Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD383. RS Lek Timbul Medical


__ADS_3

"Aku sama bang Adi lagi jalan ke rumah sakit. Papah kecelakaan, Kak. Papah ada di Lek Timbul Medical."


Jantungku langsung berdegup kencang. Aku panik, tetapi aku hanya bisa menangis saja.


"Apa itu Lek Timbul Medical?"


"Ya Allah Kakak Ipar, jangan bercanda dulu. Itu nama rumah sakit di Timang Gajah, Kak." suara Giska seperti berteriak.


Sampai telingaku nging-ngingan.


"Ya, aku bilang mas Givan dulu. Nanti aku langsung pulang ke sana, Giska."


Aku tiba-tiba kebelet BAB, jika gemetaran seperti ini.


"Ya, Kak. Nanti aku kabari lagi."


Panggilan telepon terputus, dengan aku segera berjalan ke kamar mandi.


Gimana keadaan papah di sana? Kenapa papah ada di Timang Gajah? Kenapa papah tidak anteng di Kenawat Redelong saja. Duh, lalu bagaimana keadaan mamah juga?


Setelah buang air, aku langsung menunggu mas Givan di ruang tamu. Putri membuatku pusing, ditambah papah Adi membuatku panik.


Ya Allah, bagaimana ini?


Semoga papah Adi diberi umur panjang. Aku sudah berjanji ingin mengurusnya dan berbakti padanya. Aku tidak mau papah Adi kenapa-kenapa. Nanti anakku yang sekarang pasti iri pada kakak-kakaknya, karena hanya ia tidak diajak kakeknya ke ladang, jika kakeknya tidak selamat.


Jangan sampai hal itu terjadi. Aku masih ingin berbakti pada orang tua. Aku tak mau orang tuaku kenapa-kenapa.


"Assalamualaikum." mas Givan masuk dengan tersenyum lebar.


"Es kim." Ceysa menunjukkan plastik berlogo minimarket.


Aku segera bangkit, lalu menggoyangkan lengan mas Givan.


"Mas... Papah kecelakaan. Papah sekarang ada di rumah sakit Lek.... Lek apa itu, Mas?" duh, aku lupa nama rumah sakitnya.


Mata mas Givan langsung terbuka lebar. Ia menutup pintu, kemudian menurunkan Ceysa.


"Mana HP aku, Canda?" mas Givan berjalan cepat ke arah kamar.


"Di atas meja kerja, Mas." aku menggandeng Ceysa, kemudian membawanya ke dalam kamar.


Saat aku sudah berada di dalam kamar. Terlihat mas Givan tengah menempelkan ponselnya ke telinganya.


Ia berjalan mondar-mandir, dengan sesekali memperhatikan aku yang tengah membantu Ceysa membuka bungkus es krim miliknya.

__ADS_1


"Rumah sakit yang di Timang Gajah kah, Canda?" tanyanya, dengan melangkah ke arahku.


"Iya, Mas. Lek Medica kalau tak salah." ia duduk di sampingku.


"Lek Timbul Medical, Canda." ia mengutak-atik ponselnya kembali.


Sepertinya, ia tidak bisa menyambungkan panggilan teleponnya. Entah tidak ada yang mengangkatnya.


"Keadaannya gimana katanya, Canda?" tangan mas Givan sampai gemetaran.


"Tak tau, Mas." aku memandang wajahnya.


"Ya udah, siap-siap. Kita ambil penerbangan aja. Kerja pun pasti tak tenang kalau begini." mas Givan berjalan ke arah kamar mandi.


Aduh, bagaimana ini? Apa harus, aku katakan bahwa Putri menghubunginya. Tapi, aku tak mungkin menahan mas Givan untuk tidak pulang ke Aceh. Panutan kami tengah tidak baik-baik saja sekarang.


Perjalanan yang melelehkan. Aku langsung datang ke rumah sakit bersangkutan, tanpa pulang ke rumah lebih dulu.


Aku sampai tidak ingat bahwa aku tengah mengandung, karena begitu paniknya dengan keadaan ini.


Kini, aku hanya bisa menangis pilu melihat panutanku terbaring lemah.


Papah Adi memiliki balutan kain kasa yang begitu banyak. Bahkan, dadanya pun dibalut kain. Beliau, tidak memakai baju.


"Mamah mana, Va?" mas Givan menghampiri Ghava, yang duduk di kursi dekat brankar ini.


Ghava menggeleng, "Kata supir ambulance yang nganter papah ke rumah sakit...." Ghava menggantungkan ceritanya.


"Ya, gimana?" mas Givan begitu fokus memandang wajah Ghava.


"Mamah Dinda yang nabrak mobil papah dari belakang. Papah bawa Sigra, mamah bawa Xpander. Mamah yang nelpon rumah sakit, mamah juga yang nunggu supir ambulance itu datang. Lepas itu, mamah tancap gas setelah supir ambulance angkut papah sama...."


