
"Maksudnya kek mana, Bang?" aku mengambil posisi, untuk duduk di sebelah bang Daeng.
"Kita nikah besok." bang Daeng tersenyum manis dengan menoleh ke arahku.
"Tapi, Bang...." aku merasa ini terlalu mengejutkan.
"Kenapa? Gak sreg sama keadaan Abang kah? Katanya gak apa, gaji sepuluh juta juga." wajahnya berubah langsung murung.
"Heh, Bang." aku menepuk lengannya, "Bukan masalah gaji. Ini serius kah? Abang buru-buru deh keknya."
Aku pernah menyesal karena terburu-buru.
"Adek minta nikah kan? Pacaran gak mau. Abang laki-laki, gak bisa nahan-nahan terus. Takutnya Abang maksa, karena Abang cinta betul sama Adek." aku melotot mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Ehh." mangge membuang wajahnya ke arah lain.
"Sok lah! Diomongin dulu. Mangge mau ke luar sebentar, beli rokok." lanjutnya dengan berjalan ke arah pintu.
Entah benar atau sekedar alibi. Mangge Yusuf meninggalkan kami berdua di ruang tamu ini.
"Abang buat aku operasi di Samarinda kemarin, apa buat ini?" aku tidak bisa menjelaskan kalimatku begitu rinci. Aku harap, bang Daeng paham maksudku.
Aku memperhatikan ekspresi wajahnya yang berubah-ubah. Aku ingin tahu kesungguhan bang Daeng dan segala sesuatu ia maksudkan untukku. Karena entah mengapa, aku terpikirkan bahwa ia ingin menikahi karena selaput perawan buatan itu.
Dari ucapannya, aku baru tersadar bahwa kami telah melewati banyak waktu bersama dan aku masih terjaga dengan baik.
"Abang gak akan ngebantah, atas tuduhan Adek. Tapi, kalau memang begitu. Harusnya gak ada hari ini. Hari di mana, Abang bawa kau ke mangge, minta dinikahkan ke mangge. Gak akan ada hari ini. Abang cinta sama Adek. Baru sama Adek, sama Chandra, Abang ngerasain kehilangan, ngerasain kangen. Kalau ini bukan cinta, terus apa? Abang baru ngerasain perasaan kek gini. Dari beberapa perempuan yang pernah dekat, cuma Adek yang Abang bawa ke mangge. Tanya mangge kalau gak percaya, ini pertama kalinya buat Abang." lanjutnya dengan mengunci pandanganku.
__ADS_1
"Kalau memang gak ada niat sama Abang. Harusnya, Adek tak perlu ngajak nikah hari itu. Abang jadi berharap kita nikah, Dek." ia tertunduk, suaranya pun menurun.
"Aku harus gimana?" aku tak ingin menyakiti hatinya.
"Adek cinta gak sama Abang?" pandangan mata kami bertemu kembali, ia menggenggam tanganku.
"Aku ragu... Aku...." entah apa yang aku rasakan sekarang.
"Gimana? Coba bilang! Apa ada yang mengganjal di hati?"
Aku menghirup udara lebih banyak. Aku bingung harus mulai berbicara dari mana dulu. Perasaanku campur aduk. Aku masih tersakiti dengan semua yang terjadi padaku.
"Aku pernah baca motivasi gitu. Katanya, kalau udah jatuh cinta ke orang, pasti perasaan sakit hati itu udah hilang. Nyatanya... Sampai saat ini, aku masih nyeri kalau ingat momen disia-siakan mantan suami. Tapi aku ngerasa happy dekat.....
__ADS_1
...****************...
Apa nih kira-kira isi hati Canda? Pada bisa nebak? 🤔