Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD362. Kembali ke rumah megah


__ADS_3

"Yang udah-udah tak usah dibahas, Bu. Candanya pun udah biasa aja."


Seiring berjalannya waktu, memang aku sudah tidak terlalu mengingat pemerkosaan itu. Tapi jika di ranjang ada paksaan, aku teringat kisah kelamku kembali.


"Iya, Bu. Udah lama juga kejadiannya." aku menambahi ucapan mamah Dinda.


"Pihak yang bersalah sih, makanya milih udah aja."


Bibi Hana ini benar-benar tidak tahu tabiat mamah Dinda, atau memang ingin menciptakan keributan di sini?


"Pihak yang bersalah juga, Saya malah milih memenjarakan anak. Ketimbang nikahin Canda, dengan pelaku yang bikin dia trauma dulu. Kau tak bakal tau, gimana susahnya Canda menyesuaikan hidup dengan pelaku kejahatan untuk dirinya sendiri. Kau tak bakal tau, gimana berbusanya mulut aku, nasehatin manusia-manusia yang menikah karena terpaksa itu. Kau pikir Givan dulu siap nikah sama Canda? Tak juga tuh! Itu kan semata-mata karena tuntutan kau aja, karena kejadian Canda sampai masuk berita. Kau malu dan kau tak mau urus keponakan kau sendiri. Aku tau ya, Bu Ummu ini ngirim yang tiap bulannya buat kau. Pemikiran yang berjalan di otakku. Bu Ummu ngirim, dengan jumlah yang lain ketika sampai di tangan Canda. Kau capek kan direpotkan keponakan yang punya kasus pemerkosaan ini?!"


Meledak sudah.


Ke mana ya pawangnya?


"Ndhuk...." ibu memandangku penuh kaget.


Ibu tidak tahu cerita di balik aku menikah dengan mas Givan dulu. Yang ia tahu, hanya kabar menikah tanpa alasan di dalamnya. Otak dari semua ini, adalah bibi Hana. Ia berkata jangan menceritakan semuanya, biar ibuku tidak stress di sana.


"Yaaa... Kan. Dengan Canda menikah, cap jelek tentang dia udah gak ada lagi. Canda udah tanggungan jawab suaminya. Canda bakal tenang kalau ikut mertuanya."


"Dan mertuanya kali ini mau ambil dia lagi, tapi sekarang kau ngelarang?!" seru mamah Dinda.


"Udah, Mah. Tak perlu diperpanjang." aku menyentuh lengan beliau, mencoba menenangkan beliau.


Namun, mamah Dinda malah menoleh ke arah ibu yang masih kebingungan di sini.

__ADS_1


"Itu tuh, Bu. Adik Ibu yang selalu Ibu percaya seratus persen. Di saat Canda punya trauma pemerkosaan, dia malah nyuruh Canda buat nikah sama pelaku dan ikut orang tua pelaku? Ibu coba mikir dari sisi Canda. Kuatkah batin dia? Apa tak bergetar dia setiap kali liat pelaku terus-terusan nidurin dia, karena kewajiban suami istri? Apa tak coba pikir, gimana takutnya Canda tiba-tiba ikut keluarga yang asing untuknya? Apa tak tertekan hari-harinya, menyesuaikan diri dengan laki-laki yang sifat angkuhnya lebih dominan? Apa tak gila dia, di mana pacarnya tinggal satu rumah dengan suami yang memperkosanya juga? Aku tak cuma diam, terus minta Canda mengerti keadaan. Radang tenggorokan aku kasih paham Canda. Beribu kali, aku minta dia untuk buka lembaran baru. Beratus kali, aku minta sabar, ikhlas dan tabah."


Aku teringat di titik itu. Kenyataan itu, seperti luka bengkak yang ditusuk. Aku ingat sakitnya lagi.


Aku menyentuh lengan beliau, "Udah, Mah. Tak usah dibahas terlalu jauh. Aku jadi ingat sakitnya lagi."


