Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD157. Ajakan Ghifar


__ADS_3

**Eh, udah datang aja masanya crazy up 😅


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...


"Kau ada suami, Nis. Sadar diri coba! Lagi pun, Abang masih di kos sama Canda. Kalau memang mau liburan, ya liburan bareng aja. Kok malah minta liburan berdua?" terdengar suara sendok yang beradu dengan kaca. Sepertinya bang Daeng tengah mengaduk mie instannya, atau tengah mengaduk kopi.


"Udah ya? Abang tutup dulu, mau makan dulu. Kabarin aja kalau jadi mau liburan."


Hufttt....


Kak Anisa masih menggilai bang Daeng rupanya. Aku jadi ingin tahu, kenapa bang Daeng digandrungi kaum wanita?


Jika dilihat secara fisik. Dia biasa saja, hanya menang gagah saja. Jika dilihat dari finansial, bang Daeng termasuknya royal, tapi memang tidak kaya.


Apa rayuan bang Daeng begitu maut?


Tapi aku tidak pernah dirayu olehnya.


Aku bergegas menyelesaikan sesi mandiku. Kemudian, aku langsung menutup tubuhku dengan handuk.


Aku melihat bang Daeng tengah makan mie instan, dengan menonton televisi. Sedangkan aku, tengah memilih pakaian di depan lemari yang terbuat dari serbuk kayu ini.


"Mau cari makan di luar, Adek gak bangun-bangun." ungkapnya kemudian.


"Jadi aku makan apa?" aku menoleh ke arahnya.


"Terserah Adek. Gofood aja, Abang yang bayar. Barangkali Adek gak selera makan mie instannya." ia menyuapkan kembali nasi, sebelum dirinya memakan mie instan berkuah kuning tersebut.


Aku hanya mengangguk, karena aku tengah mengenakan pakaian sekarang.


~


Aku merasa malas sekali, saat mulai bekerja. Sudah satu jam bercakap-cakap, tapi bang Daeng belum mendapat kesepakatan dari klien.


Aku memberikan kode pada bang Daeng, agar ia mengerti.


Benar saja, ia langsung mengangguk padaku. Kemudian ia mengambil alih catatanku.


"Gih, jangan jauh-jauh." bisik bang Daeng dengan menggeser posisinya.


Aku mengangguk, kemudian permisi pergi pada klien tersebut.


Bengkulu begitu ramai. Banyak aktivitas orang-orang di siang hari ini. Sampai-sampai jalanan begitu macet, padahal baru pukul sebelas siang.


Di sinilah aku berada, di salah satu coffe shop milik almarhum opah Dodi. Untungnya, coffe shop ini dipegang oleh orang lain. Jadi mereka tidak mengenaliku sama sekali.


"Canda... Kerja kau! Ngapain jalan-jalan?" tegur kak Raya, yang asik video call di satu sudut ruangan terbuka ini.

__ADS_1


"Bentar, Kak. Capek aku." akuku kemudian.


Kak Raya hanya geleng-geleng kepala, dengan aku yang melanjutkan melihat-lihat sekeliling coffe shop ini.


Herannya, aku malah menguap beberapa kali. Aku sudah amat mengantuk, tetapi pekerjaan masih banyak. Karena jam dua belas dan satu siang kami masih memiliki janji temu, belum lagi jam tiga sore nanti bang Daeng diminta untuk cek ke lokasi SDA. Sepertinya kami akan bekerja sampai malam.


Aku memilih duduk di bangku kosong yang tidak berpenghuni. Lalu aku bermain ponsel. Seperti biasa, story aplikasi chat Ghifar adalah hal yang paling aku buru. Aku senang melihat keceriaan Chandra, aku suka melihat interaksi Chandra dengan orang-orang di sekitarnya.


Terlihat Ghifar membuat story dengan fotonya bersama semua anak-anak yang ia bawa. Di slide story selanjutnya, terlihat Kinasya yang tengah mengasuh anak-anak.


Mataku hampir terlepas, saat melihat Kalista diangkat oleh Kinasya dengan ditarik baju bagian belakangnya. Namun, hal itu membuat Kalista malah tertawa renyah. Mungkin Kinasya memang dalam posisi kesusahan, karena tangan kirinya tengah menggendong bayi.


Atlet lulusan kedokteran, anti mainstream ngasuhnya.


Caption pada video singkat tersebut.


Mantau terus. Kapan telpon?


Hah? Aku langsung membuka pesan yang muncul di atas layar tersebut. Itu adalah pesan dari Ghifar.


Chandra lagi apa?


Balasku kemudian.


