Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD342. Sulung terbaik


__ADS_3

"Ayo Ayah Givan!" Chandra terus merengek.


"Papa kau itu loh!" mas Givan mendelik tajam pada anaknya, yang sepuluh menit yang lalu selalu mengajaknya keluar.


Bang Daeng dipaksa untuk ikut pulang oleh papah Adi. Mereka pun berniat mengobrolkan semuanya dengan mamah dan Kinasya. Papah menarik nama Kinasya, karena ia memiliki kecenderungan di bidang medis. Sedikit banyaknya, Kinasya mampu mencarikan jalan keluar untuk keluhan perut bang Daeng.


"Papa mau push rank dulu." Ghifar masih bermain ponsel, dengan duduk bersila di depan nakas.


Ia begitu khusyuk bermain game online. Ia sampai beberapa kali pindah tempat, saat Chandra dan mas Givan mengganggunya.


"Papa kambuh, Bang. Kita lapor aja ke ma Kin. Kasih tau, Papa main game terus." ancam mas Givan pada adiknya itu.


"Bang, aku baru download ulang dua jam yang lalu. Kau rupanya senang, tengok aku ditanam lebih dulu." Ghifar nyerocos dengan fokus ke ponselnya.


"Mati! Tanam!" mas Givan bangkit dari spring bed single itu, lalu menggendong anaknya yang gondrong itu.


Entah, kapan rambut Chandra terpangkas rapih.


"Ayah ke sana. Ayah, Ayah. Ayah Givan, ayo kita uji nyali, pakai lilin sama helm itu."


Aku terkekeh geli, mendengar celotehan polos Chandra. Ia kuat begadang, pasti tontonan televisi malam yang ditontonnya semacam uka-uka.


Ghifar tertawa sumbang, "Ayah, suruh uji nyali. Mana berani dia ngunjungin ke rumah sakit sendirian, segala uji nyali. Tak bakal mampu Ayah Givan jalan di lorong rumah sakit sendirian."


Aku melirik pada Ghifar. Aku merasa aneh saja. Apa ia tidak tahu, masa lalu mas Givan kecil yang mampu melihat rupa makhluk halus?


Menurutku wajar mas Givan memiliki ketakutan akan hal itu. Karena, pasti wujud mereka mengagetkan dan menakutkan. Bisa dibilang, ia trauma menurutku.


"Masa kau lewat sendiri, terus ada sepotong kaki berlumuran darah jalan sendiri. Kau tak kalap, apa lagi lari, Abang kasih Pajero satu buat kau." mas Givan tengah menatap tajam adiknya yang fokus pada ponsel tersebut.


"Jangankan kek gitu, Bang. Ada grasak-grusuk aja, aku milih langkah seribu."


Aku yang terkekeh geli di sini.


Aku teringat akan penghuni rumah megah itu. Mereka semua, mayoritas penakut, ya memang aku juga. Namun, keluarga intinya memang benar-benar takut pada hal mistis. Untungnya, lama aku tinggal di sana. Tidak pernah terjadi sesuatu yang janggal. Bunyi-bunyian misterius pun, tidak pernah terdengar. Kecuali, bunyi d*sahan. Itu sering kali terdengar menggema.


"Halah! Cemen!"

__ADS_1


Pusat perhatian kami semua adalah Chandra. Bergaul dengan siapa dia?


Mas Givan langsung menciumi anaknya bertubi-tubi, "Tidur kau! Hmm?! Hmm?! Hmm?! Gemes Ayah, Bang Chandra begadang aja!"


Garis bibirku tertarik, aku bahagia melihat interaksi ayah dan anak itu.


"Yang sakit juga tidur kali! Begadang terus." timpal Ghifar, membuatku tersindir.


"Aku tak bisa tidur, siang tadi banyak tidur."


Mas Givan berjalan dengan membawa anaknya ke arahku, "Mas hamilin lagi, nanti gampang tidur. Tak apa anak-anak telantarkan, kalau tak malu sama mertua." ia mendudukkan Chandra di tepian tempat tidurku.


Aku menangkap sesuatu dari ucapannya. Dengan ia mengatakan demikian, ia secara tidak langsung mengungkapkan alasannya dulu sering memarahiku saat aku mengandung Chandra.


"Numpang sama mertua. Anak suami jelalatan, kelaparan, apa tak malu kita?!" lanjutnya kemudian.


Ia malu, karena anaknya merepotkan orang tuanya.


"Suaminya aja saking." tambah Ghifar enteng.


"Biyung." Chandra langsung mengusel padaku.


"Cobalah dulu jadi pembantunya tukang bangunan. Ngaduk cepat, ngunjal adonan lagi. Coba dulu! Jangan bilang suaminya, suaminya!"


Ah, iya. Dulu mas Givan pekerja kasaran, ia ikut bekerja bersama Zuhdi.


