Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD80. Benedikta Benoit


__ADS_3

Kami menoleh secara bersamaan pada Ferdi.


"Bukan kek gitu Ferdinan Sembiring Perdana." ujar bang Daeng seperti protes.


Nama mereka unik-unik. Menurutku, sepertinya mereka non muslim.


Memang, sebuah nama tak menentukan agama. Tapi rasanya, namanya tidak biasa aku dengar.


Nama dari Dikta sendiri, Benedikta Benoit. Aku merasa terlempar pada film Ashoka. Aku jadi teringat akan ibu suri dari Yunani itu.


Lalu nama suami Dikta, Ferdinan Sembiring Perdana. Perdana memang tidak terlalu unik, nama itu umum digunakan. Hanya saja, Sembiring ini baru aku dengarkan seumur hidup.


"Ahh, beda! Yang kemarin biar lepas, yang sekarang biar gak dilepas." terang Ferdi dengan melirik sinis pada bang Daeng.


"Apanya?" bang Daeng tertawa renyah, sembari melemparkan kulit pisang ke arah Ferdi.


Tapi ngomong-ngomong, mujur juga nasib Dikta. Ia mendapat dokter yang merawatnya. Bisa dibilang, ia adalah penyintas baby blues. Biar tidak kasar didengar. Namun, hebatnya nasib membawanya di tangan yang tepat.


"Nikah dari kapan, Bang?" aku menoleh ke arah Ferdi.


"Udah tujuh bulan. Sekarang lagi ngandung dua bulan. Tapi belum ngerti hamil. Pelan-pelan aku kasih paham dia. Soalnya kalau liat bayi, dia kek murung gitu. Padahal sih udah sembuh, tapi takut aja." jelasnya dengan memperhatikan istrinya sesekali.


"Di refresh otaknya ya, Fer?" ujar bang Daeng sembari terkekeh.

__ADS_1


"Fresh, keluaran pabrik. Kek anak-anak lagi. Memori dewasanya belum keisi. Masa dia dewasa kan, ada di rumah sakit itu." Ferdi berbicara sedikit pelan.


Aku paham, apa yang dimaksud dengan rumah sakit itu.


"Iyalah, tiga belas tahun udah hamil. Empat belas tahun udah hilang waras. Jadi mentok pikirannya, udah sampai situ aja." ungkap bang Daeng membuatku begitu kasihan pada Dikta.


"Hati-hati, Kak. Dikta aja bisa dibuatnya gila." ucap Ferdi dengan terkekeh kecil.


Aku tidak bisa menyambung tawa Ferdi. Ucapannya menyadarkanku tentang diriku sendiri, aku tak mau terlalu dekat dengan bang Daeng. Ia seperti belut di dalam kubangan lumpur, ia licin dan sulit didapatkan.


"Jangan sampai kek Enis. Bukan maksud hati ghosting. Tapi paham keadaan, bahwa masa lalu pasangan terkadang sulit diterima seseorang." bang Daeng menggenggam punggung tanganku.


Pandangan kami bertemu. Entah mengapa, aku merasa rasa yang aku tolak kenyataan di dalam hatiku ini terbalas olehnya.


"Yang... Daeng...." teriak Dikta yang membuat kami panik.


"Ya ampun, kolam selutut aja segala pengen nyemplung." bang Daeng berjalan cepat ke arah kolam.


"Aduh, aduh, aduh...." Ferdi malah menirukan suara DJ. Ia bergerak cepat untuk membawa istrinya naik ke atas.


"Ngapain, Sayang?" Ferdi berhasil membawa Dikta ke tepian kolam.


"Kepleset." Dikta mewek-mewek.

__ADS_1


"Duh, jas Gue... Yuk, ganti baju. Ke rumah sakit dulu, kita lihat perut Dikta." ia membelai wajah istrinya.


"Masha and the bear aman kah?" Dikta berjalan mengikuti tarikan tangan suaminya.


"Aman, Sayang. Aman." sahut Ferdi yang bisa kudengar.


Mereka melenggang pergi meninggalkan kami berdua.


"Bang... Kok dokter mau sama pasiennya?" aku tak ingin memperjelas ucapanku, aku takut ucapanku membuat mereka tersinggung.


Bang Daeng menoleh ke arahku, lalu ia merangkulku untuk menghindar dari teriknya matahari ini.


Ehh, ia melangkah masuk. Tidak duduk kembali di kursi rotan.


"Bang Daeng..." aku sedikit menggoyangkan bahuku, karena ia masih membawaku melangkah. Malah sekarang, kami menaiki tangga.


"Kita ngobrolnya sambil tiduran di kamar Abang." sahutnya kemudian.


Langkahku terhenti, aku menatapnya dengan alis yang menyatu. Bang Daeng terlampau menyepelekanku. Ia kira, aku mau untuk diajak mesum dengannya terus.


...****************...


Jadi gak adegan ranjangnya? 😆

__ADS_1


__ADS_2