Beberapa saat kemudian, langsung masuk pesan dari Ghifar kembali.


Tidur lah, sekarang jam sebelas malam. Kita semua mungkin pulang lebih cepat, Giska lahiran. Mamah papah pun pulang juga. Usaha di sini diurus sama Sifa dan Huna, anaknya ayah Jefri. Udah stabil, tapi masih harus dipantau juga.


Hal ini pasti terjadi, tapi aku tak menyangka bahwa terjadi lebih cepat. Harusnya aku ingat, jika mamah Dinda turun tangan untuk pekerjaan pasti proyek tersebut cepat stabil.


Nanti aku jemput kau, Canda. Share lokasi aja. Nanti pas turun pesawat di bandara Jakarta, aku langsung ambil penerbangan lagi buat jemput kau. Capek kan kerja? Gimana kalau aku yang nafkahi aja?


Belum juga aku membalas, aku langsung dibuat tersedak oleh nafasku sendiri.


Maaf, Far. Tak sepatutnya kau bilang kek gitu. Kasian Kin. Kau tak buka mata kah? Bagaimana cara Kin ngurus kau? Itu tak ada kurang-kurangnya, Far.


Aku memilih untuk membalas dengan kalimat ini.


Biar itu jadi urusan aku. Pokoknya nanti aku jemput kau sekalian. Nanti aku kabarin kau, kalau aku udah ambil penerbangan dari Brasil. Biar kau bisa siap-siap, masanya aku jemput kau.


Opsi dijemput Ghifar, menurutku bukan pilihan terbaik. Aku akan ke sana dengan bang Daeng saja.


Biar aku datang sendiri ke rumah, Far. Lebih baik kau langsung pulang aja.


Aku membalas hal ini.


Pokoknya aku kabarin nanti kalau aku ambil penerbangan dari sini. Pesan ini dihapus aja, jangan sampai kau screenshot terus kirim ke Kin. Aku takut tak bernafas lagi nanti.

__ADS_1


Membagongkan.


Gayanya ia ingin menafkahiku, nyatanya ia tetap takut dengan Kinasya.


Ya, Far. Nanti aku prepare buat ke sana.


Aku pun bergegas menghapus pesan ini. Pasti bang Daeng salah paham nanti, jika sampai ia membaca isi chatting ini.


Saat aku mengedarkan pandanganku. Aku melihat bang Daeng tengah berjalan beriringan dengan klien tersebut.


Mau ke mana suamiku?


Ohh, ternyata bang Daeng mengantar klien wanita paruh baya tersebut ke parkiran.


Lalu bang Daeng menoleh padaku dengan mengembangkan senyumnya. Terlihat kak Raya pun merapat ke arah tempatku. Pasti ia ingin mendengar hasil perbincangan bang Daeng tadi.


"Dikasih ini, Abang kira dapat tips." ungkap bang Daeng dengan duduk di bangku yang berada di depanku.


"Ehh, mana laptop kau?" tanya kak Raya kemudian.


"Ehh, iya. Masih di sana. Tolong ambilkan, Ya." pinta bang Daeng pada kak Raya.


Untungnya coffe shop ini sepi. Ceroboh betul bang Daeng ini.


"Dikasih apa, Bang?" tanyaku kemudian, karena ia fokus pada secarik kertas tersebut.


"Kalau mau ibu tandatangani kontrak kerjasamanya. Malam nanti datang ke ke hotel M*rcure, langsung masuk aja ke kamar nomor seratus empat puluh lima."


Tawa bang Daeng lepas tak terkendali, "Dia kira Abang gigolo apa." ucapnya kemudian.


"Apa, Len?" kak Raya sudah kembali dengan perlengkapan kerja kami.


"Diminta aku datang ke kamar hotel, baru mau ditandatangani katanya. Udah paham aku, mau disuruh apa nanti aku di kamar hotel." jelas bang Daeng pada kak Raya.


"Coba liat." kak Raya merebut secarik kertas tersebut, lalu ia membacanya.


"Biasanya kau mau, Len." ungkap kak Raya dengan memperhatikan wajah bang Daeng.


Benarkah suamiku seperti itu?


Aku memperhatikannya yang tengah beradu tawa dengan kak Raya.


Sungguh, ini tidak lucu.


Bang Daeng suamiku. Aku tidak mau membagi suamiku. Apa lagi, hanya untuk tandatangan kontrak kerjasama saja.


...****************...

__ADS_1


Ada realnya begini loh di dunia bisnis. Apa lagi kalau yang butuh tandatangannya perempuan cantik, terus kliennya laki-laki.


Canda nguap terus ya, lagi kerja juga.


__ADS_2