Papah bersama orang lain?


"Sama siapa, Va?" mas Givan menggoyang bahu Ghava.


"Sama perempuan, selebgram dari Pintu Rime. Itu, dia di kamar sebelah. Dia retak tulang tengkorak, rahang geser." lanjut Ghava dengan nada yang pelan.


Mas Givan menatap tajam papah Adi. Aku tahu, itu adalah ekspresi marah suamiku.


"Pulang, Canda! Kita cari mamah aja. Jangan pedulikan papah, dia banyak anaknya. Mamah pasti tak baik-baik aja sekarang."


Aku tidak percaya dengan ucapan si sulung ini.


"Mas...." aku menahan mas Givan, yang hendak menarikku.

__ADS_1


"Kita belum tau gimana kejadiannya, Bang. Kau jangan nyimpulin, seolah papah bersalah." Ghava berdiri dan berjalan ke arah mas Givan.


Aku takut, mas Givan ini berhadapan dengan Ghava.


"Aku tau mamahku. Mamahku sehat, dengan otak waras. Tak mungkin dia nambrak suaminya sendiri, kalau tidak ada kesalahan dari suaminya. Urus papah kau! Urus pak tua yang tak tau terima kasih itu!" mas Givan menunjuk-nunjuk papah Adi yang terbaring lemah.


"Jadi begitu kau ke ayah sambung kau, Bang?! Dia yang didik kau, menuhin kebutuhan kau, bantu finansial kau sampai kau sukses sekarang." Ghava menekan-nekan dada mas Givan dengan telunjuknya.


"Tapi dia nyakitin ibu aku, GHAVA!!!!" suara mas Givan meninggi hebat.


Aduh, semoga saja kamar jenazah jauh dari sini. Aku khawatir para jenazah bangun, karena suara menggelegar mas Givan yang seperti petir kering ini.


"Van! Lepas dari itu semua. Mereka orang tua kita. Kau tak boleh kek gini, Van!" Zuhdi yang sedari tadi duduk, kini berbaur melingkar di antara kami.


"Urus orang yang kau anggap orang tua ini, Di! Aku yakin, mamah aku sekarang tak baik-baik aja."


Aku sampai terseok-seok, dengan menggendong Ceysa. Mana keadaan perutku yang blending ini. Mas Givan lupa dengan keadaanku.


"Mas.... Nanti perut aku bisa pindah ini." aku mencoba menghentikan tarikan tangannya.


Tepat waktu. Mas Givan langsung berhenti menarikku, dengan nafas kami yang sama-sama ngos-ngosan.


"Nomor mamah sejak semalam udah tak aktif. Baiknya kita cari mamah ke mana?" tanyanya dengan bertolak pinggang.


"Coba kita ke rumah dulu. Punggung aku tak nyaman, pengen istirahat sebentar."


Sebenarnya, aku sengaja mengatakan hal ini. Agar mas Givan berpikir, bahwa aku lemah karena kandunganku. Lalu ia memilih untuk mencari mamah Dinda sendiri, dengan aku yang akan kembali ke papah Adi.


Aku ingin memastikan keadaannya. Aku ingin menunggu beliau membuka mata, agar aku tahu cerita versi aslinya.


Mas Givan mengusap perutku, kemudian ia mengambil alih Ceysa.


"Maafin Ayah ya, Nak? Adek di rumah ibu dulu ya? Adek istirahat ya sama Biyung? Ayah lupa Adek kecapean." mas Givan kembali mengusap-usap perutku, dengan posisi punggung sedikit menunduk.


Berhasil.


"Iya, Mas. Pengen BAB juga." aku sepertinya terlalu berlebihan agar dikasihani.


"Ya udah, kita pulang dulu. Biar aku sama temen aja, sama nyuruh orang sana. Biar mamah lebih cepat ketemu." kami kembali berjalan menuju ke luar rumah sakit.


Aku tidak mengerti, kenapa respon mas Givan seperti itu. Papah Adi tidak kurang-kurangnya menyayanginya. Papah Adi tidak pernah membedakannya dari anak-anaknya yang lain, meski mas Givan hanya anak sambungnya.


"Kau tinggal sama Novi aja ya? Jangan di ibu, nanti naik turun tangga. Novi masih di rumah kita, ibu Muna juga tinggal di rumah kita. Tapi ibu Muna bersih-bersih di rumah anak-anak juga. Cuma bersih-bersih, lap-lap, ngepel juga tak tiap hari, sama gosok WC." ia menjeda kalimatnya, "Aku persen taksi online dulu." mas Givan mengutak-atik ponselnya.


Aku jadi tidak sabar kabur dari mas Givan, untuk mengetahui kabar papah Adi. Mas Givan pasti tidak anteng di tempat, ditambah lagi ia pun harus mengecek usahanya di sini.

__ADS_1


...****************...


Kebaca gak bocoran narasi yang di novel Ghifar? 🙄


__ADS_2