
"Kalau pakai mobil Papah, tak mungkin tuh serepot itu. Order ojek, cuma bawa belanjaan. Perjalanan jauh, naik motor. Udah kek mudik lebaran." komentar papah Adi, yang membantu menurunkan barang dari ojek online yang kami order.
"Tak tau, Pah. Kenapa tiba-tiba belanjaan menggunung aja." sahutku dengan mengambil alih Chandra yang pulas.
"Udah kau masuk sana! Rebahan, istirahat." pinta papah, dengan melirikku marah.
Aku kena semprot ternyata.
Papah tidak suka, dengan aku yang berpergian lama dengan menggunakan motor.
Setelah membersihkan diri, aku memilih untuk beristirahat ketimbang unboxing belanjaanku. Bukannya aku kelelahan, hanya saja aku mengantuk.
"Ini adalah salah satu cara, agar dapat selang*angan. Gak apa capek berjam-jam di motor, yang penting bisa kl*maks." ujar bang Daeng dengan berkaca di depan cermin.
Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu?
Kemudian ia langsung loncat di atas tempat tidur, dengan wajah semangatnya.
"Berapa bulan berarti? Pas pergi dari Abang, Adek udah berapa bulan?" ia menghitung jarinya sendiri.
"Ish! Chandra bangun lah nanti." aku langsung beringsut dengan menarik selimutku.
"Minggu-minggu lalu, baru masuk kepala, udah kesakitan. Bingung Abang, pusing sendiri." ia menarik selimutku.
"Tak enak loh perutnya, sakit. Ininya juga sakit." aku menggunakan bahasa isyarat saja.
"Mana ini? Coba Abang liat." ia menyibakkan selimutku.
Sejak bang Daeng kembali, kami belum pernah berhubungan badan dengan baik lagi. Aku selalu merasa sakit dan tidak nyaman, saat bang Daeng mencoba menerobosku.
Tadi pun, sudah kami konsultasikan pada dokter kandungan. Ia menjelaskan panjang lebar, yang intinya memang sakit karena aku tengah hamil. Tidak ada jalan keluar yang mujarab, meski dokter sudah meresepkan gel pelumas yang aman untuk k*wanita*n wanita hamil.
"Modus!" aku menahan dadanya.
"Sakit kali Abang, Dek. Pusing, kehidupan Abang gak seimbang. Masa dari jauh sama istri, sampai dekat sama istri, hobi c*li terus. Nanti lecet kulit batang Abang, kan bahaya." ia memasang wajah memelasnya.
"Abang usahain pelan, kek saran dokter. Ya, Dek?"
Aku sadar, ini kewajibanku.
"Ya udah, pelan aja." aku menyetujuinya.
"Okeh, sip. Bilang ya kalau sakit." ia langsung beraksi.
Jujur, c*mbuan bang Daeng selalu menarik seleraku. Hanya saja, aku teringat sakitnya saat batang itu mulai masuk. Aku terngiang-ngiang dengan rasa tidak nyaman itu.
"Adek cantik, anak Mangge. Mangge tengokin dulu ya? Jangan nakal ya, Nak. Anteng ya, Nak." bang Daeng menciumi perutku.
Tangannya mengusap-usap lembut, hingga usapan itu kian turun ke bawah.
__ADS_1
Bang Daeng menjejakkan ujung l*dahnya di sana. Tangannya terulur, mengusap perutku.
"Kl*maks itu bagus untuk ibu hamil loh, Dek." ia menegakkan punggungnya.
"Masa?" aku membingkai wajahnya.
"Iya lah." ia mengajakku beradu bibir.
Sudah kuduga, batangnya tengah mencoba menerobos perlahan. Bang Daeng terlihat begitu menikmati, berbeda dengan aku yang harus memikirkan merilekskan diriku sendiri. Agar rasa sakit itu, tergantikan dengan rasa nikmat.
"Pelan nih." ia merapihkan rambutku.
"Jangan terlalu dalam, Bang." aku mengusap-usap dadanya.
"Siap."
Tiba-tiba gelap, karena bang Daeng mematikan lampu tidur kami. Liar sudah khayalannya, karena ia mulai begitu beringas dengan tubuhku. Meski gerakannya kalem dan menghanyutkan, tetapi begitu terasa sampai ke sumsum tulangku.
~
Sarapan pagi yang menegangkan. Mas Givan malah menyantap masakanku, tanpa menyisakannya untuk bang Daeng. Apa maksudnya coba? Jelas-jelas itu bukan sajian untuknya.
"Mah, minta minum." ucap mas Givan, di tengah kesunyian suara manusia ini.
Mamah Dinda langsung memberikan mas Givan minum air putih. Mas Givan pun, langsung lanjut makan.
"Khe..." raja merengek itu sudah bangun.
"Tuh, Jagoan bangun tuh." ujar papah Adi.
"Biar Abang aja, Dek." bang Daeng meninggalkan piringnya yang sudah terisi nasi putih.