Mamah Dinda menoleh cepat ke arahku. Kemudian, beliau memandang ibu dan bibi Hana bergantian.


"Ya udah kau ambil pakaian kau satu atau dua pasang, Mamah tunggu di sini. Biar Mamah nyuruh orang aja, buat beres-beres ruko kau." mamah Dinda hanya berbicara padaku, dengan nada yang menyesuaikan.


"Ya, Mah." aku menjawab dengan segera berlalu pergi.


Entah percakapan apa lagi, karena aku terus mendengar pantulan suara. Apa ibu dibuat menangis? Atau mamah Dinda masih tidak suka saja dengan lontaran dari bibi Hana?


Aku memasukkan beberapa pakaianku ke tas belanja berlogo minimarket. Jika pakaian anak-anak, sudah banyak yang tertinggal di rumah mamah Dinda. Apa lagi Chandra, yang memang diambil alih sejak aku berjualan.


Ibu tengah ditenangkan oleh mamah Dinda?


Apa perdebatan tadi masih berlanjut?


"Saya gak tau apa-apa tentang penderitaan anak Saya, Bu. Yang Saya tau tentang dia, Canda nikah dengan pacarnya yang dikenalnya di kendaraan umum. Saya berpikir Canda hidup bahagia, karena menikah dengan pacarnya yang dia suka."


Saat di rumah sakit dulu. Bibi Hana memang beralibi pada mamah Dinda, bahwa ibu mengetahui kabar ini juga lalu meminta untuk menikahkan aku dengan pelaku. Sebenarnya, itu rencana bibi Hana. Ibu tidak tahu apa-apa tentang permasalahan itu.


"Yang udah ya udah, Bu. Setelah Givan sama Canda nikah cerai, mereka malah lebih dekat. Udah kek kakak beradik, Canda pun udah biasa aja liat tingkah polah hidupnya Givan. Doain aja, rumah tangganya kali ini bahagia. Kasian anak-anak, butuh peran orang tua yang lengkap."


Benar kata mamah Dinda.

__ADS_1


Jika aku adalah Canda yang dulu. Aku akan menangis ditinggal di pelaminan seperti sore tadi, dengan suamiku yang malah kabur untuk periksa gigi.


Namun, aku malah ingin tertawa di sini. Pernikahanku kali ini, dibumbui drama obat yang terus disemprotkan ke gigi mas Givan dan juga rintihan mas Givan tentang nyeri di giginya.


Aku memaklumi ia meninggalkan pelaminan, semata-mata karena dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit di giginya.


"Yang tenang ya, Bu? Canda pasti bahagia kali ini. Kalau tak, biar Saya ambil balik Canda dari Givan tanpa perceraian." ujar mamah Dinda dengan mengusap kedua bahu ibuku.


"Ya jangan begitu, Mah. Kita harapkan kebahagiaan untuk mereka berdua." ibu terlihat sudah mulai tenang.


Mamah Dinda kini beralih menatapku yang sedari tadi hanya menontonnya saja.


"Dek...." mamah Dinda mengisyaratkan aku untuk mendekati ibu.


Aku mengangguk, dengan mamah Dinda yang langsung bangkit dari posisinya.


Aku segera memeluk ibu, "Pamit dulu ya, Bu. Tiap jam ke sini pun, aku mampu kok." aku tersenyum lebar.


Ibu malah terkekeh kecil, "Iya, Ibu tau. Ya udah sana ikut Mamah." ibu melirik mamah Dinda sekilas.


Aku mengangguk, sebelum pergi aku menyempatkan mencium tangan dan wajah ibuku.


Hingga sampailah aku di keramaian rumah megah. Semua mata menatapku, tidak terkecuali dengan seluruh mantan ipar yang kini kembali harus memanggilku kakak.


...****************...


Ipar lama rasa baru 🤭

__ADS_1


__ADS_2