Mas Givan duduk di tepian brankar, "Itu tak seberapa, coba aja ngerasain di lapangan langsung. Sampai rumah capek, karena tak biasa kerja bikin adukan semen itu. Liat istri tidur, anak sama orang tua, apa tak meledak? Malu tau! Masa dari kecil nyusahin orang tua melulu. Dulu kecil nyusahin, giliran besar, malah anak Abang yang nyusahin mamah."


Aku tak pernah terpikirkan sejauh itu.


Ghifar sudah tidak lagi memainkan ponselnya. Ia bangun, lalu menarik kursi untuk ia duduki.


Ia duduk di kursi itu, tepat di depan nakas. Aku, mas Givan dan Ghifar bisa membentuk segitiga dari posisi duduk kami.


"Aku tak pernah mikir sejauh itu, Bang. Itu sih, karena kau aja mungkin yang berpikirnya jelek."


Mas Givan mengusap-usap punggung anaknya. Chandra memelukku, ia menghadap ketiakku. Sepertinya ia mengantuk, hanya saja tidak menemukan posisi nyaman.

__ADS_1


"Makanya pahami keadaan. Mamah tuh capek, Far. Makanya dari dulu Abang wanti-wanti ke Canda, suruh handle anak sendiri, karena tak enak sama mamah papah. Papah itu gerutu, kalau Canda enak-enakan tidur, tapi anaknya keluyuran sama siapa atau siapa."


Ghifar terdiam menunduk. Apa ya isi kepalanya?


"Ya, Bang. Papah sering ngomongin Canda dulu sama aku. Ya intinya, papah tak suka tengok Canda leha-leha karena alasan kehamilannya. Soalnya, istrinya papah tak begitu. Ya memang, semua perempuan pasti beda pas mabuk hamil. Tapi ya intinya, papah keberatan. Mungkin mamah pun sama, tapi mamah tak pernah ngomongin apapun tentang Canda sama aku. Paling, cuma ngobrol wajar aja."


Aku baru tahu hari ini, ternyata papah Adi berbicara tentangku di belakangku. Mungkin, ini saat kejadian aku mengandung Chandra dan mengurus Key kecil yang hiper aktif.


"Abang tau, tapi Abang cuma bisa diam. Karena malu. Ujung-ujungnya, ya Canda yang Abang marahin. Karena dia selalu ngulangin, Abang tak enak hati sama mamah papah."


Beginikah pemikiran laki-laki dewasa dan seorang suami?


Kenapa mas Givan dulu tidak pernah mengajariku dan menasehatiku?


Ia selalu mengamuk dan marah.


Namun, jika dipikir kembali. Amarahnya, adalah campuran dari rasa kesal dan lelahnya. Aku tak seperti yang ia inginkan dulu. Tetapi, ia enggan menataku seperti yang ia inginkan dengan cara baik-baik.


Mungkin, ini adalah watak si sulung.


"Kin juga pasti diomongin sama papah di belakang aku. Dia sering lepasin Kal, karena dia percaya Kal bisa main sendiri. Tapi, aku selalu tau kalau Kal main ke rumah mamah. Yang artinya, secara tidak langsung, mamah pun asuh Kal juga."


"Nah, itu. Makanya kalau Abang pulang, anak-anak Abang sering Abang bawa keluar. Kasian mamah, pasti dia juga pengen me time. Stress tau Far, ngadepin anak-anak begini, apa lagi tak cuma satu."


Beginikah rasa sayang mas Givan untuk ibundanya?


Ia berusaha tidak merepotkan ibunya.


Dulu ia mengamuk dan marah, setiap kali mamah Dinda mengulurkan tangannya untuk membantuku. Aku yakin, mamah Dinda tidak tega melihat keadaan anak dan menantunya. Namun, mas Givan masa itu berusaha tidak semakin merepotkan orang tuanya.


Pemikiran sulung memang luar biasa. Meski aku paham, caranya cukup salah untuk mendidik istrinya.


Aku bisa mengerti keadaan itu, jika mas Givan tidak melulu membentak dan memarahiku. Aku akan paham keinginan dan maksud hatinya, jika ia menjelaskan maksud baiknya dengan perlahan padaku.


...****************...


Inget gak sih, pas papah Adi nganter Ghifar berobat subuh-subuh tuh. Kan papah Adi sama Ghifar bahas Canda gak ada habisnya. Scene itu, ada di novel Belenggu Delapan Saudara.

__ADS_1


Susah ya kalau kita gak paham watak seseorang. Givan ini dari kecil udah ok pola pikirnya, tapi kita yang menyaksikan kadang salah makna. Kek mamah Dinda gitu, maksudnya baik, tapi cara penyampaiannya kurang mengenakkan. Satu dua gak sih sama Givan?


__ADS_2