tora Sudiro. Dia kan ada tato di bagian leher, sama kek bos Akak itu." Winda menunjuk arah bang Lendra berjalan ke mari.
Kasihan aku padanya. Ia betul-betul bermandikan keringat dingin sejak dalam perjalanan tadi.
"Kasih selamat dulu yuk? Terus cari hotel." ajak bang Lendra, tanpa memperdulikan keberadaan Winda di sampingku.
Aku menebak ekspresi Winda sekarang. Pasti ia cukup cerdas, saat menangkup kata hotel yang bang Lendra sebutkan.
"Cek in satu kamar suite room sih, Dek. Coba reservasikan dari sekarang, biar Abang bisa langsung istirahat."
Bang Lendra tetaplah bos. Meski kami tengah berada di pesta pernikahan.
Aku merogoh ponselku, berniat melakukan yang bang Lendra inginkan. Aku sudah diajari untuk reservasi hotel, atau reservasi meja untuk tempat kami bertemu klien. Meski tugas ini adalah tugas kak Raya, tapi setidaknya aku paham caranya.
"Eh, Dek. Itu Dendi ngelambai ke kita." bang Lendra menepuk-nepuk pundakku.
Aku meluruskan pandanganku, ke arah pelaminan bernuansa kuning keemasan itu.
"Jadi kek mana?" tanyaku cepat.
"Ke depan dulu yuk? Mana tau kasih pinjam kamar pengantin." bang Lendra menarik tanganku.
Aku hanya bisa menurut, dengan menoleh ke arah Winda. Aku yakin, Winda pasti sudah berpikir yang bukan-bukan tentang aku dan Tora Sudiro ini.
"Ke pesta pakai baju kerja, id card masih gantung lagi. Apa maksud kalian? Biar aku dikira pegawai bank kah?" bang Dendi terlihat murka melihat penampilanku.
"Eh, iya lupa." bang Lendra hanya melirik id card yang tergantung dengan tali di lehernya.
Aku pun sama, sebuah id card tergantung seperti kalung berukuran besar di leherku. Tetapi ada sebuah penjepit, yang membuat id card ini aman di bagian dada sebelah kiri. Bang Lendra pun demikian, memiliki penjepit id card juga.
Sebelumnya, kami tengah menyelesaikan pekerjaan. Bahkan aku tidak berpikir, bahwa kami akan pergi ke pesta pernikahan kak Anisa dan bang Dendi. Yang ada di pikiranku, hanya untuk datang memberi selamat pada kak Anisa dan bang Dendi.
"Selamat ya, Kak. Samawa." aku bercipika-cipiki ria dengan kak Anisa, dengan menyelipkan kotak beludru kecil di tangannya. Aku belum mampu memberi hadiah yang mewah untuk kak Anisa.
"Makasih, Dek." senyum kak Anisa begitu lebar.
"Kau kinclong sih, Dek." aku tengah bersalaman dengan bang Dendi sekarang.
__ADS_1
"Iyalah, skincare-nya tiga ratus delapan puluh ribu sepaket. Krim malam, krim siang, toner, facial wash. Bahkan, dia ngajak aku cari serum wajah di Lampung sana. Lipstik Dokter Gladys segala, yang ia cari ke sana ke mari. Body care, segala Scarlett lah. Scrub badan aja, harus Beda Lotong lah. Ditariknya aku ke sana ke mari, di kira Lampung kampung halaman sendiri. Padahal gaji cuma lima juta, sombongnya langsung skincare diborong semua." aku terkekeh geli mendengar aduan bang Lendra pada kak Anisa dan bang Dendi.
Aku tak memungkirinya, bahwa aku memang langsung berburu produk yang sebelumnya aku gunakan rutin. Saat masih diberi jatah oleh mamah Dinda. Aku begitu bahagia, saat mampu membeli produk kosmetik itu kembali. Bahkan dengan uangku sendiri.
Bang Dendi tertawa begitu lepas. Ia terlihat puas, saat bang Lendra memasang wajah kesal.
Sedangkan kak Anisa, ia hanya mampu tersenyum manis sesekali. Ia tidak menangis, tapi aku bisa melihat kekecewaannya di matanya. Tentu ia kecewa dengan dirinya sendiri, karena tidak mampu menikah dengan laki-laki yang ia cintai.
"Jadi?" bang Dendi menatapku dan bang Lendra secara bergantian.
"Tak jadi-jadi. Habis lah uang dia, sama buat urus surat-surat cerainya. Tinggal nunggu trip dari Jambi aja, belum cair soalnya." terang bang Lendra kemudian.
"Dari Lampung kalian tadi?" tanya bang Dendi kemudian.
"Iya, mobil aja masih di sana." ujar bang Lendra, dengan membenahi posisi Chandra.
"Foto dulu sih. Terus nanti sana pada istirahat dulu kau, Bang. Kau juga, Dek." bang Dendi menarikku, agar berdiri di sebelahnya.
Sedangkan bang Lendra, ia berdiri di samping kak Anisa dengan menggendong Chandra.
Aku melihat bang Dendi memberi isyarat pada fotografer, yang siap sedia di depan panggung pelaminannya.
Aku tertunduk malu, saat Ghava fokus padaku. Aku tahu, ia mengenaliku di sini. Mungkin, ia pun merasa kaget karena aku datang dengan seorang Tora Sudiro.
"Dek, lurus mata kau." ucap bang Dendi kemudian.
Aku meluruskan pandanganku, "Oh, iya Bang." aku mencoba tersenyum manis saat difoto tadi.
Kontak mata dengan Ghava, selalu aku hindari. Rasanya, aku tidak bisa menjelaskan apapun. Jika aku dituduh berselingkuh oleh adik dari mas Givan ini.
Jika sudah berada di hadapan wajah delapan saudara itu. Aku merasa, nyaliku meninggalkanku lebih dulu. Aku tak kuasa menjawab, atau mengelak jika diberi pertanyaan yang menyudutkanku.
Sekarang pun yang aku rasakan seperti ini. Aku ingin menghindar saja, dari pada diberi pertanyaan.
"Istirahat aja dulu, Dek. Ayo, Abang antar." bang Dendi begitu ramah padaku dan juga bang Lendra.
Ia mampu menghormati perjuangan kami, dari Lampung menuju kabupaten Kuala ini.
Aku berjalan di belakang bang Lendra, sedangkan bang Dendi ia berjalan paling depan. Kak Anisa, tentu ia menunggu pelaminannya sementara.
"Kakak ipar.... Tunggu....
__ADS_1
...****************...
Siapa gerangan?