Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD228. Mertua seperti orang tua


__ADS_3

"Mau disimpan sendiri? Atau mau di ke Bank?" mamah Dinda memberiku koper berbahan seperti besi.


"Baiknya gimana, Mah?" aku baru bangun tidur.


Setelah memandikan Chandra, aku begitu ngantuk. Aku sudah tidak bisa menahan kantukku, sehingga meminta pertolongan mamah Dinda untuk menyuapkan Chandra makan. Entah apa yang Chandra lakukan setelah makan, karena aku sudah pulas.


Sebenarnya aku dimarahi mamah Dinda juga. Tapi mau bagaimana lagi? Kantuk ini begitu candu.


"Mah... Aku main keluar ya? Chandra berantem terus sama Aksa." Ria muncul di ambang pintu kamarku, dengan Chandra yang di gendongannya.


Mamah Dinda menoleh ke arah Ria, "Ya, jajannya ada tak?" mamah Dinda bangkit dan mendekati Ria.


Entah percakapan apa lagi, lalu mamah Dinda memberikan sesuatu pada Ria. Pasti itu adalah uang jajan.


Ya, Ria hanya mendapat uang jajan. Tapi jangan dikira sedikit. Jika mendengar obrolan dari ibu, uang jajan Ria hampir senilai dua juta lebih. Ria pun ikut les setiap dua hari sekali, pasti itu mamah Dinda lagi yang membiayainya.


Tak lama, mamah Dinda sudah duduk di tepian tempat tidur kembali.


"Dek... Udah mau trimester ketiga, banyakin gerak. Biar bisa lahiran normal lagi. Lahiran normal itu, pemulihannya cepat. Kalau resiko, ya memang nyawa juga taruhannya kek lahiran sesar." ia memperhatikanku yang masih memeluk bantal guling.


"Aku cuma tidur sebentar kok, mah." aku bangun, kemudian menggulung rambutku asal.


"Iya, tidur secukupnya. Pagi udah tidur, siang kau tak boleh tidur lagi. Ngepel jongkok, di kamar kau aja. Seringin jalan pagi nyeker. Kalau udah mendekati lahiran, jangan pagi aja jalan-jalannya. Setiap perutku tak nyaman aja, kau jalan biar urat pada kendor."


Mamah Dinda tidak pernah menekankan menantunya untuk bisa lahiran normal. Yang penting, ibu dan bayinya selamat. Tika lahiran pertama, ia bisa normal. Kelahiran si kembar, Tika operasi sesar.


"Ya, Mah." aku hanya bisa menuruti beliau.


Mamah Dinda fokus pada koper besi kembali, ia membuka dan mengeluarkan uang tersebut.


"Ini punya ibu, masih utuh." mamah Dinda mengeluarkan amplop tersebut.


"Dek... Mahar kau yang dibalikin Givan, sekitar tiga puluh lima juta. Mau kau simpan uang aja? Atau mau diemasin lagi? Tante Sheila nanti sore main, dia ada di rumah tante Shasha. Nanti Mamah bilangin, carikan perhiasan yang seharga tiga puluh lima juta."

__ADS_1


Namun, aku teringat pada emas batangan milik bang Daeng.


"Emasin aja, Mah. Bang Daeng tersinggung masalah uang dari mas Givan itu. Aku juga punya emas batangan, baiknya aku apakan ya?"


"Batangan bisa dibuat perhiasan. Nanti bilang aja ke tante Sheila, te ini mau dibuat seperangkat perhiasan. Kalau Mamah, tak suka nyimpen emas di rumah. Emas yang di kepala itu, siger sunting, waktu dipakai nikahan Giska, itu kan mahar dari papah buat Mamah dulu, Mamah simpan di Pegadaian. Namanya Jasa Titipan, sebulan dua puluh ribu per satu gram. Emas yang Mamah udah bosen, emas-emas batangan punya papah juga, Mamah simpan di Pegadaian. Selain aman, Mamah juga tak ketar-ketir kalau ninggalin rumah."


Pasti biayanya tidak sedikit. Setahuku, mobil, rumah, ladang juga diasuransikan. Sepusing itu menjadi juragan.


"Tapi Mamah berani ya, gaji pekerja pakai uang cash?" tuturku kemudian.


"Orang Bank datang sendiri. Mereka bawa uang gaji pekerja ke sini. Uang tuh ditaruh di atas kap mobil, ditutupi terpal. Kumpul lah di salah satu jamboe, terus dibagi lah gaji pekerja. Katanya sih, karena papah nasabah prioritas. Udah ngajuin kerja sama, yang pekerja gajian lewat ATM itu. Tapi nyatanya, itu kurang efektif. Tak semua pekerja ngerti tentang ATM, tabungan dan sejenisnya. Pekerja lebih milih gajian cash. Jadi, demi nasabah prioritas yang nilai tabungannya semakin membucit di Bank ini. Pihak Bank mau, buat bantu nasabah prioritas ini cairin uang untuk gaji pekerja ini. Kau tau kan Aceh disebut provinsi termiskin? Nyatanya, orang kita realnya kaya-kaya loh. Bisa dapat julukan provinsi termiskin, karena nilai uang yang tersimpan di Bank ini sedikit. Data dari situ, yang bikin kita dapat klaim itu. Hanya beberapa orang, yang simpan uang di Bank, sisanya mereka simpan uang di emas. Orang kita rata pakai emas, tapi belum tentu mereka punya uang di Bank. Sok aja kau ke toko emas sana. Masyarakat kita, kalau beli emas itu sepuluh mayam, dua puluh mayam. Uang mereka, disimpan dalam bentuk emas. Nah, paling si juragan emas ini yang simpan uangnya di Bank."


