
...Ihh, udah crazy up aja nih 😜...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mungkin suara tawa Ceysa, tidak sengaja memberitahu bahwa aku dan Ceysa ada di sini.
"Ehhh...." derap langkah kaki mendekat.
"Ada Ceysa sama Biyung ngumpet." ucap bang Ardi dengan nada kaget.
Tawa Hadi dan Ceysa begitu lepas.
"Dari kapan, Dek?" tanya bang Ardi, dengan menarik daguku untuk menghadap wajahnya.
"Dari jam sepuluhan." jawabku datar.
Aku tidak pandai berpura-pura.
"Kenapa sih? Kok masam gitu?" wajah bang Hadi begitu dekat dengan wajahku.
Aku langsung melepaskan tangannya dari daguku. Aku paham, ia pasti akan modus.
"Kenapa?"
Bang Ardi lekas menjauh, karena Zuhdi muncul dengan rahang yang tengah mengunyah.
"Itu, Bang. Pinjam motor." bang Ardi melangkah menjauh dariku dan anak-anak.
"Mau ke mana?" tanyanya Zuhdi kemudian.
"Keluar bentar, Bang."
Ahh, iya.
__ADS_1
Ia pasti tengah gugup sekarang. Padahal ia tadi berseru, akan mengantar Aini. Tapi sekarang, ia malah hanya berkata ingin keluar sebentar.
Tring.....
Suara besi dan gantungan krincingan yang dilempar.
"Ambil di bawah rumah. Abang pun nanti pakai motor aja berangkat laginya, capek jalan."
Saat awal tadi, bang Ardi mengatakan bahwa motornya bocor ban. Namun, pagi tadi ia berucap sengaja tak bawa motor.
Sepertinya, ia adalah pembohong amatiran.
Jika sudah dibohongi seperti ini. Aku sudah malas saja. Rasa tertarikku padanya, tiba-tiba samar dengan rasa marah karena aku telah dibohongi.
Jadi, sampai kapan aku selalu dibohongi laki-laki?
Aku benar-benar muak, dengan laki-laki pembohong seperti bang Ardi dan bang Daeng.
"Abang pergi dulu, Dek." bang Ardi keluar lagi dari rumah.
"Giska mana, Bang?" tanyaku kemudian.
Ia menoleh padaku sekilas, "Basuh piring kotor." jawabnya kemudian.
Aku menggulirkan pandanganku pada Ceysa, "Ke manda yuk?"
"Ayo." Hadi yang malah menjawab.
Ceysa ikut girangnya saja. Ia serba kegirangan, jika melihat Hadi yang begitu semangat.
"Ma....." Hadi sudah lari saja.
Aku menggendong Ceysa, kemudian berjalan ke rumah bagian belakang milik Giska. Aku segera membukakan tralis pengaman tangga, lalu menggandeng tangan Hadi.
__ADS_1
"Ma.... Ceysa mau mam, goreng nugget."
Giska menoleh, "Okeh, Hadi juga mam ya?" Giska tengah menyusun piring di raknya.
"Aku mau pulang, Giska. Waktunya Ceysa tidur siang juga." ucapku cepat, agar Giska tidak langsung menggorengkan nugget untuk Ceysa.
Karena, ia sudah berjalan menuju kulkas dua pintu miliknya.
"Lah... Makan dulu lah. Baru pulang, terus tidur siang." Giska memasang wajah kecewanya.
"Langsung pulang aja deh. Ceysa udah ngantuk juga keknya, cuma ada kawannya, jadi main terus." aku mengusap keringat yang membasahi dahi Ceysa.
"Ya udah deh. Sini, bawa cemilan." Giska melambaikan tangannya.
Aku langsung menggeleng, "Tak usahlah, kek apa aja." aku tertawa garing.
"Bawa aja, Biyung. Buat Eunces." Hadi menarik-narik kaki Ceysa.
"Iya, nih. Aku kresekin dulu ya?"
Aku hanya diam, memperhatikan Giska yang sibuk memasukkan makanan ringan dan makanan yang ia dapat dari lemari pendingin miliknya.
"Jangan kebanyakan, Manda." aku menghampiri Giska.
"Tak apa." ia mengulurkan kantong plastik tersebut.
Ceysa langsung mengambil alih, "Acih." Ceysa tersenyum manis.
"Sama-sama." Giska mencium pipi Ceysa.
"Doain ya, semoga adiknya Hadi perempuan. Biar cantik kek Ceysa, biar ada temen main buat Ceysa." sambung Giska, dengan merapihkan rambut Ceysa ke belakang telinga.
Aku kaget mendengarnya. Mungkin pupil mataku melebar mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
...****************...