Bang Daeng langsung naik ke lantai atas. Terdengar Chandra berbicara dengan kosa katanya. Lalu terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali.
Sepertinya bang Daeng memilih untuk memandikan Chandra. Ia kesal dengan keadaan ini, itu menurutku.
Semua orang, termasuk mamah Dinda. Sepertinya tidak menyadari, bahwa piring sarapan bang Daeng masih utuh. Mereka pun, larut dalam santapan masing-masing. Aku memilih segera membereskan semuanya. Aku akan membujuknya untuk sarapan di luar saja.
Mungkin salahku juga, pagi ini memasakkan tumis toge dan ayam goreng untuk bang Daeng. Aku melupakan, bahwa mas Givan begitu doyan dengan tumis toge. Mungkin juga aku yang bersalah, karena memasaknya tidak terlalu banyak. Tapi, ada alasan di balik itu semua. Masalahnya, orang rumah tidak begitu doyan dengan tumis toge. Aku berpikir, masakanku tidak akan habis. Karena anggota keluarga yang lain tidak memakannya.
"Mau ke mana, Canda? Sini dulu." ucap mas Givan, saat semua orang sibuk bolak-balik ke dapur untuk menaruh piring kotor dan lauk yang masih tersisa.
"Kenapa, Mas? Aku mau urus Chandra. Ibu megang Ziyan sama Zio, jadi Chandra balik sama aku." tidak benar juga, karena Chandra masih sering bersama ibuku.
"Nah, itu. Aku mau ngomongin itu." mas Givan membuka pintu kamarnya.
Tunggu dulu.
Aku yakin, mas Givan tidak bermaksud menjebak. Namun, pasti akan menjadi salah paham.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruang tamu aja, Mas. Perut aku begah, gerah juga, pengen ngerasain sepoi-sepoi angin." dalihku kemudian.
"Masalahnya ini uang, sensitif untuk orang luar. Memang, mereka tak akan minta. Tapi tak enak aja, kalau dibicarakan di depan umum." terangnya kemudian.
"Aku ajak mamah ya? Aku tak pandai hitung-hitungan." mamah Dinda akan kutarik jika mas Givan mengiyakan.
"Ya udah, gih panggil." mas Givan masuk ke kamarnya lebih dulu.
Sejak tadi, mas Givan tidak terlihat wajah sedih atau frustasi. Saat mengetahui, ternyata istrinya masih dipenjara sampai sekarang.
"Mah... Dipanggil mas Givan." aku mendapati beliau tengah berada di depan lemari pendingin.
"Ada apa?" mamah Dinda mengeluarkan sebungkus terong dari dalam lemari es.
Sepertinya, beliau hendak memasak makanan kembali.
"Ngomongin uang, Mah." sebenarnya aku tidak tahu pasti.
Mamah Dinda mengangguk, lalu berjalan lebih dulu. Setelah menaruh terong tersebut, di dekat bumbu dapur.
"Mana Givannya?" aku membuntuti beliau.
"Di kamar, Mah." jawabku kemudian.
Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di atas ranjang tidur mas Givan. Pintu pun terbuka lebar, mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Aku kan udah cerita tadi malam kan, Mah?"
Mamah Dinda langsung mengangguk.
"Aku cairin begitu turun pesawat. Lama betul prosedurnya, padahal uang aku sendiri." ujar mas Givan kembali.
Terlihat uang yang berada di dalam ransel tersebut. Mas Givan mengeluarkannya beberapa gepok saja.
"Coba hitung, Canda. Yang paling atas ini, tadinya udah aku hitung senilai mahar kau dulu yang pernah aku jual." ia langsung menaruh segepok uang tersebut di depanku.
Lalu, ia mengangkat satu ransel penuh.
"Ini, aku cicil segini dulu Mah. Berapa triliun uang papah yang belum balik? Ini sekitar satu miliar lebih." ujarnya yang diangguki mamah.
"Kau belum cerita masalah uang ini. Kau semalam cerita tentang keadaan PT kau aja." mamah Dinda mengintip isi ransel tersebut.
"Jadi, biar PT terlihat seolah benar-benar bangkrut dan disita. Adik-adik aku di sana, bekukan semua tabungan aku. Kan masih ada uang itu, Mah. Nah terus, lewat beberapa prosedur, nyerahin surat ini dan itu, uang aku bisa diambil dari Bank. Bisanya aku sampai serepot ini, cairin uang terus masukin ke tas gini, karena itu jalan yang paling aman. Aku cairkan, terus aku buat semuanya baru lagi. Tapi, itu belum aku lakuin. Aku begini pun, biar tabungan aku yang ini tak lewat pemeriksaan pihak dari sana. Karena ini benar-benar punya aku, hasil tabungan aku, bukan barang sengketa."
Jujur, aku tidak mengerti maksudnya. Itu terlalu berbelit-belit.
"Nah, terus. Ini...." mas Givan memberiku uang lagi, yang berasal dari paper bag yang berada dekat dengan kepala ranjang.
...****************...
__ADS_1
🤑 minta, Van 😉