Aku pun pernah mendengar sebutan itu. Ternyata seperti ini kejadian di lapangannya. Mereka menyimpan emas, bukan menyimpan uang.


"Jadi... Uang jatah Chandra mau diapakan?" mamah Dinda menunjuk uang yang tertumpuk dalam koper, bagian paling kiri.


"Menurut Mamah?" aku tidak paham, jika tidak dibimbing.


"Bikin tabungan buat Chandra. Isinya uang dari jatah Givan. Kau setor ke Bank, pas Givan ngasih uang lagi. Kan lama-lama kumpul tuh nanti, bisa buat pendidikan Chandra, atau biaya Chandra sunat nanti."


"Bang Daeng juga marah sih, Mah. Dia tersinggung, segala bilang jangan nerima sumbangan dari mas Givan."


"Daeng ini siapa? Suami kau katanya Lendra? Udah dua kali loh, kau nyebut Daeng terus."


Aku tertawa geli. Ternyata, mamah Dinda tidak mengerti.


"Bang Daeng itu panggilan sayang aku buat bang Lendra. Dulu, dia minta dipanggil Daeng. Daeng Lendra gitu, Mah. Katanya sih, sebutan abang ini daeng dalam bahasa Makassar. Eh, aku telat taunya. Aku udah latah panggil dia bang Daeng. Awalnya pun, dia ketawa terus, kalau aku panggil dia bang Daeng." aku bercerita, sembari cekikikan sendiri.


Mamah Dinda ikut tertawanya saja, "Ya udah, kek gitu aja. Biar Lendra tak tersinggung. Nah, menurut kau. Uang balikan mahar ini, baiknya buat beli furniture rumah kau, atau beli emas aja? Kata Mamah sih, emas kau dari emas batangan aja, minta tante Sheila buatkan perhiasan dari emas itu. Terus, uang balikan mahar itu buat beli furniture. Bukan Mamah tak mau ngasih kau furniture, tapi Lendra udah nolak duluan. Dia ada bilang ke papah, katanya cukup ruko aja, makasih untuk semua kebaikannya."


Jika aku menjadi bang Daeng pun, pasti akan melakukan hal yang sama. Ia malu, karena terus-terusan mendapat uluran dari mantan mertuaku.


"Ya udah, aku ikut ide Mamah aja."

__ADS_1


"Mau furniture gimana? Kayu? Atau bubuk kayu yang dilem gitu? Kek olympic gitu nah."


Aku teringat akan lemari impian seperti milik Giska.


"Kek walk in closed punya Giska, Mah."


Mamah Dinda menyatukan alisnya, lalu ia memasang wajah sedih.


"Mahal." ia berpura-pura menangis kaget.


Aku cekikikan melihat ekspresi beliau, "Tak cukup ya, Mah? Enak deh jadi Giska, kek tuan putri. Kok dia mau ya pindah ke rumah Upin-Ipin?"


"Heh, jangan dikira rumah kayu itu murah. Rumah kayu itu, lebih mahal dari rumah batu bata, apa lagi jenis kayunya yang Zuhdi pilih itu. Kayu ulin kalau tak salah. Segelondong rumah yang jadi kayu itu, belum biaya beton penyangganya, udah sekitar empat ratus jutaan."


Aku melongo tidak percaya. Aku kira, biaya rumah Giska itu terjangkau.


"Nah, lemari Giska itu sekitar seratus jutaan. Itu udah satu gandeng. Lemari baju susun, gantung, lemari tas, lemari sepatu, lemari hijab, laci pakaian d*l*m. Kek pesen gitu, ukurannya disesuaikan sama ruangan penghubung."


Aku jadi ingin menjadi Giska saja.


"Lemari Mamah sama?" tanyaku kemudian.


Mamah Dinda menggeleng, "Lemari Mamah dari semen. Kek sengaja dibuat gitu nah. Tapi tak nampak semennya, soalnya pakai cat khusus, di pakaian pun tak nempel. Mamah ada brangkas tanam, jadi sekalian bikin lemari itu. Berangkas juga kecil, cuma buat stok uang belanja sama perhiasan yang Mamah simpan buat ganti-ganti setiap hari aja."


Aku langsung tersenyum lebar, "Aku mau kek punya Mamah aja. Kan udah lagi finishing tuh, Mah. Bilang Zuhdi ya, Mah? Buatkan lemari kek punya Mamah."


"Mah, ini surat-suratnya. Tolong Mamah minta tandatangan Kin, aku mau ke pabrik lagi. Lagi pun, aku dilarang masuk ke kamar itu."


Kami menoleh cepat pada daun pintu yang sedikit terbuka. Ghifar ada di sana, ia tengah berdiri dengan memperhatikan kami.


Surat apa? Jangan-jangan mereka akan bercerai?


...****************...

__ADS_1


Ishhhh, gak boleh udzon 😣


__ADS_2